PROFESIONALISME KEPALA SEKOLAH DALAM

UPAYA MENINGKATKAN KOMPETENSI GURU

A.           Pendahuluan

Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan nasional pemerintah khususnya melalui Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) terus menerus berupaya melakukan berbagai perubahan dan pembaharuan sistem pendidikan kita. Salah satu upaya yang sudah dan sedang dilakukan, yaitu berkaitan dengan faktor guru. Lahirnya Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pada dasarnya merupakan kebijakan pemerintah yang didalamnya memuat usaha pemerintah untuk menata dan memperbaiki mutu guru di Indonesia. Jika kita lihat realita yang ada sekarang walaupun sertifikasi guru telah dilakukan dan tunjangan profesi sudah dirasakan namun belum banyak berimplikasi terhadap kinerja guru. Sudarwan Danim mengungkapkan (dalam Akhmad Sudrajat ) bahwa salah satu ciri krisis pendidikan di Indonesia adalah guru belum mampu menunjukkan kinerja (work performance) yang memadai. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja guru belum sepenuhnya ditopang oleh derajat penguasaan kompetensi yang memadai, oleh karena itu perlu adanya upaya yang komprehensif guna meningkatkan kompetensi guru.

Guru sebagai tenaga pendidik  mempunyai peran yang sangat strategis dalam pembentukan pengetahuan, ketrampilan, dan karakter peserta didik. Oleh karena itu guru professional akan melaksanakan tugasnya secara professional sehingga menghasilkan tamatan yang lebih bermutu, dan salah satu faktor penting adalah peningkatan kompetensi guru, kompetensi guru tersebut meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi professional.  Menjadi guru yang profesional tidak akan terwujud begitu saja tanpa adanya upaya untuk meningkatkannya, Upaya untuk meningkatkan kompetensi guru dapat dilakukan melalui peningkatan profesionalisme kepala sekolah dimana kepala sekolah merupakan pemimpin pendidikan yang sangat penting karena kepala sekolah berhubungan langsung dengan pelaksanaan program pendidikan di sekolah.

Ketercapaian tujuan pendidikan sangat bergantung pada kecakapan dan kebijaksanaan kepemimpinan kepala sekolah yang merupakan salah satu pemimpin pendidikan. Karena kepala sekolah merupakan seorang pejabat yang profesional dalam organisasi sekolah yang bertugas mengatur semua sumber organisasi dan bekerjasama dengan guru-guru dalam mendidik siswa untuk mencapai tujuan pendidikan. Dengan keprofesionalan kepala sekolah ini pengembangan profesionalisme tenaga kependidikan mudah dilakukan karena sesuai dengan fungsinya, kepala sekolah memahami kebutuhan sekolah yang ia pimpin sehingga kompetensi guru tidak hanya mandeg pada kompetensi yang ia miliki sebelumnya, melainkan bertambah dan berkembang dengan baik sehingga profesionalisme guru akan terwujud.

Karena tenaga kependidikan profesional tidak hanya menguasai bidang ilmu, bahan ajar, dan metode yang tepat, akan tetapi mampu memotivasi peserta didik, memiliki keterampilan yang tinggi dan wawasan yang luas terhadap dunia pendidikan. Profesionalisme tenaga kependidikan juga secara konsinten menjadi salah satu faktor terpenting dari mutu pendidikan. Tenaga kependidikan yang profesional mampu membelajarkan murid secara efektif sesuai dengan kendala sumber daya dan lingkungan. Namun, untuk menghasilkan guru yang profesional juga bukanlah tugas yang mudah. Guru harus harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran siswa. Agar proses pendidikan dapat berjalan efektif dan efisien, guru dituntut memiliki kompetensi yang memadai, baik dari segi jenis maupun isinya.

Namun banyak faktor penghambat tercapainya kualitas keprofesionalan kepemimpinan kepala sekolah seperti proses pengangkatannya tidak trasnparan, rendahnya mental kepala sekolah yang ditandai dengan kurangnya motivasi dan semangat serta kurangnya disiplin dalam melakukan tugas, wawasan kepala sekolah yang masih sempit , serta banyak faktor penghambat lainnya yang menghambat tumbuhnya kepala sekolah yang professional untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Ini mengimplikasikan rendahnya produktivitas kerja kepala sekolah yang berimplikasi juga pada mutu (input, proses, dan output) Berdasarkan uraian tersebut penulis tertarik untuk mengkaji  “Profesionalisme Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Kompetensi Kepala Sekolah”

B. Peranan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kompetensi Guru

Agar proses pendidikan dapat berjalan efektif dan efisien, guru dituntut memiliki kompetensi yang memadai, baik dari segi jenis maupun isinya. Namun, jika kita selami lebih dalam lagi tentang isi yang terkandung dari setiap jenis kompetensi, sebagaimana disampaikan oleh para ahli maupun dalam perspektif kebijakan pemerintah-, kiranya untuk menjadi guru yang kompeten bukan sesuatu yang sederhana, untuk mewujudkan dan meningkatkan kompetensi guru diperlukan upaya yang sungguh-sungguh dan komprehensif.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui optimalisasi peran kepala sekolah. Idochi Anwar dan Yayat Hidayat Amir (2000) mengemukakan bahwa “ kepala sekolah sebagai pengelola memiliki tugas mengembangkan kinerja personel, terutama meningkatkan kompetensi profesional guru.” Perlu digarisbawahi bahwa yang dimaksud dengan kompetensi profesional di sini, tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi semata, tetapi mencakup seluruh jenis dan isi kandungan kompetensi sebagaimana telah dipaparkan di atas.

Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional terdapat tujuh peran utama kepala sekolah yaitu, sebagai : (1) educator (pendidik); (2) manajer; (3) administrator; (4) supervisor (penyelia); (5) leader (pemimpin); (6) inovator; dan (7) motivator;

Merujuk kepada tujuh peran kepala sekolah sebagaimana disampaikan oleh Depdiknas di atas, di bawah ini akan diuraikan secara ringkas hubungan antara peran kepala sekolah dengan peningkatan kompetensi guru.

1.             Kepala Sekolah Sebagai Edukator

Dalam melakukan fungsinya sebagai edukator, kepala sekolah memiliki strategi yang tepat untuk meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan di sekolahnya. Fungsi kepala sekolah sebagai edukator adalah menciptakan iklim sekolah yang kondusif, memberikan nasehat kepada warga sekolah, memberikan dorongan kepada tenaga kependidikan serta melaksanakan model pembelajaran yang menarik, seperti team teaching, moving class dan mengadakan program akselerasi bagi peserta didik yang cerdas di atas normal.

Memahami arti pendidik tidak cukup berpegang pada konotasi yang terkandung dalam definisi pendidik melainkan harus dipelajari keterkaitannya dengan makna pendidikan, sarana pendidikan dan bagaimana strategi pendidikan itu dilaksanakan. Untuk kepentingan tersebut kepala sekolah harus berusaha menanamkan, memajukan dan meningkatkan sedikitnya empat macam nilai, yakni pembinaan mental, moral, fisik, dan artistik.

Sebagai edukator, kepala sekolah perlu selalu berupaya meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh para guru. Dalam hal ini pengalaman akan sangat mendukung terbentuknya pemahaman tenaga kependidikan terhadap pelaksanaan tugasnya. Pengalaman semasa menjadi guru, wakil kepala sekolah atau anggota organisasi kemasyarakatan sangat mempengaruhi kemampuan kepala sekolah dalam melaksanakan pekerjaaannya, demikian pula halnya pelatihan dan penataran yang pernah diikuti.

Upaya yang dapat dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerjanya sebagai edukator, khususnya dalam peningkatkan kinerja tenaga kependidikan dan prestasi belajar anak didik dapat dideskripsikan sebagai berikut.

a.             Mengikutsertakan para guru dalam penataran atau pelatihan untuk menambah wawasannya; memberikan kesempatan kepada guru-guru untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dengan belajar ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

b.             Berusaha menggerakkan tim evaluasi hasil belajar peserta didik agar giat bekerja, kemudian hasilnya diumumkan secara terbuka dan diperlihatkan di papan pengumuman. Hal ini bermanfaat untuk memotivasi para peserta didik agar lebih giat belajar dan meningkatkan prestasinya.

c.             Menggunakan waktu belajar secara efektif di sekolah dengan cara mendorong para guru untuk memulai dan mengakhiri pembelajaran sesuai waktu yang ditentukan.

2.             Kepala Sekolah Sebagai Manajer

Manajemen pada hakekatnya merupakan suatu proses merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, memimpin dan mengendalikan usaha anggota organisasi serta mendayagunakan seluruh sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Dikatakan suatu proses, karena semua manajer dengan ketangkasan dan keterampilan yang dimiliki mengusahakan dan mendayagunakan berbagai kegiatan yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan. Dalam rangka
melakukan peran dan fungsinya sebagai manajer, kepala sekolah perlu memiliki strategi yang tepat untuk memberdayakan tenaga kependidikan melalui persaingan yang membuahkan kerja sama (cooperation), memberikan kesempatan kepada tenaga kependidikan untuk meningkatkan profesinya, dan mendorong keterlibatan seluruh tenaga kependidikan dalam berbagai kegiatan yang menunjang program sekolah.

Sebagai manajer, kepala sekolah mau dan mampu mendayagunakan sumber daya sekolah dalam rangka mewujudkan visi, misi, dan mencapai tujuannya. Kepala sekolah mampu menghadapi berbagai persoalan di sekolah, berpikir secara analitik, konseptual, harus senantiasa berusaha menjadi juru penengah dalam memecahkan berbagai masalah, dan mengambil keputusan yang memuaskan stakeholders sekolah. Memberikan peluang kepada tenaga kependidikan untuk meningkatkan profesinya. Semua peranan tersebut dilakukan secara persuasif dan dari hati ke hati.

Mendorong keterlibatan seluruh tenaga kependidikan dalam setiap kegiatan di sekolah (partisipatif). Dalam hal ini kepala sekolah berpedoman pada asas tujuan, asas keunggulan, asas mufakat, asas kesatuan, asas persatuan, asas empirisme, asas keakraban, dan asas integritas. Sesuai kriteria penilaian kinerja kepala sekolah, maka kepala sekolah perlu memiliki kemampuan dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya dengan baik, yang diwujudkan dalam kemampuan menyusun program, organisasi personalia, memberdayakan tenaga kependidikan dan mendayagunakan sumber daya sekolah secara optimal.

3.             Kepala Sekolah Sebagai Administrator

Kepala sekolah sebagai administrator memiliki hubungan erat dengan berbagai aktivitas pengelolaan administrasi yang bersifat pencatatan, penyusunan, dan pendokumenan seluruh program sekolah. Secara spesifik, kepala sekolah perlu memiliki kemampuan untuk mengelola kurikulum, mengelola administrasi kearsipan, dan administrasi keuangan. Kegiatan tersebut perlu dilakukan secara efektif dan efisien agar dapat menunjang produktivitas sekolah. Untuk itu, kepala sekolah harus mampu menjabarkan kemampuan di atas ke dalam tugas-tugas operasional.

Dalam berbagai kegiatan administrasi, maka membuat perencanaan mutlak diperlukan. Perencanaan yang akan dibuat oleh kepala sekolah bergantung pada berbagai faktor, di antaranya banyaknya sumber daya manusia yang dimiliki, dana yang tersedia dan jangka waktu yang dibutuhkan untuk pelaksanaan rencana tersebut. Perencanaan yang dilakukan antara lain menyusun program tahunan sekolah yang mencakup program pengajaran, kesiswaan, kepegawaian, keuangan dan perencanaan fasilitas yang diperlukan. Perencanaan ini dituangkan ke dalam rencana tahunan sekolah yang dijabarkan dalam program semester atau catur wulan.

Di samping itu, fungsi kepala sekolah selaku administrator juga mencakup kegiatan penataan struktur organisasi, koordinasi kegiatan sekolah dan mengatur kepegawaian di sekolah.

4.             Kepala Sekolah Sebagai Supervisor

Sebagai supervisor, kepala sekolah mensupervisi pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kependidikan. Sergiovani dan Starrat (1993) menyatakan bahwa supervisi merupakan suatu proses yang dirancang secara khusus untuk membantu para guru dan supervisor mempelajari tugas sehari-hari di sekolah, agar dapat menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk memberikan layanan yang lebih baik pada orang tua peserta didik dan sekolah, serta berupaya menjadikan sekolah sebagai komunitas belajar yang lebih efektif.

Supervisi sesungguhnya dapat dilaksanakan oleh kepala sekolah yang berperan sebagai supervisor, tetapi dalam sistem organisasi pendidikan modern diperlukan supervisor khusus yang independen dan dapat meningkatkan objektivitas pembinaan dan pelaksanaan tugasnya. Jika supervisi dilaksanakan oleh kepala sekolah, maka ia harus mampu melakukan berbagai pengawasan dan pengendalian untuk meningkatkan kinerja tenaga kependidikan. Pengawasan dan pengendalian ini merupakan kontrol agar kegiatan pendidikan di sekolah terarah pada tujuan yang telah ditetapkan. Pengawasan dan pengendalian juga merupakan tindakan preventif untuk mencegah agar tenaga kependidikan tidak melakukan penyimpangan dan lebih cermat melaksanakan pekerjaannya.

Pengawasan dan pengendalian yang dilakukan kepala sekolah terhadap tenaga kependidikan khususnya guru, disebut supervisi klinis, yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan profesional guru dan meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pembelajaran efektif. Salah satu supervisi akademik yang popular adalah supervisi klinis, yang memiliki karakteristik sebagai berikut.

a.             Supervisi diberikan berupa bantuan (bukan perintah), sehingga inisiatif tetap berada di tangan tenaga kependidikan;

b.             Aspek yang disupervisi berdasarkan usul guru, yang dikaji bersama kepala sekolah sebagai supervisor untuk dijadikan kesepakatan;

c.             Instrumen dan metode observasi dikembangkan bersama oleh guru dan kepala sekolah;

d.            Mendiskusikan dan menafsirkan hasil pengamatan dengan mendahulukan interpretasi guru;

e.             Supervisi dilakukan dalam suasana terbuka secara tatap muka, dimana supervisor lebih banyak mendengar serta menjawab pertanyaan guru daripada memberi saran dan pengarahan;

f.              Supervisi klinis sedikitnya memiliki tiga tahap, yakni pertemuan awal, pengamatan dan umpan balik;

g.             Adanya penguatan dan umpan balik dari kepala sekolah sebagai supervisor terhadap perubahan perilaku guru yang positif sebagai hasil pembinaan;

h.             Supervisi dilakukan secara berkelanjutan untuk meningkatkan suatu keadaan memecahkan suatu masalah.

Tugas kepala sekolah sebagai supervisor diwujudkan dalam kemampuannya menyusun dan melaksanakan program supervisi pendidikan serta memanfaatkan hasilnya. Kemampuan menyusun program supervisi pendidikan harus diwujudkan dalam penyusunan program supervisi kelas, pengembangan program supervisi untuk kegiatan ekstra-kurikuler, pengembangan program supervisi perpustakaan, laboraturium dan ujian. Kemampuan melaksanakan program supervisi pendidikan diwujudkan dalam pelaksanaan program supervisi klinis dan dalam program supervisi kegiatan ekstra-kurikuler. Sedangkan kemampuan memanfaatkan hasil supervisi pendidikan diwujudkan dalam pemanfaatan hasil supervisi untuk meningkatkan kinerja tenaga kependidikan dan pemanfaatan hasil supervisi untuk mengembangkan sekolah.

Kepala sekolah sebagai supervisor perlu memperhatikan prinsip-prinsip: (1) hubungan konsultatif, kolegial dan bukan hirarkis; (2) dilaksanakan secara demokratis; (3) berpusat pada tenaga kependidikan; (4) dilakukan berdasarkan kebutuhan tenaga kependidikan; dan (5) merupakan bantuan profesional.

5.             Kepala Sekolah Sebagai Leader

Kepala sekolah sebagai pemimpin harus mampu memberikan petunjuk dan pengawasan, meningkatkan kemauan dan kemampuan tenaga kependidikan, membuka komunikasi dua arah dan mendelegasikan tugas. Wahjosumijo (1999) mengemukakan bahwa kepala sekolah sebagai pemimpin harus memiliki karakter khusus yang mencakup kepribadian, keahlian dasar, pengalaman dan pengetahuan profesional, serta pengetahuan administrasi dan pengawasan.

Kemampuan kepala sekolah sebagai pemimpin dapat dianalisis dari aspek kepribadian, pengetahuan terhadap tenaga kependidikan, visi dan misi sekolah, kemampuan mengambil keputusan dan kemampuan berkomunikasi. Sedangkan kepribadian kepala sekolah sebagai pemimpin akan tercermin dalam sifatnya yang: (1) jujur, (2) percaya diri, (3) tanggung jawab, (4) berani mengambil risiko dan keputusan, (5) berjiwa besar, (6) emosi yang stabil, dan (7) teladan.

Dalam implementasinya, kepala sekolah sebagai pemimpin dapat dianalisis dari tiga gaya kepemimpinan, yakni demokratis, otoriter dan bebas. Ketiga gaya tersebut sering dimiliki secara bersamaan oleh seorang pemimpin sehingga dalam melaksanakan kepemimpinannya, gaya-gaya tersebut muncul secara situasional. Oleh karena itu, kepala sekolah sebagai pemimpin mungkin bergaya demokratis, otoriter dan mungkin bersifat bebas. Meskipun kepala sekolah ingin selalu bersifat demokratis, namun seringkali situasi dan kondisi menuntut untuk bersikap lain, misalnya harus otoriter. Dalam hal tertentu gaya kepemimpinan otoriter lebih cepat dan tepat digunakan dalam pengambilan suatu keputusan.

Jika kepala sekolah yang memiliki tiga gaya sebagai pemimpin, maka dalam menjalankan roda kepemimpinannya dapat menggunakan strategi yang tepat sesuai tingkat kematangan para tenaga kependidikan dan kombinasi yang tepat antara perilaku tugas dan perilaku hubungan. Strategi tersebut dapat dilaksanakan dalam gaya mendikte, menjual, melibatkan, dan mendelegasikan.

Gaya mendikte digunakan ketika para tenaga kependidikan berada dalam tingkat kematangan rendah, sehingga perlu petunjuk serta pengawasan yang jelas. Gaya ini disebut mendikte karena pemimpin dituntut untuk mengatakan apa, bagaimana, kapan dan dimana tugas dilakukan. Gaya ini ditekankan pada tugas, sedangkan hubungan hanya dilakukan sekedarnya saja.

Gaya menjual dapat digunakan ketika kondisi tenaga kependidikan berada dalam taraf rendah sampai moderat sehingga mereka telah memiliki kemauan untuk meningkatkan profesionalismenya tetapi belum didukung oleh kemampuan yang memadai. Gaya ini disebut menjual karena pemimpin banyak memberikan petunjuk. Dalam tingkat kematangan tenaga kependidikan seperti ini diperlukan tugas dan hubungan yang tinggi agar dapat memelihara dan meningkatkan kemauan dan kemampuan yang dimiliki.

Gaya melibatkan digunakan ketika tingkat kematangan tenaga kependidikan di sekolah berada pada taraf kematangan moderat sampai tinggi, yaitu ketika mereka mempunyai kemampuan tetapi kurang memiliki kemajuan kerja dan kepercayaan diri dalam meningkatkan profesionalismenya. Gaya ini disebut melibatkan, karena kepala sekolah dengan tenaga kependidikan lain bersama-sama berperan di dalam proses pengambilan keputusan. Dalam kematangan seperti ini upaya tugas tidak digunakan, namun upaya hubungan senantiasa ditingkatkan dengan membuka komunikasi dua arah dan iklim yang transparan.

Gaya mendelegasikan digunakan oleh kepala sekolah jika tenaga kependidikan telah memiliki kemampuan yang tinggi dalam menghadapi suatu persoalan, demikian pula ada kemauan untuk meningkatkan profesionalismenya. Gaya ini disebut mendelegasikan sehingga para tenaga kependidikan dibiarkan melaksanakan kegiatan sendiri melalui pengawasan umum. Para pendidik tersebut berada pada tingkat kedewasaan yang tinggi. Dalam tingkat kematangan yang tinggi, upaya tugas hanya diperlukan sekedarnya saja, demikian pula upaya hubungan.

6.             Kepala Sekolah Sebagai Inovator

Dalam rangka melakukan peranan dan fungsinya sebagai inovator, kepala sekolah perlu memiliki strategi yang tepat untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan lingkungan, mencari gagasan baru, mengintegrasikan setiap kegiatan, memberikan teladan kepada tenaga kependidikan dan mengembangkan modelmodel pembelajaran yang inovatif. Kepala sekolah sebagai inovator dalam meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan akan tercermin dari caranya melakukan pekerjaan secara konstruktif, kreatif, delegatif, integratif, rasional, obyektif, pragmatis, keteladanan, disiplin, adaptable, dan fleksibel.

Kepala sekolah sebagai inovator harus mampu mencari, menemukan dan melaksanakan berbagai pembaruan di sekolah. Gagasan baru tersebut misalnya moving class. Moving class adalah mengubah strategi pembelajaran dari pola kelas tetap menjadi kelas bidang studi, sehingga setiap bidang studi memiliki kelas tersendiri, yang dilengkapi dengan alat peraga dan alat-alat lainnya. Moving class ini biasa dirangkaikan dengan pembelajaran terpadu, sehingga dalam suatu laboratorium bidang studi dijaga oleh beberapa guru yang bertugas memberikan kemudahan kepada peserta didik dalam belajar.

7.             Kepala Sekolah Sebagai Motivator

Sebagai motivator, kepala sekolah memiliki strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada para tenaga kependidikan dalam melakukan berbagai tugas dan fungsinya. Motivasi ini dapat ditumbuhkan melalui pengaturan lingkungan fisik, suasana kerja, disiplin, dorongan, penghargaan secara efektif dan penyediaan berbagai sumber belajar melalui pengembangan Pusat Sumber Belajar (PSB).

Dorongan dan penghargaan merupakan dua sumber motivasi yang efektif diterapkan oleh kepala sekolah. Keberhasilan suatu organisasi dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor yang datang dari dalam maupun datang dari lingkungan. Dari berbagai faktor tersebut, motivasi merupakan suatu faktor yang cukup dominan dan dapat menggerakkan faktor-faktor lain ke arah keefektifan (effectiveness) kerja, bahkan motivasi sering disamakan dengan mesin dan kemudi mobil, yang berfungsi sebagai penggerak dan pengarah.

Setiap tenaga kependidikan memiliki karakteristik khusus, yang berbeda satu sama lain, sehingga memerlukan perhatian dan pelayanan khusus pula dari pimpinannya agar memanfaatkan waktu untuk meningkatkan profesionalismenya. Perbedaan tenaga kependidikan tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga dalam kondisi psikisnya, misalnya motivasinya. Oleh karena itu, untuk meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan, kepala sekolah perlu memperhatikan motivasi para tenaga kependidikan dan faktor-faktor lain yang berpengaruh.

Terdapat beberapa prinsip yang dapat diterapkan kepala sekolah untuk mendorong tenaga kependidikan agar mau dan mampu meningkatkan profesionalismenya. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:

a.             Para tenaga kependidikan akan bekerja lebih giat apabila kegiatan yang dilakukannya menarik dan menyenangkan.

b.             Tujuan kegiatan perlu disusun dengan jelas dan diinformasikan kepada para tenaga kependidikan sehingga mereka mengetahui tujuannya bekerja. Para tenaga kependidikan juga dapat dilibatkan dalam penyusunan tujuan tersebut.

c.             Para tenaga kependidikan harus selalu diberitahu tentang hasil dari setiap pekerjaannya.

d.            Pemberian hadiah lebih baik daripada hukuman, namun sewaktu-waktu hukuman juga diperlukan.

e.             Usaha memenuhi kebutuhan tenaga kependidikan dapat dilakukan dengan jalan memperhatikan kondisi fisiknya, memberikan rasa aman, menunjukkan bahwa kepala sekolah memperhatikannya, mengatur pengalaman sedemikian rupa sehingga setiap pegawai pernah memperoleh kepuasan dan penghargaan.

Penghargaan penting artinya untuk meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan dan mengurangi kegiatan yang kurang produktif. Melalui penghargaan, tenaga kependidikan dirangsang untuk meningkatkan profesionalisme kerjanya secara positif dan produktif. Pelakasanaan penghargaan dapat dikaitkan dengan prestasi tenaga kependidikan secara terbuka, sehingga mereka memiliki peluang untuk meraihnya. Kepala sekolah harus berusaha menggunakan penghargaan secara tepat, efektif dan efisien untuk menghindari dampak negatif yang ditimbulkannya.

  1. Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulan sebagai berikut :
Untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional salah satu upaya adalah meningkatkan kompetensi guru

  1. Kompetensi guru merupakan gambaran tentang apa yang seyogyanya dapat dilakukan seseorang guru dalam melaksanakan pekerjaannya, baik berupa kegiatan, berperilaku maupun hasil yang dapat ditunjukkan.
  2. Kompetensi guru terdiri dari kompetensi pedagogik, kompetensi personal, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.
  3. Kepala sekolah memiliki peranan yang strategis dalam rangka meningkatkan kompetensi guru, baik sebagai educator (pendidik), manajer, administrator, supervisor, leader (pemimpin),, innovator dan motivator.
  4. Seberapa jauh kepala sekolah dapat mengoptimalkan segenap peran yang diembannya, secara langsung maupun tidak langsung dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kompetensi guru, dan pada gilirannya dapat membawa efek terhadap peningkatan mutu pendidikan di sekolah.

Daftar Pustaka :

Depdiknas. 2006. Standar Kompetensi Kepala Sekolah TK,SD, SMP, SMA, SMK & SLB, Jakarta : BP. Cipta Karya

———–. 2006. Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/07/18/profesionalisme-kepemimpinan-kepala-sekolah ,

http://www.psb-psma.org/content/blog/peran-kepala-sekolah-dalam-meningkatkan-kompetensi-guru ,

Naskah Video

Posted: 26 April 2011 in Tak Berkategori

PEMBUATAN NASKAH VIDIO PEMBELAJARAN

  1. IDENTIFIKASI PROGRAN

STANDAR KOMPETENSI :

Menggunakan bentuk aljabar, persamaan dan pertidaksamaan linier satu variabel, dan perbandingan dalam pemecahan masalah

KOMPETENSI DASAR :

Mengunakan konsep aljabar dalam  pemecahan  masalah  aritmetika  sosial  yang sederhana

JUDUL PROGRAM        : PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL ”PERBANDINGAN”

SASARAN                       : SISWA KELAS VII BIDANG STUDY MATEMATIKA

WAKTU                           : 40 menit

  1. TUJUAN PROGRAM

TUJUAN UMUM

Setelah mengikuti program ini diharapkan siswa kelas VII dapat menggunakan konsep aljabar dalam pemecahan masalah aritmatika sosial yang sederhana

TUJUAN KHUSUS

Setelah mengikuti penyajian ini diharapkan dapat

  1. Memberikan contoh masalah perbandingan dalam kehidupan sehari-hari
  2. Menghitung nilai perbandingan yang diketahui
  3. OUT LINE

Perbandingan

Dalam kehidupan sehari-hari banyak hal yang berkaitan dengan perbandingan.

Untuk memahamipengertian perbandingan perhatikan contoh berikut

Tabungan Ali di Bank Rp. 300.000,- dan tabungan Budi Rp. 450.000,- Berapa perbandingan tabungan Ali dan tabungan Budi.

Tabungan Ali : tabungan Budi = 300.000 : 450.000

Tabungan Ali : tabungan Budi =     2         :      3

Selama satu semester ada tiga kali ulangan matematika nilai Vera dan andi tersusun seperti pada tabel dibawah

PERBANDINGAN SENILAI

Contoh:

Perhatikan tabel berikut!

  1. TREATMENT
Sequence 1Sequence 2

Sequence 3

Sequence 4

Sequence 5

Sequence 6

Sequence 7

Sequence 8

Sequence 9

Program dimulai dengan credit titlo logo lembagaCaption program S2 Tep

Judul program dengan latar belakang kegiatan siswa pagi hari sebelum bel berbunyi tanda masuk pelajaran pertama, beserta musik pengiring

Program dibuka oleh presnter dengan menyampaikan judul program dan tujuan Program

Pembelajaran di SMP Negeri 2 Blega kelas VII dengan materi Perbandingan

Dimulai dari ucapan selamat dari Guru untuk memulai pelajaran

Dan menjelaskan materi yang akan dibahas serta tujuan dari pembelajaran

fase 1 : orentasi siswa kepada Masalah

Tanya jawab tentang kegunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari terutama berkaitan dengan perbandingan

Fase 2 : Mengorganisasi siswa untuk belajar

Pembentukan kelompok belajar, dan siswa mengambil bahan dan alat praktik yang sudah disiapkan, dan mengerjakan lembar kegiatan .

Fase 3 : Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok

Guru membimbing praktik yang dilakukan siswa, baik secara kelompok maupun secara individu.

Fase 4 : Mengembangkan dan Menyajikan Hasil karya

Presentasi siswa, dan guru sebagai moderator membimbing kegiatan tanya jawab

Fase 5 : Menganalisis dan mengevaluasi Proses Pemecahan masalah

Mencari hubungan dengan mata pelajaran lain

Menyimpulakan hasil penelitian

Guru memberi penghargaan pada kelompok terbaik. Dan pelajaran ditutup.

Ucapan terimakasih , credit title, kerabat kerja dan logo

  1. NASKAH

NO

VISUAL

AUDIO

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

FADE INCu caption

Logo Unipa

DISSOLVE

CU CAPTION

Program S2 TEP

DISOLVE

CU CAPTION

Mempersembahkan Pembelajaran Berdasarkan Masalah Bidang study matematika

CUT TO CUT ESTABLISH SHOT

Judul program dengan latar belakang kegiatan siswa pagi hari sebelum bel berbunyi tanda masuk pelajaran pertama.

TRANSISI

IN FRAME

FS. ZOOM IN TO MS

Presnter Membuka acara

Transisi

Kegiatan Pembelajaran didalam kelas di SMP Negeri 2 Blega Bangkalan

Medium Shot (MS)

Dissolve

Dissolve

Knee Shot (Ks)

Medium Shot (MS)

Dissolve

Medium Shot (MS)

Dissolve

Medium Shot (MS)

Full Shot (FS)

Dissolve

Medium Shot (MS)

Close Up (CU)

Kegiatan pembagian kelompok dan pengambilan bahan dan alat praktik, Guru membagiakan lembar kegiatan yang nantinya digunakan untuk menulis/menggambar hasil kerja

Full Shot (FS)

Guru membimbing kegiatan di masing-masing kelompok

Medium Shot (MS)

Guru mendatangi Kelompok lainnya

Dissolve

Medium Shot (MS)

Dissolve

Medium Shot (MS)

Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kegiatannya.

Medium Shot (MS)

Close Up (CU)

Cut to Close Up (CU)

Dissolve

Medium Shot (MS)

Close Up (CU)

Close Up (CU)

Dissolve

Full Shot (FS)

Medium Shot (MS)

Dissolve

Full Shot (FS)

Close Up (CU)

Dissolve

Medium Shot (MS)

Close Up (CU)

Dissolve

Medium Shot (MS)

MS PRESENTER

TRANSISI

CU CAPTION

”Kerabat Kerja”

Cut

FADE IN – UP

CU CAPTION ”Sekian ”

Fade Out

Musik PembukaMars Unipa Surabaya

Musik

Musik

Musik

Musik

Presenter :

Pemirsa ………………, Selamat berjumpa dengan program TV/VIDIO Pembelajaran Matematika. Dengan Materi Perbandingan.

Tujuan Pembelajaran ini adalah Menggunakan konsep perbandingan untuk pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Pemirsa …………, untuk lebih bisa memahami materi ini marilah kita saksikan proses pembelajaran berikut ini,

Selamat Menyaksikan !!!!

Musik

Guru :

Selamat Pagi anak-anak ……………!

Pagi ini pelajaran Matematika kita mengenai perbandingan.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menggunakan matematika untuk menyelesaikan suatau permasalahan.

Siapa diantara yang pernah merayakan pesta ulang tahun ?

Siswa : saya bu !

Guru ; coba Rini, dalam merayakan pesta ulang tahun apa yang perlu dipersiapkan ?

Rini : makanan, kue, balon, dll

Guru : bagus, dan kalau kamu yudi apa yang kamu persiapkan?

Yudi : kue, baju, undangan, dan miniman.

Guru  : Bagus, sekarang kita akan membicarakan masalah minuman yang perlu dipersiapkan dalam pesta ulang tahun, minuman jenis apa yang perlu dipersiapkan kalau akan merayakan ulang tahun.

Siswa : Sirup Bu.

Guru  :sekarang coba kalian pikirkan adakah penggunaan matematika dalam mempersiapkan minuman untuk perayaan ulang tahun ?

Siswa  : ada Bu.

Guru  : Coba Ita, bagaimana ?

Ita  : misalnya jika dalam ulang tahun kita membutuhkan 5 botol sirup sedangkan harga tiap botaolnya Rp. 16.000,- maka kita menggunakan perhitungan matematika untuk mengetahui berapa besar uang yang diperlukan.

Guru : bagus sayang, masih ada pendapat lagi ?

Siswa  : saya bu!

Guru  : coba Amir , bagaimana pendapatmu  ?

Amir  : untuk mengundang teman-teman, apa simpanan saya cukup, karena itu saya membutuhkan perhitungan matematika, untuk menghitung biaya biaya yang diperlukan .

Guru  :

Bagus sekali pendapatmu Amir. Yang baru saja dikemukakan tadi adalah contoh penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Sekarang mari kita akan melakukan beberapa kegiatan untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang perbandingan. Mari kita bagi beberapa kelompok. Dan masing-masing kelompok mengambil bahan yang sudah saya siapkan.

Guru :

kelompoknya ada empat mari kita namakan yaitu kelompok aljabar, geometri, aritmatika dan kalkulus.

Guru :

Nanti setelah selesai masing-masing kelompok mempresentasikan didepan kelas?

Guru :

Hasilnya ditulis dikarton, bagaimana rasanya.

Wakil Kelompok Aljabar :

yang perbandingan 1:1 terlalu manis bu, sehingga menggunakan  perbandingan 1:3 .

Guru :

Kenapa hasilnya begitu ?

Wakil Kelompok geometri

Ia bu karena harga sirupnya Rp. 15.000 per 500 mililiter sedangkan airnya harganya Rp. 3000 per 1500ml

Guru :

Bagus kalau begitu,

Guru : karena waktunya sudah cukup maka masing-masing kelompok mempresentasikannya.

Tolong dipersiapkan di papan tulis hasil diskusinya.

Siswa  : baik bu

Guru  :

sekarang saya minta kelompok Aljabar yang maju dahulu, sedangkan kelompok lain menanggapi atau memberi pertanyaan jika kurang jelas ? silahkan kelompok Aljabar kedepan.

Wk Kelp. Aljabar :

Percobaan kelompok kami yaitu menggunakan perbandingan sirup dan air dengan perbandingan 1 : 3 artinya satu bagian sirup dicampur dengan tiga bagian air, untuk keperluan pesta kami mengundang 30 orang sehingga dibutuhkan 3 botol sirup seharga Rp. 20.000 dan 3 botol 1500 mililiter air seharga Rp. 3.500,- sehingga biaya yang dibutuhkan adalah  Rp.70.500,

Guru  :

ya bagus untuk kelompok aljabar, ………….. ada yang mau memberi pertanyaan atau tanggapan silahkan ?…………………………………………

Coba Aksan apa yang mau ditanyakan ?

Aksan  :

Mengapa menggunakan perbandingan 1 : 3

Wk Kelp. Aljabar :

Karena hasil percobaan kelompok kami dengan menggunakan perbandinga 1:3 selain rasanya enak, warnanya mengandung selera.

Guru  :

Bagus pendapatmu,………………………… selain Aksan siapa yang mau nanya lagi ……………………, apa yang ditanyakan Rini ?

Rini  :

Bagaimana menghitung banyaknya sirup dan air yang dibutuhkan untuk undangan tersebut ?

Wk Kelp. Aljabar :

Setiap gelas dapat diisi dengan 200 ml campuran sirup dan air, maka setiap gelas akan membutuhkan 50ml sirup dan 150ml air, sehingga sirup yang dibutuhkan 50 x 30 gelas = 1500 ml itu sebanyak 3 botol @ 500ml sedangkan air yang dibutuhkan 150ml x 30 gelas = 4.500 ml itu sebanyak 3 botol air mineral @1.500ml

Guru :

Bagus sekali, beri applause untuk kelompok Aljabar.

Sekarang mari kita lihat hasil kelompok lain, …………………….ternyata kelompok geometri dan aritmatika, hasilnya sama dengan kelompok Aljabar ……………… kelompok kalkulus menggunakan perbandingan yang sama tapi nilai uangnya berbeda ……………. untuk itu silahkan maju untuk kelompok kalkulus , silahkan kedepan ……………?

Wkil Kelompk kalkulus :

Kelompok kami menggunakan perbandingan 1 : 3 dengan banyak undangan 30 , sehingga dibutuhkan sirup 3 botol sedangkan campuran airnya kami lebih berhemat yaitu hanya memasak sendiri dengan biaya seluruhnya untuk sirup Rp. 60.000 sedangkan masak air dengan biaya Rp. 2.000,- sehingga total pengeluaran sebesar Rp. 62.000,-

Guru :

Cermat sekali untuk kelompok kalkulus …………

Anak-anak demikianlah tadi kita telah melakukan kegiatan bersama, dari kegiatan tersebut menurut kalian adakah hubungan dengan mata pelajaran lain yang kalian pelajari  ?

Siswa   : ada Bu !

Guru  :

Ya coba Ari di persilahkan ?

Ari  :

Ada bu, yaitu dengan mata pelajaran ekonomi

Guru  :

Kenapa, apa alasannya ?

Ari  :

Pada waktu kita menggunakan biaya sehemat mungkin, maka kita telah menggunakan prinsip ekonomi !

Guru  :

Hebat sekali, beri applause untuk Ari, …………….

Dari kegiatan tadi kesan apa yang dapat kalian petik ?

………………. coba Eka ?

Eka :

Dari kegiatan ini kita dapat mengetahui bahwa dengan menggunakan perbandingan yang baik untuk campuran sirup sehingga kita bisa menghemat biaya untuk pesta

Guru  :

Baik sekali jawabanmu Eka, …………..

Sekarang ibu akan memberi penghargaan pada kelompok terbaik yaitu kelompok ………………. Aljabar, ….. tepuk tangan anak-anak, karena kelompok aljabar lebih aktif dalam berdiskusi,

Guru  :

Sampai disini dulu untuk pertemuan pelajaran matematika hari ini, kita akan bertemu lagi minggu depan, terima kasih selamat pagi !

PRESENTER :

”Pemirsa ….! itulah tadi sajian kami tentang pembelajaran berdasarkan masalah pada bidang study Matematika materi Perbandingan…..

Usai sudah pertemuan kita kali ini , kami yakin sajian ini nantinya akan banyak manfaatnya. Terimakasih selamt berjumpa pada Tayangan yang lain.

Musik

Musik

 

 

 

naskah vidio materi perbandingan

DIMENSI BELAJAR

Posted: 26 April 2011 in Tak Berkategori

INOVASI PEMBELAJARAN MELALUI OPTIMALISASI POTENSI DIRI DAN DIMENSI BELAJAR

Oleh

MOHAMMAD SADALI

ABSTRAK

Pembelajaran berpikir agar anak menjadi cerdas, kritis, dan kreatif, serta mampu memecahkan masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari adalah amat penting, karena itu kita membutuhkan pengetahuan tentang proses belajar utamanya adalah inovasi pembelajaran.Inovasi pembelajaran melalui optimalisasi potensi diri dan dimensi belajar adalah salah satu solusinya, karena potensi yang ada pada diri kita akan memberikan manfaat yang besar jika dikembangkan secara optimal. Optimalisasi potensi diri akan menjadikan kita kreatif, bersemangat dalam berinovasi, memiliki ketajaman analisis, selalu berusaha untuk menemukan peluang, terbuka terhadap hal-hal baru, bersemangat belajar, serta bercita-cita untuk mencapai tujuan pribadi yang mulia, demikian juga dengan Dimensi Belajar karena pembelajaran yang menggunakan dimensi-dimensi belajar itu sebagai premis pembelajaran. Pembelajaran yang berpusat pada lima dimensi itu, niscaya akan memberikan hasil yang lebih baik”

Kata kunci : potensi Diri, Dimensi Belajar

  1. A.    PENDIDIKAN KITA

Dunia Pendidikan kita saat ini banyak menghadapi tantangan diberbagai bidang kehidupan . Perkembangan ilmu Pengetahuan dan teknologi, khususnya dibidang informasi, komunikasi dan transportasi sangat pesat, penggunaan perkembangan teknologi tersebut masih banyak yang disalah gunakan oleh para siswa, dan masih banyak lagi masalah lain yang perlu membutuhkan penyelesaian diantaranya masalah demokrasi yang makin morat marit, masalah hak asasi manusia yang masih banyak KDRT dan penjualan anak dibawah umur, masalah keadilan dan keterbukaan dari para penyelenggara kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara

Rendahnya kecakapan berpikir para siswa masih menjadi keprihatinan masyarakat, terutama kalangan pendidik, masih kontrofersialnya ujian nasional yang nota bene pelaksanaan yang dimana-mana kebocoran soal dan lainnya masih marak. Para ahli Pendidikan mengatakan bahwa proses kegiatan belajar mengajar tradisional yang sampai sekarang masih dominan, belum mampu menumbuhkan kebiasaan berpikir produktif,yakni satu dimensi yang sangat penting dari dimensi belajar itu sendiri, sebagian besar pendidik belum menyusun secara serius pembelajaran yang didasarkan pada proses belajar, karena sebagian besar guru masih kurangnya pengetahuan tentang proses belajar, dan inovasi pembelaqjaran. Hasil belajar anakpun masih sebatas pada tingkat penyerapan informasi , belum mencapai pada tingkat pemahaman, apalagi padfa tingkat penerapan.

Masalah diatas tidak dapat dibiarkan , tetapi perlu dicari solusinya, salah satu solusi tersebut antara lain membuat “inovasipembelajaran melalui optimalisasi potensi diri dan dimensi belajar”.

  1. B.        PENGEMBANGAN POTENSI DIRI

Potensi diri adalah merupakan kemampuan , kekuatan,baik yang belum terwujud maupun yang sudah terwujud yang dimilki seseorang, tetapi belum sepenuhnya terlihat atau dipergunakan secara maksimal

Setiap orang yang dilahirkan ke dunia pastilah memiliki potensi diri merka masing masing. Namun sayangnya, jarang yang menyadari hal tersebut dan bahkan sering banyak yang merasa rendah diri karena menganggap dirinya tak mempunyai kemampuan lebih dibandingkan yang lainnya. Hal tersebut sungguhlah sangat disayangkan. Jarang kita sadari bahwa sebenarnya kendala terbesar manusia justru terletak pada pikiran kita masing masing. Orang yang dapat berpikir besar dan positif  biasanya dapat melakukan hal besar yang menjadi cita cita dan orang yang berpikir kecil dan cenderung negative akan mendapatkan hasil yang sebaliknya.

Potensi diri yang sangat besar dapat dimanfaatkan untuk mencapai kesuksesan, Menurut Prof. Dr. Imam Suyitno,M.Pd (dalam makalah Inovasi melalui optimalisasi diri,2009) potensi yang perlu dikembangkan  adalah :

  1. Potensi berpikir

Pikiran manusia memiliki potensi yang sangat dahsyat, semua produk didunia ini dijadikan, digerakkan, dan dimulai dari alam pikiran manusia. Potensi pikiran dan jiwa akan membantu mencari sasaran sesuai dengan takaran pikiran manusia itu sendiri. Manusia dapat mencapai sukses bukan karena raut mukanya, tetapi karana mental dan pikirannya, karena itu hindari karekteristik pemikir negative, tidak percaya diri, selalu bimbang dan ragu, lunak pada diri sendiri, takut tantangan, dan pasrah pada keadaan.

  1. Potensi menentukan pilihan

Salah satu rahasia kesuksesan adalah kemampuan menentukan pilihan. Hidup sesungguhnya adalah serangkaian pilihan yang dapat kita ambil setiap hari, setiap saat karena kita mempunyai hak dan tanggung jawab atas pilihan kita, satu-satunya hal yang tidak dapat kita hindari adalah membuat pilihan

  1. Potensi berhasrat

Potensi memenuhi keinginan merupakan potensi hasrat yang penuh keyakinan dan keberanian dalam memperjuangkan apa yang menjadi keinginan

  1. Potensi bertindak

Potensi melakukan tindakan merupakan potensi untuk melangkah dalam mencapai suatu target yang diinginkan.

Jika target sudah ditentukan, dan keyakinan untuk memperjuangkan sudah bergemuruh, mulailah melangkah. Jika target sudah ditentukan, tetapi kita tidak bertindak nyata karena takut gagal dan takut menanggung resiko, jangan katakana nasib anda jelek . Beranikan diri untuk mulai melangkah, jangan takut jatuh.

  1. Potensi berjuang

Potensi untuk berjuang yang dimaksud disini adalah kegigihan.

Kesuksesan hari ini tidak berarti  besok kita akan meraih sukses lagi. Tanpa kesiapan diri dan berjuang lebih keras, sukses akan sulit kita pertahankan. Begitu pula kegagalan hari ini, belum tentu besok kita gagal. Selama masih ada semangat untuk berbenah diri dan target besar untuk diraih, sukses besar selalu menanti kita. Kehidupan akan terus berubah. Hanya manusia yang mempunyai kegigihan dan sikap mental untuk belajar dan memperbaiki diri secara konsisten yang bias tetap eksis dan sukses dalam menghadapi setiap perubahan yang terjadi. Kegagalan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Kegagalan adalah sarana intropeksi diri untuk berusaha lebih keras karena kegagalan adalah bagian kecil dari sebuah kegagalan. Sukses sejati adalah akumulasi dari kegagalan-kegagalan yang mampu diatasi, yang terpenting bukan seberapa sering kita terjatuh dan gagal, tetpi seberapa gigih kita berjuang untuk mampu bangkit kembali, jangan takut menderita karena hanya penderitaan hidup yang dapat mengajarkan kepada manusia akan arti keindahan dan nilai kehidupan

  1. Potensi berkribadian

Potensi kepribadian bberpengaruh besar terhadap kesuksesan.

Kita harus kaya mental yakni tantangan, berkompetensi, penuh tanggung jawab, disiplin., cinta pada pekerjaann, penuh loyalitas dan dedikasi, mau bekerja keras, mudah bekerja sama, antusias , ulet, dan pantang menyerah.

  1. Potensi berkomitmen

Potensi komitmen berarti potensi untuk berani memperjuangkan target besar yang dibuat sampai sukses, komitemn untuk melangkah dan menjalankannya.

Sejumlah potensi yang ada pada diri kita akan memberikan manfaat yang besar jika dikembangkan secara optimal. Optimalisasi potensi diri akan menjadikan kita kreatif, bersemangat dalam berinovasi, memiliki ketajaman analisis, selalu berusaha untuk menemukan peluang, terbuka terhadap hal-hal baru, bersemangat belajar, serta bercita-cita untuk mencapai tujuan pribadi yang mulia, namun yang sering terjadi kita didominasi oleh kebiasaan diri yang lemah. Kita sering membiarkan diri kita untuk kurang disiplin, tidak focus, kurang konsisten, tidak berani mencoba atau tidak berani ambil resiko. Pada kasus ini potensi-potensi diri yang istimewa sulit berkembang karena kelemahan-kelemahan yang tidak bias dikendalikan atau dikelola dengan baik.

Menurut Adi W. Gunawan dalam (www.adiwgunawan.com).Ada lima kekuatan yang bisa digunakan untuk mengembangkan potensi diri.

  1. Kekuatan Keyakinan atau The Power of Belief. Keyakinan adalah fondasi untuk melakukan apa saja. Kita baru akan bertindak bila kita merasa yakin mampu melakukan sesuatu. Jika tidak yakin maka upaya yang kita lakukan akan dikerjakan dengan setengah hati. Dan kita tahu, apapun yang dilakukan dengan setengah hati, tanpa kesungguhan, maka hasilnya pasti tidak akan pernah maksimal. Seringkali upaya kita, jika diawali dengan perasaan tidak yakin, akan berakhir dengan kegagalan. Yakin yang dimaksudkan di sini adalah yakin yang berlandaskan kebijaksanaan dan akal sehat.
  2. Kekuatan Semangat atau The Power of Enthusiasm. Yang menjadi komponen atau bagian dari Kekuatan Semangat adalah konsistensi, persistensi, kegigihan, atau whatever it takes.Tindakan yang dilandasi dengan suatu keyakinan yang teguh, bahwa kita pasti bisa berhasil, pasti akan dilakukan dengan penuh semangat. Semangat ini sebenarnya adalah motivasi intrinsik atau dorongan bertindak yang berasal dari dalam diri kita. Kekuatan Semangat ini yang membuat seseorang akan terus mencoba walaupun telah gagal berkali-kali. Kekuatan Semangat ini yang mendasari peribahasa “Tidak ada yang namanya kegagalan. Yang ada hanyalah hasil yang tidak seperti yang kita inginkan”, “Winners never quit. Quitters never win”, “Tidak penting berapa kali anda jatuh, yang penting adalah berapa kali anda bangkit setelah anda jatuh.”
  3. Kekuatan Fokus atau The Power of Focus. Fokus berarti kita hanya melakukan hal-hal yang memang berhubungan dengan target yang ingin kita capai. Pikiran kita menjadi sangat tajam, terpusat, seperti sinar laser yang siap untuk menembus berbagai penghalang. Kita tidak akan membiarkan berbagai cobaan atau distraksi membuat pikiran atau kegiatan kita menyimpang dari tujuan semula.
  4. Kekuatan Kedamaian Pikiran atau The Power of Peace of Mind. Kekuatan keempat ini sangat penting diperhatikan karena ini merupakan barometer untuk menentukan apakah keyakinan kita terhadap sesuatu itu ekologis atau tidak.
  5. Kekuatan Kebijaksanaan atau The Power of Wisdom. Kekuatan ini sangat penting karena digunakan untuk melakukan evaluasi terhadap apa yang telah kita lakukan.Dengan menggunakan kebijaksanaan kita dapat melakukan evaluasi dengan baik, benar,akurat, dan tanpa melibatkan emosi. Jika hasil yang dicapai belum seperti yang kita inginkan maka dengan menggunakan kebijaksanaan kita dapat mengetahui permasalahannya dan dapat meningkatkan diri kita.
  1. C.    DIMENSI BELAJAR

Dimensi Belajar merupakan metafora tentang bagaimana otak bekerja selama orang belajar. Dimensi belajar ini terdiri atas lima tipe berpikir yang bersifat interaktif, yaitu sikap dan persepsi positif terhadap belajar, pemerolehan dan pengitegrasian pengetahuan, perluasan dan penghalusan pengetahuan, penggunaan pengetahuan secara bermakna, dan kebiasaan berpikir produktif. Pembelajaran yang menggunakan pendekatan model Dimensi Belajar adalah pembelajaran yang menggunakan dimensi-dimensi belajar itu sebagai premis pembelajaran. Pembelajaran yang berpusat pada lima dimensi itu, niscaya akan memberikan hasil yang lebih baik.

Dimensi belajar dalam Adi Rahmat pertama kali diperkenalkan oleh Robert J Marzano tahun 1992 dalam bukunya yang berjudul A different kind of  classroom. Ada 5 dimensi belajar  yaitu :

  1. Mengembangkan Sikap dan Persepsi Positif

Mudah untuk dipahami bahwa sikap dan persepsi si belajar sangat mempengaruhi proses belajar. Sikap dapat mempengaruhi belajar secara positif, sehingga belajar menjadi mudah, sebaliknya sikap juga dapat membuat belajar menjadi sangat sulit.

Ada dua kategori sikap dan persepsi yang mempengaruhi belajar:

  1.  sikap dan persepsi tentang iklim (suasana) belajar,
  2. sikap dan persepsi terhadap tugas-tugas kelas.

Guru yang efektif memberikan penguatan terhadap kedua kategori itu dengan teknik yang jelas dan sesuai.Guru seyogyanya membantu menumbuhkan sikap dan persepsi siswa yang positif terhadap iklim belajar dengan menekankan aspek-aspek internal siswa (suasana mental yang kondusif) daripada aspek-aspek eksternal. Guru dapat membantu menumbuhkan sikap dan persepsi yang positif terhadap tugas-tugas kelas dengan cara memberikan pemahaman akan nilai tugas, kejelasan tugas, dan kejelasan sumber.

  1. Belajar untuk Pemerolehan dan Pengintegrasian Pengetahuan Ahli psikologi kognitif memandang belajar sebagai proses interaksi yang tinggi dalam membangun makna secara personal dari informasi yang diperoleh dengan pengetahuan yang sudah ada menjadi pengetahuan baru. Menerima pengetahuan melibatkan proses interaksi antara apa yang sudah diketahui dengan apa yang ingin dipelajari, dan setelah itu mengintegrasikan informasi tersebut menjadi langkah-langkah sederhana yang mudah digunakan.
    Menurut E.D. Gagne (1985), pengetahuan dapat dikategorikan menjadi dua, yakni pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Banyak ahli yakin bahwa pemerolehan tipe pengetahuan yang berbeda memerlukan proses yang berbeda pula.
  2. Perluasan dan Penghalusan Pengetahuan Pada dimensi ini aspek-aspek belajar melibatkan pengujian apa yang diketahui agar mencapai tingkat yang lebih dalam dan analitis.

Kegiatan memperluas dan memperhalus pengetahuan ini dilakukan dengan:

  1.  comparing (identifikasi dan artikulasi hal-hal atau benda-benda yang mirip dan berbeda),
  2. classifying (pengelompokan jenis-jenis benda ke dalam kategori berdasarkan atribut dasarnya),
  3. inducing (pendugaan prinsip-prinsip atau generalisasi yang belum diketahui dari observasi atau analisis),
  4. deducing (pendugaan kondisi yang belum ternyatakan dari prinsip-prinsip atau generalisasi tertentu),
  5.  analyzing error (identifikasi dan artikulasi kesalahan di dalam pikiran sendiri maupun orang lain),
  6. constructing support (pengkostruksian sistem dukungan kebenaran atau bukti untuk suatu pernyataan yang tegas),
  7. abstracting (identifikasi dan artikulasi tema penting atau pola umum suatu informasi), dan
  8. analyzing perspetive (identifikasi dan artikulasi perspektif personal tentang berbagai macam isu).

4    Belajar Menggunakan Pengetahuan secara Bermakna. Pada umumnya kita belajar dengan baik jika pengetahuan yang kita pelajari itu diperlukan untuk mencapai suatu tujuan. Keberadaan tujuan umum akan dicapai dengan cara-cara umum di mana kita menggunakan pengetahuan itu secara bermakna.

Cara guru membantu siswa agar dapat menggunakan pengetahuan secara bermakna dilakukan dengan:

  1. Decision making, yaitu suatu proses menjawab pertanyaan .
  2. Investigation; ada tiga tipe dasar investigasi, yakni definitional investigation yang meliputi pemerolehan jawaban atas pertanyaan, historical investigation meliputi pemerolehan jawaban atas pertanyaan, dan projective investigation yang meliputi pemerolehan jawaban atas pertanyaan.
  3. Experimental inquiry, yaitu proses memperoleh jawaban atas pertanyaan
  4. Problem solving, yaitu menjawab pertanyaan
  5. Invention, yaitu proses penciptaan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan;

5        Mengembangkan Kebiasaan Berpikir Produktif. Dimensi ini menumbuhkan kebiasaan mental untuk dapat berpikir secara produktif yang ditandai dengan:

  1.  self-regulated thinking and learning, yakni kebiasaan mengetahui apa yang sedang dipikirkannya, tindakan yang terencana, mengetahui sumber-sumber yang penting, sensitif terhadap umpan balik, dan evaluatif terhadap keefektifan tindakan;
  2. critical thinking and learning, yang dicirikan oleh tindakan yang cermat, jelas, terbuka, bisa mengendalikan diri, sensitif terhadap tingkat pengetahuan; dan
  3. creative thinking and learning, yang ditandai oleh semangat tinggi, berusaha sebatas kemampuan, percaya diri, teguh, dan menciptakan hal-hal atau cara-cara baru.

Cara membantu siswa mengembangkan dan memelihara kebiasaan berpikir produktif adalah dilakukan dengan: menumbuhkan sikap kebiasaan berpikir produktif, kebiasaan berpikir yang diantarkan dengan mengintegrasikan ke dalam tugas-tugas di kelas.

Kepustakaan

Gagne, E.D. 1985. The Cognitve Psychology of School Learning. Boston: Little, Brown, and Company.

Gunawan Adi W ,”lima kekuatan untuk optimalisasi potensi diri” Tersedia pada: (www.adiwgunawan.com) , diakses pada  tanggal 2 Agustus 2010

Rahmat Adi,2007, lerning dimension Based teaching,Balitbang-Depdiknas

Suyitno Imam, Prof,Dr,M.Pd,2009, Inovasi Pembelajaran, makalah lokakarya Nasional

JUDUL PENELITIAN

“ PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIK DALAM PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL STAD BERBASIS LESSON STUDY,  MODEL PEMBELAJARAN  INKUIRI TERBIMBING,  DAN MOTIVASI BELAJAR  DI SMP NEGERI 1 GALIS BANGKALAN “

OLEH   : MOHAMMAD SADALI

PROGRAM STUDY TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

PROGRAM PASCA SARJANA

Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

 BAB I

PENDAHULUAN

A             Latar Belakang

Isu tentang  pendidikan di Indonesia masih hangat untuk diperdebatkan. Kualitas pendidikan di Indonesia masih rendah tingkat kompetensi dan relevansinya (Siskandar:2003). Laporan United Nation Development Program tahun 2005 mengungkapkan bahwa kualitas pendidikan  di Indonesia menempati  posisi ke 110 dari 117 negara.

Matematika sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah dinilai sangat memegang peranan penting karena matematika dapat meningkatkan pengetahuan siswa dalam berpikir secara logis, rasional, kritis, cermat, efektif, dan efisien. Oleh karena itu dipandang penting agar matematika dapat dikuasai sedini mungkin oleh para siswa. Salah satu indikator rendahnya mutu pendidikan di Indonesia adalah rendahnya prestasi belajar siswa. Hasil survei dari asosiasi penilaian pendidikan Internasional, The Third Internasional Mathematics and Science Study pada tahun 1999 menyimpulkan bahwa prestasi belajar matematika anak Indonesia untuk SMP berada pada urutan 34 dari 38 Negara, dimana Malaysia diurutan ke-14 dan Singapura diurutan teratas (Hartadji, 2001:4).

Berdasarkan informasi tersebut, dilakukan observasi di SMP Negeri 1 Galis Kabupaten Bangkalan pada tanggal 23 Maret 2011 dan diperoleh keterangan bahwa prestasi belajar matematika siswa kelas VII di sekolah tersebut masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata ulangan harian siswa hanya mencapai 5,54 dan nilai ujian tengah semester dengan rata-rata 4,27. nilai rata-rata ini jika dibandingkan dengan ketuntasan belajar menurut kurikulum, yakni sebesar 6,5 dapat dikatakan bahwa nilai matematika tersebut berada di bawah standar ketuntasan yang diharapkan.

Dari hasil observasi lebih lanjut, tanggal 25 Maret 2011 terlihat bahwa model pembelajaran yang digunakan guru matematika di SMP Negeri 1 Galis Kabupaten Bangkalan khususnya di kelas VII  lebih didominasi oleh model pembelajaran langsung dengan menggunakan kombinasi beberapa metode yaitu ceramah, diskusi, tugas, tanya jawab dan sebagainya. Namun demikian siswa masih belum aktif dalam proses belajar- mengajar. Siswa cenderung diam dan enggan dalam mengemukakan pernyataan maupun pendapat. Peneliti menduga model pembelajaran inilah yang menyebabkan rendahnya prestasi belajar matematika siswa khususnya siswa kelas VII SMP Negeri 1 Galis Bangkalan.

Wawancara dengan beberapa orang siswa kelas VII yang diambil secara random menunjukkan bahwa pemahaman siswa terhadap konsep-konsep dan prinsip-prinsip penting sangat rendah. Siswa cendrung belajar dengan hanya menghafal rumus-rumus tanpa memahami maknanya. Demikian pula kemampuan mereka untuk menyelesaikan permasalahan atau soal-soal secara umum sangat rendah, Pemahaman terhadap cara siswa menyelesaikan soal-soal uraian menunjukan bahwa mereka tidak memiliki kemampuan menyelesaikan soal-soal secara sistematis (yakni visualisasi masalah, mendeskripsikan, merencanakan solusi, menyelesaikan solusi, dan mencek solusi). Mereka menyelesaikan soal-soal dengan cara trial and error dengan mencocokan soal-soal dengan rumus-rumus yang dihafalkannya, juga mereka kurang senang terhadap pembelajaran matematika, mereka menganggap pelajaran matematika adalah pelajaran yang menakutkan, sulit dan membosankan.

Dari observasi awal tersebut disimpulkan bahwa kualitas proses dan hasil pembelajaran matematika yang dilaksanakan saat ini relatif masih rendah,. yang dapat dilihat dari prestasi belajar yang ditunjukan oleh hasil tes ulangan harian dan ulangan tengah semester tergolong rendah. demikian juga motivasi belajar mereka sangat rendah, ini terlihat dari beberapa tanggapan siswa tentang matematika yang menganggap matematika adalah momok, pelajaran yang sulit, pelajaran yang memeras otak..

Data-data tersebut di atas menurut hemat peneliti ada beberapa faktor yang dipandang sebagai penyebab masalah antara lain : (1) Metode pembelajaran yang digunakan guru sangat monotun. Metode ceramah merupakan metode yang secara konsisten digunakan oleh guru dengan urutan menjelaskan, memberi contoh, latihan, dan kerja rumah. Tidak ada variasi metode pembelajaran yang dilakukan guru berdasarkan karakteristik materi pelajaran yang diajarkannya, (2) Guru jarang sekali memberikan kesempatan kepada siswa untuk berintraksi dengan teman sejawat atau dengan guru dalam upaya mengembangkan pemahaman konsep-konsep dan prinsip-prinsip penting. (3) Guru kurang memotivasi siswa tentang pelajaran matematika (4) Pengajaran yang dilakukan oleh guru lebih menekankan pada manipulasi matematis, mereka mulai dengan difinisi konsep, kemudian menyatakannya dengan matematis. hal ini teramati pula dari catatan-catatan matematika siswa yang tidak jauh berbeda dengan catatan matematik, karena isinya hanya kumpulan rumus-rumus matematika. (5) Guru tidak memahami metode penyelesaian soal-soal secara sistematis. (6) Guru lebih tertarik pada jawaban siswa yang benar tanpa menganalisis kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa dan prosedur penyelesaiannya.

Dalam pembelajaran hususnya matematika, diharapkan anak merasa bermain dalam belajar. sehingga meski pelajaran matematika tergolong serius, dalam penyampaian materi yang inovatif, anak-anak bisa senang. Salah satu aspek pembelajaran matematika, siswa dibiarkan berimprovisasi. Misalnya, siswa dibiarkan mengembangkan sendiri terhadap eksak matrikulasi matematika. Cara ini dapat mencerdaskan peserta didik yang tidak terpaku pada materi tertentu yang disampaikan para guru.

Pembelajaran matematika tidak lagi mengutamakan pada penyerapan melalui pencapaian informasi, tetapi lebih mengutamakan pada pengembangan kemampuan dan pemrosesan informasi. Untuk itu aktivitas peserta didik perlu ditingkatkan melalui latihan-latihan atau tugas matematika dengan bekerja kelompok kecil dan menjelaskan ide-ide kepada orang lain (Hartoyo,2000:24)

Langkah-langkah tersebut memerlukan partisipasi aktif dari siswa. Untuk itu perlu ada metode pembelajaran yang melibatkan siswa secara langsung dalam pembelajaran. Adapun metode yang dimaksud adalah metode pembelajaran koperatif model STAD, karena model ini lebih cocok untuk siswa SMP, dimana siswa terlibat aktif dalam pembelajaran tentang konsep atau suatu gejala melalui pengamatan, pengukuran, pengumpulan data untuk ditarik kesimpulan. Pada pembelajaran kooperatif model STAD, guru tidak lagi berperan sebagai pemberi informasi dan siswa sebagai penerima informasi, tetapi guru membuat rencana pembelajaran atau langkah langkah pembelajaran.

Pada pembelajaran kooperatif model STAD siswa diprogramkan agar selalu aktif secara mental maupun fisik. Materi yang disajikan guru bukan begitu saja diberikan dan diterima oleh siswa, tetapi siswa diusahakan sedemikian rupa sehingga mereka memperoleh berbagai pengalaman dalam rangka memahami konsep-konsep yang direncanakan oleh guru (Ahmadi, 1997: 79). .

Selain perlu adanya perubahan model pembelajaran, siswa butuh motivasi, butuh kasih sayang dan harga diri, disamping motivasi untuk belajar kebutuhan dasar paling penting  adalah kebutuhan akan kasih sayang dan harga diri. Siswa yang tidak memiliki perasaan bahwa mereka dicintai dan mereka mampu, kecil kemungkinannya memiliki  motivasi belajar yang kuat untuk mencapai perkembangan ke tingkat yang lebih tinggi. Sebagai misal, pencarian pengetahuan dan pemahaman atas upaya mereka sendiri atau kreativitas dan keterbukaan untuk ide-ide baru yang merupakan karakteristik orang-orang yang mencapai aktualisasi diri. Siswa yang tidak yakin bahwa mereka dapat dicintai atau tidak yakin dengan kemampuannya sendiri akan cenderung untuk membuat pilihan yang aman: bergabung dengan kelompoknya, belajar hanya untuk tes tanpa ada minat untuk mengembangkan ide-ide, dan sebagainya.

Guru dituntut untuk mampu menguasai kurikulum, menguasai materi, menguasai metode, dan tidak kalah pentingnya guru juga harus mampu memotivasi belajar siswa sedemikian rupa sehingga pembelajaran berlangsung secara aktif, inovatif dan menyenangkan,.

Semua orang yakin bahwa guru memiliki andil besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Dari berbagai pengalaman seorang guru masih belum dapat mengevaluasi sejauh mana efisiensi dan efektiftas rancangan pembelajaran yang telah disusun ketika diterapkan dalam kelas. Hasil evaluasi dapat digunakan untuk melakukan refleksi seorang guru dalam mengelola kelas sehingga kekurangan dan kelemahan-kelemahan dapat segera diketahui dan selanjutnya dapat digunakan untuk perbaikan yang menyangkut strategi pembelajaran, model yang diterapkan maupun metode yang digunakan .

Hambatan yang dihadapi adalah secara psikologis guru belum siap untuk mendapat kritik dalam pelaksanaan pembelajaran dikelas oleh teman sejawat maupun kepala sekolah  sebagai supervisor. Lesson study dipandang sebagai kegiatan yang efektif dalam mengevaluasi pembelajaran. Selanjutnya dapat di pergunakan  utk membuat refleksi dalam kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan seorang guru bersama-sama.

Atas dugaan di atas, maka peneliti tertarik untuk mencoba suatu tindakan alternatif untuk mengatasi masalah yang ada berupa penerapan model pembelajaran lain yang lebih mengutamakan keaktifan siswa dan memberi kesempatan siswa untuk mengembangkan potensinya secara maksimal. Model pembelajaran yang dimaksud adalah model pembelajaran Kooperatif Model Student Teams Achievement Division (Stad) berbasis Lesson Study.

  1. B.           Rumusan Masalah

Sesuai dengan uraian pada latar belakang di atas maka permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini adaalah  sebagai berikut :

  1. Adakah perbedaan prestasi belajar matematika kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran kooperatif model Student Teams Achievement Division (STAD) berbasis lesson study dan kolompok siswa yang mengikuti pembelajaran Inkuiri terbimbing  ?
  2. Adakah perbedaan prestasi belajar matematika kelompok siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi dan kelompok siswa yang memiliki motivasi belajar rendah?
  3. Adakah interaksi antara model pembelajaran dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar ?
  1. C.          Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar matematika kelompok siswa yang mengikuti pembelajarn kooperatif model Student Teams Achievement Division (STAD) berbasis lesson study dan kolompok siswa yang mengikuti pembelajaran Inkuiri terbimbing
  2. Untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar matematika kelompok siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi dan kelompok siswa yang memiliki motivasi belajar rendah.
  3. Untuk mengetahui interaksi antara model pembelajaran dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar.
  1. D.          Manfaat Penelitian

Secara teoritis penelitian ini bermanfaat memberikan sumbangan ilmu pengetahuan tentang; (1) peningkatan prestasi belajar dengan menggunakan kooperatif model Student Teams Achievement Division (STAD) berbasis lesson study pada SMP Negeri 1 Galis (2) peningkatan prestasi belajar dengan menggunakan Inkuiri terbimbing pada SMP Negeri 1 Galis. (3) model pembelajaran inovatif dengan menggunakan pendekatan lesson study untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematiaka yang pada akhirnya akan meningkatkan prestasi belajar.

Secara praktis, memberikan sumbangan pemikiran bagi guru, dan birokrasi pendidikan (pemerintah) dalam menyusun strategi kebijakan peningkatan kualitas pembelajaran bagi guru. Untuk menambah wawasan peneliti dalam mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh selama ini. Sebagai masukan bagi Sekolah Menengah Pertama (SMP)  dalam upaya meningkatkan kemampuan guru.dan sebagai bahan masukan untuk referensi penelitian lebih lanjut.

  1. E.           Pembatasan Istilah

Untuk menghindari terjadinya kesalahan penafsiran pada pokok persoalan maka perlu diadakan pembatasan istilah yang berhubungan dengan judul penelitian

  1. Model Pembelajaran kooperatif model Student Teams Achievement Division (STAD) berbasis lesson study.

Model pembelajaran kooperatif model Student Teams Achievement Division (STAD) berbasis lesson study merupakan model pembelajaran kooperati model STAD yang dalam pelakasanaan pembelajaran mengikuti langkah-langkah penerapan model kooperatif model STAD yang dalam prosesnya menggunkan lesson study yang merupakan pembelajaran kolaboratif dimana dalam pembelajaran melibatkan beberapa guru serumpun. Satu guru sebagai pelaksana dan pengelola pembelajaran dan beberapa guru yang lain sebagai observer atau pengamat.

  1. Model Pembelajaran Inquiri terbimbing

Model Pembelajaran Inquiri terbimbing adalah model pembelajaran yang dalam pelakasanaan pembelajaran mengikuti langkah-langkah penerapan model inkuiri terbimbing

  1. Motivasi belajar

Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak dalam diri siswa untuk melakukan serangkaian kegiatan belajar guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

  1. Prestasi Belajar Matematika

Prestasi Belajar matematika adalah hasil yang telah dicapai siswa berupa nilai tes setelah dilaksanakan perlakuan.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

  1. A.          Model Pembelajaran

Guru adalah jabatan dan pekerja profesioal, indikator untuk mengukur keprofesionalan adalah jika kelas yang diasuh menjadi “surganya siswa untuk belajar”, atau “kehadiran seorang sebagai guru di kelas selalu dinantikan siswa”. (Sugiyanto, 2008: 5). Sudahkah pembelajaran kita mencapai kondisi yang demikian? Selain tugas profesional tersebut guru juga harus berperan sebagai sumber belajar, fasilitator, pengelola, demonstrator, pembimbing, motivator dan evaluator. Jika peran ini dijalankan dengan baik dan benar maka usaha memberikan pelayanan pembelajaran yang optimal kearah pendekatan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM) Insya Allah dapat dicapai.

Perlu diingat bahwa kemampuan menerapkan pendekatan PAIKEM tersebut diperlukan model pembelajaran yang inovatif. Joyce dan Weil (1986) menjelaskan bahwa hakikat mengajar adalah membantu siswa memperoleh informasi, ketrampilan, nilai, cara berfikir, sarana untuk mengekspresikan dirinya, dan cara belajar bagaimana belajar. Banyak model pembelajaran yang dikembangkan oleh para ahli dalam usaha meningkatkan kualitas guru, antara lain; model pembelajaran Inquir, model pembelajaran kooperatif learning, model pembelajaran Terpadu, Model pembelajaran Quantum, dan model pembelajaran Berbasis Masalah, dan lain-lain, namun dalam kajian pustaka ini peneliti akan membahas model pembelajaran inquiri terbimbing dan model pembelajaran kooperatif model Student Teams Achievement Division (STAD)

  1. 1.            Pembelajaran Kooperatif model Student Teams Achievement Division (STAD)

Konsep pembelajaran kooperatif  model Student Teams Achievement Division (STAD) ) bukanlah suatu konsep baru, melainkan telah dikenal sejak zaman Yunani kuno. Pada awal abad pertama, seorang filosofi berpendapat bahwa agar seseorang belajar harus memiliki pasangan. Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan adanya kerja sama, yakni kerja sama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran  (Johnson dan Johnson dalam Ismail, 2002 : 12).

Pembelajaran Kooperatif model Student Teams Achievement Division (STAD)  adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Menurut Harta (2009: 45) prinsip dasar pembelajaran kooperatif dikembangkan berpijak pada beberapa pendekatan yang diasumsikan mampu meningkatkan proses dan hasil belajar siswa. Pendekatan yang dimaksud adalah belajar aktif, konstruktivistik, dan kooperatif, hal ini dimaksudkan untuk menghasilkan suatu teknik yang memungkinkan siswa dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Lie (2004: 27) dalam Sugiyanto (2008: 10) menjelaskan bahwa pembelajaran kooperatif menciptakan interaksi yang asah, asih, dan asuh sehingga tercipta masyarakat belajar.

STAD adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. ‘Dalam STAD siswa ditempatkan pada kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 4-5 siswa, setiap kelompok haruslah heterogen terdiri dari laki-laki dan perempuan, berasal dari berbagai suku, memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah’ (Ibrahim, dkk, 2000: 20).

  1. a.        Langkah-langkah pembelajaran kooperatif model STAD

Menurut Slavin dalam isjoni (2010:51) menyattakan bahwaproses pembelajaran kooperatif  model STAD melalui lima tahapan yaitu :

1)        Tahap penyajian materi

Dalam tahap ini guru menyampaikan tujuan pembelajaran, memotivasi siswa, memberikan persepsi. Dalam mengembangkan materi perlu adanya penekanan terhadap : 1),pengembangan materi pembelajaran 2) belajar adalah memahami makna,3) memberikan umpan balik 4) memberikan penjelasan mengapa jawaban pertanyaan itu benar atau salah,5) beralih ke materi selanjutnya jika siswa sudah memahami permasalahan.

2)        Tahap kegiatan kelompok

Pada tahap ini setiap siswa diberi lembar tugas sebagai bahan yang akan dipelajari, dalam kerja kelompok siswa saling berbagi tugas, saling membantu memberikan penyelesaian agar semua kelompok memahami materi yang dibahas,dan satu lembar dikumpulkan sebagai hasil kerja kelompok. Pada tahap ini guru berperan sebagai fasilitator dan motivator. Anggota tim atau kelompok menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain untuk menuntaskan materi pelajarannya dan kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pelajaran malalui tutorial, kuis, satu sama lain dan atau melakukan diskusi. ‘Secara individual setiap minggu atau setiap dua minggu siswa diberi kuis.

3)        Tahap tes individual

Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan belajar telah dicapai. Skor perolehan individu didata dan diarsipkan yang akan digunakan pada perhitungan perolehan skor kelompok.

4)        Tahap penghitungan skor perkembangan individu

Perhitungan skor perkembangan individu dihitung berdasarkan skor awal,

Perhitungan skor perkembangan kelompok menurut slavin (dalam Ibrahim, dkk, 2000: 57) yaitu :

Langkah 1. Menetapkan skor awal

Setiap siswa diberikan skor berdasarkan skor-skor kuis yang lalu

Langkah 2. Menghitung skor kuis terkini

Siswa memperoleh poin untuk kuis yang berkaitan dengan pelajaran terkini

Langkah 3. Menghitung skor perkembangan

Siswa mendapatkan poin perkembangan yang besarnya ditentukan apakah skor kuis terkini mereka menyamai atau malampui skor dasar mereka, dengan menggunakan skala yang di berikan di bawah ini

Tabel 2.2  Daftar poin perkembangan siswa

Skor tes

Poin perkembangan

>10 poin dibawah skor dasar1-10 poin dibawah skor dasar10 poin diatas skor dasar

>10 poin diatas skor dasar

nilai sempurna (tidak berdasarkan skor dasar)

0

10

20

30

30

 

(Ibrahim, dkk, 2000 : 57)

5)        Tahap pemberian penghargaan kelompok

Pemberian penghargaan berdasarkan perolehan skor rata-rata yang dikatagorikan menjadi kelompok baik, kelompok hebat dan kelompok super.

Tingkat penghargaanya yaitu :

a)            Kelompok dengan rata-rata skor 15 sebagai kelompok baik (good team)

b)            Kelompok yang memperoleh rata-rata skor 20 sebagai kelompok hebat (great team)

c)            Kelompok yang mempunyai rat-rat skor 25 sebagai kelompok super (super team)

  1. a.        Kelebihan dan kekurangan pembelajaran kooperatif tipe STAD
    1. Kelebihan pembelajaran kooperatif tipe STAD

1)        Dalam pembelajaran koperatif tipe STAD, pengetahuan diperoleh siswa dengan membangun sendiri pengetahuannya itu melalui interaksi dengan orang lain. Hal ini diharapkan pengetahuan yang diperoleh akan lebih bermakna bukan hanya sekedar hafalan.

2)        Dengan adanya interaksi antara anggota kelompok, siswa memiliki kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya atau memperoleh pengetahuannya dari hasil diskusi dengan anggota kelompoknya. Hal inipun diharapkan dapat meningkatkan kesadaran bahwa setiap individu mempunyai perbedaan pandangan.

3)        Dengan bekerja kelompok diharapkan dapat meningkatkan kemampuan memecahkan persoalan-persoalan materi pelajaran dengan bantuan temanya.

4)        Pengelompokan siswa secara heterogen dalam hal tingkat kemampuan, jenis kelamin maupun rasnya diharapkan dapat membentuk rasa hormat sesama siswa. Dengan kata lain antar anggota saling menghargai dan membantu sehingga hal ini dapat menimbulkan rasa sosial yang tinggi.

5)        Dengan diadakannya tugas, diharapkan dapat membangkitkan motivasi siswa untuk berusaha lebih baik, baik untuk dirinya sendiri ataupun untuk kelompoknya, sehingga diharapkan kerjasama diantara siswa dapat terjalin dengan baik

  1. Kekurangan pembelajaran kooperatif tipe STAD

1)            Penggunaan waktu yang relatif banyak

2)            Apabila kemampuan guru yang kurang memadai atau sarana dan prasaran tidak cukup tersedia, maka pembelajaran kooperatif tipe STAD sangat sulit untuk dilaksanakan

Kelebihan dan kekurangan pembelajaran kooperatif tipe STAD

  1. Kelebihan pembelajaran kooperatif tipe STAD

1)            Dalam pembelajaran koperatif tipe STAD, pengetahuan diperoleh siswa dengan membangun sendiri pengetahuannya itu melalui interaksi dengan orang lain. Hal ini diharapkan pengetahuan yang diperoleh akan lebih bermakna bukan hanya sekedar hafalan.

2)            Dengan adanya interaksi antara anggota kelompok, siswa memiliki kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya atau memperoleh pengetahuannya dari hasil diskusi dengan anggota kelompoknya. Hal inipun diharapkan dapat meningkatkan kesadaran bahwa setiap individu mempunyai perbedaan pandangan.

3)            Dengan bekerja kelompok diharapkan dapat meningkatkan kemampuan memecahkan persoalan-persoalan materi pelajaran dengan bantuan temanya.

4)            Pengelompokan siswa secara heterogen dalam hal tingkat kemampuan, jenis kelamin maupun rasnya diharapkan dapat membentuk rasa hormat sesama siswa. Dengan kata lain antar anggota saling menghargai dan membantu sehingga hal ini dapat menimbulkan rasa sosial yang tinggi.

5)            Dengan diadakannya tugas, diharapkan dapat membangkitkan motivasi siswa untuk berusaha lebih baik, baik untuk dirinya sendiri ataupun untuk kelompoknya, sehingga diharapkan kerjasama diantara siswa dapat terjalin dengan baik

  1. Kekurangan pembelajaran kooperatif tipe STAD

1)      Penggunaan waktu yang relatif banyak

2)      Apabila kemampuan guru yang kurang memadai atau sarana dan prasaran tidak cukup tersedia, maka pembelajaran kooperatif tipe STAD sangat sulit untuk dilaksanakan

 

  1. 2.            Pembeljaran Berbasis Lesson study
    1. Sejarah Lesson Study

Lesson Study di Jepang. Lesson Study dikembangkan di Jepang sejak tahun 1900-an. Guru-guru di Jepang mengkaji pembelajaran melalui perencanaan dan observasi bersama yang bertujuan untuk memotivasi siswa-siswanya aktif belajar mandiri. Lesson Study merupakan terjemahan langsung dari bahasa Jepang jugyokenkyu, yang berasal dari dua kata yogyo yang berati lesson atau pembelajaran, dan kentyu yang berarti study atau research atau pengkajian. Dengan demikian lesson study merupakan study atau penelitian atau pengkajian terhadap pembelajaran. (Tim UPI, 2007: 20). Lesson Study bisa dilaksanakan oleh kelompk guru-guru di suatu distrik atau diselenggarakan oleh kelompok guru sebidang, semacam MGMP di Indonesia. Kelompok guru dari beberapa sekolah berkumul untuk melaksanakan lesson study.

Lesson Study Telah Menjadi Milik Dunia. The Third Intenational Mathematics and Science Study (TIMSS) merupakan studi untuk membandingkan pencapaian prestasi belajar matematika dan IPA kelas 8. Penyebaran lesson study di dunia pada tahun 1995 di latar belakangi oleh TIMSS. Empat puluh satu negara terlibat dalam TIMSS, dua puluh dari empat puluh satu Negara memperoleh skor rata-rata matematika yang signifikan lebih tinggi dari Amerika Serikat. Negara-Negara yang memperoleh skor matematika yang lebih tinggi dari Amerika Serikat antara lain Singapura, Korea, Jepang, Kanada, Prancis, Australia, Ireland. Sementara hanya 7 negara yang memperoleh skor matematika secara signifikan lebih rendah dari Amerika Serikat, yaitu Lithuania, Cyprus, Portugal, Iran, Kuwait, Colombia, dan Afrika Selatan.

Posisi pencapaian belajar matematika siswa-siswa SMP Kelas 2 (dua) di Amerika Serikat membuat negara itu melakukan studi banding pembelajaran matematika di Jepang dan Jerman. Tim Amerika Serikat melakukan perekaman video pembelajaran matematika di Jepang, Jerman, dan Amerika Serikat untuk dilakukan analisis terhadap pembelajaran tersebut. Pada waktu itu, Tim Amerika Serikat menyadari bahwa Amerika Serikat tidak memiliki sistem untuk melakukan peningkatan mutu pembelajaran, sementara Jepang dan Jerman melakukan peningkatan mutu pembelajaran secara berkelanjutan. Amerika Serikat selalu melakukan reformasi tapi tidak selalu melakukan peningkatan mutu. Selanjutnya ahli-ahli pendidikan Amerika Serikat belajar dari Jepang tentang lesson study. Sekarang lesson study telah berkembang di sekolah-sekolah di Amerika Serikat dan diyakini lesson study sangat potensial untuk pengembangan keprofesionalan pendidik yang akan berdampak pada peningkatan mutu pendidikan.

Lesson Study berkembang di Indonesia melalui IMSTEP (Indonesia Mathematics and Science Teacher Education Project) yang diimplemantasikan sejak Oktober tahun 1998 di tiga IKIP yaitu IKIP Bandung (sekarang bernama Universitas Pendidikan Indonesia/UPI), IKIP Yogjakarta (sekarang bernama Universitas Negeri Yogyakarta/UNY) dan IKIP Malang (sekarang bernama Universitas Negeri Malang /UNM) bekerja-sama dengan JICA (Japan International Cooperation Agency). Tujuan Umum dari IMSTEP adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan matematika dan IPA di Indonesia, sementara tujuan khususnya dalah untuk meningkatkan mutu pendidikan matematika dan IPA di tiga IKIP yaitu IKIP Bandung, IKIP Yogyakarta, dan IKIP Malang. Pada permulaan implementasi IMSTEP, UPI, UNY, dan UM berturut-turut bernama IKIP Bandung, IKIP Yogyakarta, dan IKIP Malang.

  1. b.            Konsep Dasar Lesson Study.

Lesson Study merupakan suatu model pembinaan profesi guru melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip inquiri terbimbing, Lesson Study bukan suatu metode pembelajaran atau suatu strategi pembelajaran, tetapi dalam kegiatan lesson study dapat memilih dan menerapkan berbagai metode/strategi pembelajaran yang sesuai dengan situasi, kondisi, dan permasalahan yang dihadapi pendidik.

Lesson study dapat merupakan suatu kegiatan pembelajaran dari sejumlah guru dan pakar pembelajaran yang mencakup; (1) tahap perencanaan (planning), (2) tahap implementasi (action) pembelajaran dan observasi, dan (3) tahap refleksi (reflection) terhadap perencanaan dan implementasi pembelajaran tersebut dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran. 

a)            Tahap perencanaan

Pada tahap ini hal-hal yang akan dilakukan adalah: Pertama, Identifikasi masalah pembelajaran yang ada di kelas yang akan digunakan untuk kegiatan lesson study, dan perencanaan alternatif pemecahannya. Identifikasi masalah tersebut berkaitan dengan pokok bahasan (materi pelajaran) yang relevan, karakteristik siswa dan suasana kelas, metode/pendekatan pembelajaran, media/ alat peraga, dan proses evaluasi dan prestasi belajar yang akan dicapai.

Kedua, Dari hasil identifikasi tersebut didiskusikan (dalam kelompok lesson study) tentang; 1) pemilihan materi pembelajaran, 2) pemilihan metode dan media yang sesuai dengan karakteristik mahasiswa, serta 3) jenis evaluasi yang akan digunakan. Pada tahap ini, pakar dapat mengemukakan hal-hal penting/baru yang perlu diketahui dan diterapkan oleh guru, seperti pendekatan pembelajaran konstruktif, pendekatan pembelajaran yang memandirikan belajar siswa, pembelajaran kontekstual, pengembangan life skill, pemutakhiran materi ajar, atau lainnya yang dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pemilihan tersebut.

Ketiga, Hal yang penting pula untuk didiskusikan adalah penyusunan lembar observasi, terutama penentuan aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam suatu proses pembelajaran dan indikator-indikatornya, terutama dilihat dari segi tingkah laku siswa. Aspek-aspek proses pembelajaran dan indikator-indikator itu disusun berdasarkan perangkat pembelajaran yang dibuat serta kompetensi dasar yang ditetapkan untuk dimiliki siswa setelah mengikuti proses pembelajaran.

Keempat, Dari hasil identifikasi masalah dan diskusi perencanaan pemecahannya, selanjutnya disusun dan dikemas dalam suatu perangkat pembelajaran yang terdiri atas : 1) Rencana Pembelajaran (RP) ,2) Lembar Kerja siswa (LKS), 3) Media atau alat peraga pembelajaran, 4) Instrumen penilaian proses dan hasil pembelajaran, 5) Lembar observasi pembelajaran.

  1. Tahap Implementasi dan Observasi.

Pada tahap ini seorang guru pemandu melakukan implementasi rencana pembelajaran (RP) yang telah disusun tersebut di kelas. Pakar dan guru lain melakukan observasi dengan menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan dan perangkat lain yang diperlukan. Para observer ini mencatat hal-hal positif dan negatif dalam proses pembelajaran, terutama dilihat dari segi tingkah laku siswa. Selain itu (jika memungkinkan), dilakukan rekaman video (audio visual) yang meng close-up kejadian-kejadian khusus (pada  guru pemandu dan siswa) selama pelaksanaan pembelajaran. Hasil rekaman ini berguna nantinya sebagai bukti autentik kejadian-kejadian yang perlu didiskusikan dalam tahap refleksi atau pada seminar hasil lesson study, di samping itu dapat digunakan sebagai bahan diseminasi kepada khalayak yang lebih luas.

  1. Tahap Refleksi.

Selesai praktik pembelajaran, segera dilakukan refleksi. Pada tahap refleksi ini, guru yang tampil dan para observer serta pakar mengadakan diskusi tentang pembelajaran yang baru saja dilakukan. Diskusi ini dipimpin oleh pakar/guru lain yang ditunjuk. Pertama, guru yang melakukan implementasi rencana pembelajaran tersebut di atas diberi kesempatan untuk menyatakan kesan-kesannya selama melaksanakan pembelajaran, baik terhadap dirinya maupun terhadap siswa yang dihadapi. Kedua, observer (guru lain/pakar) menyampaikan hasil analisis data observasinya, terutama yang menyangkut kegiatan siswa selama berlangsung pembelajaran yang disertai dengan pemutaran video hasil rekaman pembelajaran. Ketiga, guru yang melakukan implementasi tersebut akan memberikan tanggapan balik atas komentar para observer.

  1. 3.            Pembelajaran Inquiri Terbimbing
    1. Definisi inkuiri terbimbing

Inkuiri berasal dari kata inquire yang berarti menanyakan, meminta keterangan, atau penyelidikan, jadi inkuiri berarti penyelidikan (Ahmadi, 1997:76). Siswa diprogramkan agar selalu aktif secara mental maupun fisik, materi yang disajikan guru bukan begitu saja diberikan dan diterima oleh siswa, tetapi siswa diusahakan sedemikian rupa sehingga mereka memperoleh berbagai pengalaman dalam rangka “menemukan sendiri” konsep-konsep yang direncanakan oleh guru (Ahmadi, 1997: 79). Menurut Carin dan Sund (1975), yang dimaksud dengan inkuiri ialah The process of investigasing a problem. Inquiry differs from problem solving in that an individual may origainate the problem and develop his own strategies for obtaining information. Unlike problem solving there is not set pattern to inquiry. An individual may be be involved in may methods of obtaining information and be may take intuitive aporoaches to the problem. The and product of inquiry may result in a to the problem. The end product of inquiry may result in a discovery”.

Inkuiri adalah suatu metode yang digunakan dalam pembelajaran matematika dan mengacu pada suatu cara untuk mempertanyakan, mencari pengetahuan, informasi atau mempelajari suatu gejala. Wayne Welch berpendapat bahwa metode penyelidikan ilmiah sebagai proses inkuiri. Ia juga mengidentifikasi lima sifat dari proses inkuiri, yaitu pengamatan, pengukuran, eksperimentasi, komunikasi, dan proses-proses mental (Koes, 2003:12-13).

Dalam pembelajaran matematika dengan pembelajaran inkuiri, guru harus membimbing siswa terutama siswa yang belum pernah mempunyai pengalaman belajar dengan kegiatan-kegiatan inkuiri. Atas dasar kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan, W.R Romey (1968,h.22) membedakan inkuiri menjadi dua tingkat, yaitu :

a)            Inkuiri dengan aktivitas terstruktur

Dalam inkuiri dengan “Aktivitas terstruktur” siswa memperoleh petunjuk-petunjuk lengkap yang mengarahkan pada prosedur yang didesain untuk memperoleh sesuatu konsep atau prinsip tertentu.

b)            Inkuiri dengan aktivitas tidak terstruktur

Dalam inkuiri dengan “Aktivitas Tidak Terstruktur”,hanya terdapat penyajian masalah, dan siswa secara bebas memilih dan menggunakan prosedur-prosedur masing-masing, menyusun data yang diperolehnya, menganalisisnya dan kemudian menarik kesimpulan.

Sedangkan Carin dan Sund (2000:111) berpendapat bahwa pembelajaran model inkuiri mencakup inkuiri induktif terbimbing dan tak terbimbing, inkuiri deduktif, dan pemecahan masalah. Diantara model-model inkuiri yang lebih cocok untuk siswa SMP adalah inkuiri induktif terbimbing, dimana siswa terlibat aktif dalam pembelajaran tentang konsep atau suatu gejala melalui pengamatan, pengukuran, pengumpulan data untuk ditarik kesimpulan. Pada inkuiri induktif terbimbing, guru tidak lagi berperan sebagai pemberi informasi dan siswa sebagai penerima informasi, tetapi guru membuat rencana pembelajaran atau langkah-langkah percobaan. Siswa melakukan percobaan atau penyelidikan untuk menemukan konsep-konsep yang telah ditetapkan guru.

Menurut Gulo (2002:86-87), peranan utama guru dalam menciptakan kondisi pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut.

a)            Motivator, yang memberikan rangsangan supaya siswa aktif dan gairah berpikir.

b)            Fasilitator, yang menunjukkan jalan keluar jika ada hambatan dalam proses berpikir siswa.

c)            Penanya, untuk menyadarkan siswa dari kekeliruan yang mereka perbuat dan memberikan keyakinan pada diri sendiri.

d)           Administrator, yang bertanggungjawab terhadap seluruh kegiatan didalam kelas.Pengarah, yang memimpin arus kegiatan berpikir siswa padatujuan yang diharapkan.

e)            Manajer, yang mengelola sumber belajar, waktu, dan organisasi kelas.

f)             Rewarder, yang memberi penghargaan pada prestasi yang dicapai dalam rangka peningkatan semangat heuristik pada siswa.

Sebagai suatu model pembelajaran dari sekian banyak model pembelajaran yang ada, inkuiri terbimbing menempatkan guru sebagai fasilitator, guru membimbing siswa dimana diperlukan. Dalam model ,siswa didorong untuk berpikir sendiri, menganalisa sendiri, sehingga dapat menemukan prinsip umum berdasarkan bahan atau data yang telah disediakan guru, sampai seberapa jauh siswa dibimbing, tergantung pada kemampuannya dan materi yang sedang dipelajari.

Dengan metode inkuiri terbimbing siswa dihadapkan kepada situasi dimana ia bebas menyelidiki dan menarik kesimpulan. Terkaan, intuisi, dan mencoba-coba(trial and error) hendaknya dianjurkan. Guru bertindak sebagai penunjuk jalan, ia membantu siswa agar mempergunakan ide, konsep, dan ketrampilan yang sudah mereka pelajari sebelumnya untuk mendapatkan pengetahuan yang baru. Pengajuan pertanyaan yang tepat oleh guruakan merangsang kreativitas siswa dan membantu mereka dalam menemukan pengetahuan yang baru tersebut. Perlu diingat bahwa memang memang model ini memerlukan waktu yang relative banyak dalam pelaksanaan, akan tetapi prestasi belajar yang dicapai tentunya sebanding dengan waktu yang digunakan. Pengetahuan yang baru akan melekat lebih lama apabila siswa dilibatkan secara langsung dalam proses pemahaman dan mengkonstruksi sendiri konsep atau pengetahuan tersebut. Model ini bias dilakukan baik secara perseorangan atau kelompok.

Secara sederhana peran siswa dan guru dalam model penemuan terbimbing dapat digambarkan sebagai berikut :

Penemuan terbimbing Peran guru Peran siswa
Sedikit bimbingan Menyatakan persoalan Menemukan pemecahan
Banyak bimbingan Menyatakan persoalanMemberikan bimbingan Mengikuti petunjukMenemukan penyelesaian
  1. Langkah-Langkah Pembelajaran Inkuiri

Menurut Memes (2000:42), ada enam langkah yang diperhatikan dalam inkuiri terbimbing, yaitu :

a)            Merumuskan masalah.

b)            Membuat hipotesa.

c)            Merencanakan kegiatan.

d)           Melaksanakan kegiatan.

e)            Mengumpulkan data.

f)             Mengambil kesimpulan.

Menurut Rachmadi Widdiharto, M.A (2004:5-6) agar pelaksanaan model penemuan terbimbing ini berjalan efektif, beberapa langkah yang mesti ditempuh oleh guru matematika adalah sebagai berikut :

a)            Merumuskan masalah yang akan diberikan kepada siswa dengan data secukupnya, perumusannya harus jelas, hindari pernyataan yang menimbulkan salah tafsir sehingga arah yang ditempuh siswa tidak salah.

b)            Dari data yang diberikan guru siswa menyusun, memproses, mengorganisir, dan menganalisis data tersebut. Dalam hal ini bimbingan guru dapat diberikan sejauh yang diperlukan saja, bimbingan ini sebaiknya mengarahkan siswa untuk melangkah kearah yang hendak dituju, melalui pertanyaan-pertanyaan atau LKS.

c)            Siswa menyusun konjektur (prakiraan) dari analisis yang dilakukannya.

d)           Bila dipandang perlu, konjektur yang telah dibuat oleh siswa tersebut diatas diperiksa oleh guru. Hal ini penting dilakukan untuk meyakinkan kebenaran prakiraan siswa, sehingga akan menuju arah yang hendak dicapai.

e)            Apabila telah diperoleh kepastian tentang kebenaran konjektur tersebut, maka verbalitas konjektur sebaiknya diserahkan juga kepada siswa untuk menyusunnya, disamping itu perlu diingat pula bahwa induksi tidak menjamin 100% kebenaran konjektur.

f)             Sesudah siswa menemukan apa yang dicari, hendaknya guru menyediakan soal tambahan untuk memerikasa apakah hasil penemuan itu benar.

  1. Kelebihan dan kekurangan model inkuiri terbimbing

Kelebihan dan kekurangan menurut Marzano dalam Rachmadi Widdiharto, M.A (2004:6-7)

Kelebiahan model pembelajaran inkuiri terbimbing :

a)            Siswa dapat berpartisipasi aktif dalam pembelajaran yang disajikan

b)            Menumbuhkan sekaligus menanamkan sikap inkuiri

c)            Mendukung kemampuan problem solving siswa

d)           Memberikan wahana interaksi antar siswa, maupun siswa dengan guru, dengan demikian siswa juga terlatih untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

e)            Materi yang dipelajari dapat mencapai tingkat kemampuan yang lebih lama membekas karena siswa dilibatkan dalam proses menemukannya.

Kekurangan model pembelajaran inkuiri terbimbing :

a)            Untuk materi tertentu waktu yang tersita lebih lama

b)            Tidak semua siswa dapat mengikuti pelajaran dengan cara ini . dilapangan beberapa siswa masih terbiasa dan mudah mengerti dengan model ceramah.

c)            Tidak semua topic cocok disampaikan dengan model inkuiri terbimbing.

  1. Motivasi belajar

Di sekolah, kebutuhan dasar paling penting adalah kebutuhan akan kasih sayang dan harga diri. Siswa yang tidak memiliki perasaan bahwa mereka dicintai dan mereka mampu, kecil kemungkinannya memiliki  motivasi belajar yang kuat untuk mencapai perkembangan ke tingkat yang lebih tinggi. Sebagai misal, pencarian pengetahuan dan pemahaman atas upaya mereka sendiri atau kreativitas dan keterbukaan untuk ide-ide baru yang merupakan karakteristik orang-orang yang mencapai aktualisasi diri. Siswa yang tidak yakin bahwa mereka dapat dicintai atau tidak yakin dengan kemampuannya sendiri akan cenderung untuk membuat pilihan yang aman: bergabung dengan kelompoknya, belajar hanya untuk tes tanpa ada minat untuk mengembangkan ide-ide, menulis karangan yang tidak kreatif, dan sebagainya.

Guru yang berhasil membuat siswa merasa senang dan membuat mereka merasa diterima dan dihormati sebagai individu, lebih besar peluangnya untuk membantu mereka menjadi bersemangat untuk belajar demi pembelajaran dan kesediaan berkorban untuk menjadi kreatif dan terbuka terhadap ide-ide baru. Apabila siswa dikehendaki menjadi pelajar yang mandiri, mereka harus yakin bahwa guru akan merespon secara adil dan konsisten kepada mereka dan bahwa mereka tidak akan ditertawakan atau dihukum karena murni berbuat kekeliruan

Konsep Penting Motivasi Belajar adalah sebagai beikut :

Motivasi belajar adalah proses internal yang mengaktifkan, memandu dan mempertahankan perilaku dari waktu ke waktu. Individu termotivasi karena berbagai alasan yang berbeda, dengan intensitas yang berbeda. Sebagai misal, seorang siswa dapat tinggi motivasinya untuk menghadapi tes ilmu sosial dengan tujuan mendapatkan nilai tinggi (motivasi ekstrinsik) dan tinggi motivasinya menghadapi tes matematika karena tertarik dengan mata pelajaran tersebut (motivasi intrinsik).

Motivasi belajar bergantung pada teori yang menjelaskannya, dapat merupakan suatu konsekuensi dari penguatan (reinforcement), suatu ukuran kebutuhan manusia, suatu hasil dari disonan atau ketidakcocokan, suatu atribusi dari keberhasilan atau kegagalan, atau suatu harapan dari peluang keberhasilan.

Motivasi belajar dapat meningkat apabila guru membangkitkan minat siswa, memelihara rasa ingin tahu mereka, menggunakan berbagai macam strategi pengajaran, menyatakan harapan dengan jelas,  dan memberikan umpan balik (feed back) dengan sering dan segera.

Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sebagai berikut:

  1. Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik.

Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada siwa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.

  1. Hadiah

Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.

  1. Saingan/kompetisi

Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.

  1. Pujian

Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun.

  1. Hukuman

Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.

  1. Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar.

Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik.

  1. Membentuk kebiasaan belajar yang baik
  2. Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok
  3. Menggunakan metode yang bervariasi, dan
  4. Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran

Raymond dan Judith (2004:24)  mengungkapkan ada empat pengaruh utama dalam motivasi belajar seorang anak yaitu

  1. Budaya.

Masing-masing kelompok atau etnis telah menetapkan dan menyatakan secara tidak langsung nilai-nilai yang berkenaan  dengan pengetahuan baik dalam pengertian akademis maupun tradisional. Nilai-nilai itu terungkap melalui pengaruh agama, undang-undang politik untuk pendidikan serta melalui harapan-harapan orang tua yang berkenaan dengan persiapan anak-anak mereka dalam hubungannya dengan sekolah. Hal–hal ini akan mempengaruhi motivasi belajar anak.

  1. Keluarga.

Berdasarkan penelitian orang tua memberi pengaruh utama dalam memotivasi belajar seorang anak. Pengaruh mereka terhadap perkembangan motivasi belajar anak-anak memeberi pengaruh yang sangat kuat dalam setiap perkembangannya dan akan terus berlanjut sampai habis masa SMA dan sesudahnya.

  1. Sekolah.

Ketika sampai pada motivasi belajar, para gurulah yang membuat sebuah perbedaan. Dalam banyak hal mereka tidak sekuat seperti orang tua. Tetapi mereka bisa membuat kehidupan sekolah mnjadi menyenangkan atau menarik. Dan kita bisa mengingat seorang guru yang memenuhi ruang kelas dengan kegembiraan dan harapan serta membukakan pintu-pintu kita untuk menemukan pengetahuan yang mengagumkan.

  1. Diri anak itu sendiri

Murid-murid yang mempunyai kemungkinan paling besar untuk belajar dengan serius, belajar dengan baik dan masih bisa menikmati belajar, memiliki perilaku dan karakter pintar, berkualitas, mempunyai identitas, bisa mengatur diri sendiri sudah pasti  mempengaruhi motivasi belajarnya.

Dilihat dari peranannya, maka orang tua dan guru paling berpengaruh dalam rangka memotivasi belajar siswa.Kerja sama antara kedua komponen ini akan menghasilkan kekuatan luar biasa yang bisa menumbuhkan motivasi belajar anak. Untuk menghasilkan kolaborasi dalam rangka mencapai tujuan  yang baik maka pola kerja sama antara ke duanya harus dirancang sedemikian rupa. Kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh orang tua dan guru harus teridentifikasi dengan jelas. Karena dengan memahami kekuatan dan kelemahan guru dan orang tua akan dapat membuat rancangan yang tepat untuk menumbuhkan motivasi anak.

  1. C.          Prestasi  belajar Matematika

Sebelum dijelaskan mengenai prestasi belajar, terlebih dahulu akan dikemukakan tentang pengertian prestasi. Sudah dijelaskan dimuka bahwa yang dimaksud dengan prestasi adalah hasil yang telah dicapai. Dengan demikian prestasi adalah hasil yang telah dicapai oleh seseorang setelah melakukan suatu pekerjaan / aktivitas tertentu. Jadi prestasi adalah hasil yang telah dicapai oleh karena itu semua individu dengan adanya belajar hasilnya dapat dicapai. Setiap individu menginginkan hasil yang sebaik mungkin.

Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (1999: 895) prestasi diartikan sebagai yang telah dicapai (telah dilakukan, dikerjakan dan sebagainya). Sedangkan Arifin (1991: 3), menjelaskan bahwa prestasi berarti hasil usaha. Dalam hubungannya dengan usaha belajar, prestasi berarti prestasi belajar yang dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar pada kurun waktu tertentu. Prestasi belajar siswa mampu memperlihatkan perubahan-perubahan dalam bidang pengetahuan / pengalaman dalam bidang ketrampilan, nilai dan sikap.

Kemampuan intelektual siswa sangat menentukan keberhasilan siswa dalam memperoleh prestasi. Untuk mengetahui berhasil tidaknya seseorang dalam belajar maka perlu dilakukan suatu evaluasi, tujuannya untuk mengetahui prestasi yang diperoleh siswa setelah proses belajar mengajar berlangsung.Adapun prestasi dapat diartikan hasil diperoleh karena adanya aktivitas belajar yang telah dilakukan.

Prestasi merupakan hasil dari proses belajar. Memahami pengertian prestasi belajar secara garis besar harus bertitik tolak kepada pengertian belajar itu sendiri. Untuk itu para ahli mengemukakan pendapatnya yang berbeda-beda sesuai dengan pandangan yang mereka anut. Namun dari pendapat yang berbeda itu dapat kita temukan satu titik persamaan. Sehubungan dengan prestasi belajar, Purwanto (1986:28) memberikan pengertian prestasi belajar yaitu “hasil yang dicapai oleh seseorang dalam usaha belajar sebagaimana yang dinyatakan dalam raport.” Sedangkan menurut Nasution (1996:17) prestasi belajar adalah: “Kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir, merasa dan berbuat. Prestasi belajar dikatakan sempurna apabila memenuhi tiga aspek yakni: kognitif, affektif dan psikomotor, sebaliknya dikatakan prestasi kurang memuaskan jika seseorang belum mampu memenuhi target dalam ketiga kriteria tersebut.” Winkel (1996:226) mengemukakan bahwa prestasi belajar merupakan bukti keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang. Maka prestasi belajar merupakan hasil maksimum yang dicapai oleh seseorang setelah melaksanakan usaha-usaha belajar. Sedangkan menurut Shofiana (2008 : 34) mengemukakan bahwa prestasi belajar adalah usaha maksimal yang dicapai oleh seseorang setelah melaksanakan usaha-usaha belajar. Selain itu, Wiriatmadja (2005:23) mendefinisikan hasil sebagai suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan baik secara individual maupun kelompok dalam bidang tertentu. Banyak kegiatan yang biasa dijadikan sebagai sarana untuk mendapatkan hasil, semuanya tergantung dari kesenangan setiap individu.
Djuwariyah (2008:37) menjelaskan bahwa prestasi belajar di bidang pendidikan adalah hasil dari pengukuran terhadap peserta didik yang meliputi faktor kognitif, afektif dan psikomotor setelah mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan menggunakan instrumen tes atau instrumen yang relevan. Jadi prestasi belajar adalah hasil pengukuran dari penilaian usaha belajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol, huruf maupun kalimat yang menceritakan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak pada periode tertentu. Prestasi belajar merupakan hasil dari pengukuran terhadap peserta didik yang meliputi faktor kognitif, afektif dan psikomotor setelah mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan menggunakan instrumen tes yang relevan.

Prestasi belajar dapat diukur melalui tes yang sering dikenal dengan tes prestasi belajar. Soetjipto (2004: 8) mengemukakan tentang tes prestasi belajar bila dilihat dari tujuannya yaitu mengungkap keberhasilan sesorang dalam belajar. Testing pada hakikatnya menggali informasi yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Tes prestasi belajar berupa tes yang disusun secara terrencana untuk mengungkap performasi maksimal subyek dalam menguasai bahan-bahan atau materi yang telah diajarkan. Dalam kegiatan pendidikan formal tes prestasi belajar dapat berbentuk ulangan harian, tes formatif, tes sumatif, bahkan ebtanas dan ujian-ujian masuk perguruan tinggi. Dalam proses belajar tentu ada yang berhasil, sukses dan tidak mengalami kesulitan untuk mencapai tujuan, ada yang gagal dan mengalami hambatan untuk mencapai tujuan. Ukuran keberhasilan dalam proses belajar diberikan istilah prestasi belajar. Menurut Slameto (2003:52), prestasi belajar adalah prestasi belajar yang dicapai siswa dalam suatu mata pelajaran tertentu dengan menggunakan tes standar sebagai alat pengukur keberhasilan murid. Sedangkan Tirtaraharja (1981:19) mengemukakan bahwa prestasi belajar adalah taraf kemampuan aktual yang bersifat terukur, berupa pengalaman ilmu pengetahuan, keterampilan, sikap, interes yang dicapai oleh murid dari apa yang dipelajari di sekolah.

Berdasarkan beberapa pengertian yang diajukan di atas, maka dapat dijelaskan bahwa prestasi belajar merupakan tingkat kemanusiaan yang dimiliki siswa dalam menerima, menolak dan menilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar mengajar. Prestasi belajar seseorang sesuai dengan tingkat keberhasilan sesuatu dalam mempelajari materi pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau raport setiap bidang studi setelah mengalami proses belajar mengajar. Prestasi belajar siswa dapat diketahui setelah diadakan evaluasi. Hasil dari evaluasi dapat memperlihatkan tentang tinggi atau rendahnya prestasi belajar siswa.

Pada dasarnya segala sesuatu yang dilaksanakan berorientasi pada suatu hasil. Hasil adalah sesuatu yang dihadapi dari usaha yang dilakukan. Demikian pula halnya dengan belajar yang senantiasa mengharapkan suatu hasil yang baik. Prestasi belajar tersebut dapat diukur dengan menggunakan alat tes prestasi belajar, baik melalui lisan dan tulisan ataupun dalam bentuk unjuk kerja. Evaluasi ini bertujuan untuk mengukur dan mengetahui tingkat keberhasilan belajar siswa. Terkait dengan dengan uraian ini, maka Haling (2006:107) mengemukakan secara jelas mengenai penilaian atau evaluasi ini sebagai berikut :

Penilaian merupakan suatu usaha yang bertujuan untuk mengetahui keberhasilan belajar dalam penguasaan kompetensi, disamping itu, penilaian juga berfungsi untuk mengetahui berhasil tidaknya pelaksanaan pembelajaran. Alat pembelajaran yang biasa digunakan adalah; (a) Tes, yaitu suatu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh pebelajar, sehingga menghasilkan suatu nilai tentang tingkah laku atau prestasi pebelajar tersebut, yang dapat dibandingkan dengan nilai yang dicapai oleh pebelajar lain atau dengan nilai standar yang ditetapkan. (b) Non Tes, yaitu untuk menilai aspek-aspek tingkah laku yang meliputi kegiatan observasi, wawancara, studi kasus, skala penilaian, check list dan inventori”.

Dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah sesuatu yang diperoleh siswa dalam bentuk nilai dalam satu mata pelajaran atau keterampilan tertentu.

  1. Kerangka berfikir.

Berdasarkan kajian teori sebagaimana diuraikan diatas, maka untuk menjawab permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini terlebih dahulu diajukan hipotesis atas dasar kerangka berfikir sebagai berikut :

  1. Kegiatan pembelajaran merupakan kegiatan yang memberikan pengalaman-pengalaman belajar yang baru bagi siswa, melalui pengalaman belajar tersebut akan menghasilkan suatu tujuan yang telah sesuai direncanakan oleh siswa dan disampaikan oleh para ahli tentang belajar bahwa belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengambil stimulasi lingkungan melewati pengelolaan informasi menjadi kapabilitas baru. Pembelajaran yang telah dirumuskan secara rinci dengan mempertimbangkan berbagai aspek pendekatan dan berbagai ranah (domain) mana yang akan diukur, akan berdampak positif terhadap pembelajaran matematiika yang menitik beratkan pada ketrampilan proses. Disamping itu ketrampilan siswa tidak sebagai obyek dalam pembelajaran tetapi sebagai subyek.
  2. Hubungan, komunikasi, bimbingan dan fungsi guru sebagai fasilitator merupakan konsep pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered) akan lebih bermakna. Kebermaknaan tersebut akan nyata bila siswa termotivasi dalam kegiatan pembelajaran, sebab motivasi merupakan faktor internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Tumbuhnya motivasi internal siswa dipengaruhi oleh motivasi eksternal dimana salah satunya adalah peran guru dalam kegiatan pembelajaran.
  3. Hasil observasi awal dan pengalaman pribadi sebagai guru, kegiatan pembelajaran yang melibatkan guru sebagai salah satu faktor ekternal yang mampu mengawal  motivasi siswa sampai pada puncak peningkatan ranah kognitif dalam bentuk prestasi kurang diperhatikan. Guru lebih banyak disibukkan oleh kegiatan yang bersifat administratif dan penilaian sebagaimana tuntutan kurikulum. Pembelajaran kooperatif model STAD berbasis Lesson study sebagai kegiatan pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar yang berbasis lesson study yaitu pendekatan pembelajaran kolaboratif antar kelompok guru dalam satu rumpun atau kelompok guru antar mata pelajaran merupakan suatu bentuk pembelajaran yang dapat menjadi akomodatif dari segala bentuk problematika guru dan siswa, karena lesson study merupakan kegiatan pengkajian pembelajaran. Melalui bengkel pembelajaran ini segala permasalahan yang dihadapi oleh guru dan siswa akan mulai cair. Bila kegiatan tersebut terjadi dalam setiap sekolah dengan demikian tentu prestasi belajar bukan lagi merupakan permasalahan yang rumit untuk dipecahkan.
  1. E.           HIPOTESIS

 

Berdsarkan permasalahan dan kerangkai berfikir yang didasari oleh deskripsi  teori serta kajian empirik yang relevan, maka hipotesis dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

  1. Ada perbedaan prestasi belajar matematika kelompok siswa yang mengikuti pembelajarn kooperatif model Student Teams Achievement Division (STAD) berbasis lesson study dan kolompok siswa yang mengikuti pembelajaran inkuiri terbimbing .
  2. Ada perbedaan prestasi belajar matematika kelompok siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi dan kelompok siswa yang memiliki motivasi belajar rendah.
  3. Ada interaksi antara model pembelajaran dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar .

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

  1. A.       Rancangan Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (quasi). eksperimen semu (quasi) adalah suatu penelitian yang direncanakan dan dilaksanakan oleh peneliti untuk mengumpulkan bukti-bukti yang ada hubungannya dengan hipotesis(Sunarto, 1984:2). Dalam penelitian semacam ini peneliti mengidentifikasi tiga ciri yaitu : 1).suatu variable bebas yang dapat dimanipulasi, 2). Semua variable lainnya kecuali variable bebas dipertahankan tetap, 3). Pengaruh manipulasi variabel bebas terhadap variabel terikat yang diamati.

Dalam penelitian ini ada empat variabel yaitu dua variabel bebas, satu variabel moderator dan satu variabel  terikat. Variabel bebas (independent variabel) adalah pembelajaran koperatif model Student Teams Achievement Division (STAD) berbasis lesson study dan pembelajaran Inkuiri terbimbing , variabel moderatornya adalah motivasi belajar dan  variabel terikatnya (dependent variabel) adalah prestasi belajar matematika . Rancangan ini dipilih karena eksperimen dilakukan dikelas tertentu dengan kelas yang ada. Dalam menentukan subyek untuk kedua kelompok eksperimen tidak memungkinkan mengubah kelas yang telah ada. Dengan demikian randominasi tidak bisa dilakukan karena di SMP Negeri 1 Galis kelas yang ada hanya empat maka empat kelas tersebut diambil semua sebagai sampel penelitian, dua kelas sebagai kelas eksperimen dan dua kelas sebagai kelas kontrol.

Siswa responden / kelas yang sudah dipilih dikelompokkan kedalam dua kelompok yaitu : 1) kelompok A untuk siswa yang diberi perlakuan pembelajaran kooperatif model Student Teams Achievement Division (STAD) berbasis lesson study, 2)  kelompok B untuk siswa yang diberi perlakuan pembelajaran Inkuiri terbimbing .

Masing-masing kelompok kelas akan diberikan materi / pokok bahasan mata pelajaran matematika yang sama yakni pokok bahasan bangun datar segitiga kelas VII semester 2 dengan menggunakan metode yang berbeda, sedangkan durasi waktu, bahan, media, guru untuk kedua kelompok ditentukan sama sehingga diupayakan semaksimal mungkin kondisi sampel adalah homogin.

Kelompok kelas selanjutnya akan menjalani evaluasi belajar dengan bahan, waktu pelaksanaan dan  alat ukur yang sama untuk mencari nilai tentang skor tertinggi, rata-rata dan skor terendah kemudian dilakukan perbandingan secara statistik.

  1. Desain Penelitian

Desain penelitian ini adalah sebagai berikut : (Cooper ,1999:392)

O1               X1                O2

                                       O3               X1                O4

                                       O5               X2                O6

                                       O7               X2                O8

Dimana :

O1,O3,O5,O7   =  Hasil pretes bidang study matematika dari kedua kelompok

O2,O4,O6,O8   =  Hasil postes bidang study matematika dari kedua kelompok

X1              =  penggunaan jenis pembelajaran kooperatif  model Student Teams Achievement Division (STAD) berbasis lesson study

X1             =  penggunaan jenis pembelajaran inkuiri terbimbing

Selain itu kedua kelompok akan diteliti untuk mengetahui motivasi belajar masing-masing kelompok siswa dengan melakukan angket pada siswa.

Sebelum dilakukan eksperimen/perlakuan akan diberikan pretes terlebih dahulu agar diperoleh kesetaraan atau homoginitas pada kedua kelompok yang dijadikan sampel penelitian. Untuk menguji hal ini digunkan uji kesetaraan dua sampel.

  1. B.           Populasi dan  Sampel
  2. Populasi

Menurut Suharsimi Arikunto(1998:150)  populasi adalah keseluruhan subyek yang hendak digeneralisasikan, sedang menurut Hadi (1984:70) populasi penelitian adalah seluruh individu yang akan dikenai sasaran generalisasi dan sample-sample yang akan diambil dalam suatu penelitian.

Melihat definisi diatas maka dalam penelitian ini populasinya adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 1 Galis Kabupaten Bangkalan

  1. Sampel

Sampel adalah yang menjadi subyek sesungguhnya dari suatu penelitian (kooencoroningrat :1986;89).

Dalam penelitian subyek yang diambil dengan menggunakan teknik random sampling atau sampel acak.Tehnik pengambilan sampelnya dengan “ mencampur “ subyek-subyek dalam populasi sehingga semua subyek dalam populasi dianggap sama. Dengan demikian setiap subyek dalam populasi memiliki hak yang sama untuk memperoleh kesempatan atau cange untuk dipilih menjadi sampel. ( Arikunto, 1980 : 120 ).

Subyek/sampel dalam penelitian ini adalah kelompok siswa  kelas 7A , 7B, 7C, dan 7D. Karena di SMP Negeri 1 Galis kelas 7 nya  hanya ada empat maka semua populasi digunakan sebagai subyek penelitian atau sampel.

Berdasarkan data yang ada sebaran siswa adalah sebagai berikut :

Tabel 3. 2 Sebaran sampel

NAMA SEKOLAH KELAS JUMLAH  SISWA

SMP NEGERI 1 GALIS

7A
7B
7C
7D
JUMLAH
  1. Variabel

Variabel berasal dari kata inggris “Variable” yang berarti  gejala yang dapat berubah-ubah. Menurut Sugiono (2006); variabel merupakan gejala yang menjadi fokus  peneliti untuk diamati . Variabel sebagai atribut dari sekelompok  orang yang mempunyai variasi antara satu dengan yang lainnya dalam kelompok itu

Variabel menurut  Sugiono  (2008 ;61)

  1. Variabel Independen atau Variabel Bebas

Variabel independen atau variabel bebas disebut juga sebagai variabel prediktor, stimulus, antecedent. Variabel independen atau variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen (terikat) .

Dalam penelitian ini sebagai variabel independen atau variabel bebas adalah metode pembelajaran inkuiri terbimbing berbasis lesson study dan pembelajaran kooperatif model Studen Team Achiefemen Division (STAD)

  1. Variabel Dependen

Variabel dependen atau variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabl independen atau variabel bebas.

Dalam penelitian ini sebagai variabel dependen atau variabel terikat adalah prestasi belajar matematika

  1. Variabel Moderator

Variabel moderator adalah variabel yang mempengaruhi untuk memperkuat atau memperlemah hubungan antara variabel independen atau variabel bebas dan variabel dependen atau variabel terikat.

Dalam penelitian ini sebagai variabel moderator adalah motivasi belajar siswa.

  1. Variabel Kontrol

Variabel kontrol adalah merupakan variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan, sehingga hubungan antara variabel independen atau variabel bebas dan variabel dependen atau variabel terikat tidak terganggu oleh faktor luar yang tidak diteliti (Sugiyono;2008’64).

Dalam penelitian ini yang menjadi variabel kontrol adalah guru, bahan ajar, media pembelajaran. keadaan kelas, dan alokasi waktu.

Definisi operasioanal dari masing-masing variabel

Definisi operasional variabel yang terdapat dalam penelitian ini perlu mendapat penjelasan atau definisi agar tidak menimbulkan kesalah pahaman dan kerancuan sekaligus memberikan maksud dan arah yang jelas

  1. Definisi operasional pembelajaran koperatif mdel Student Teams Achievement Division (STAD) berbasis lesson study.

Merupakan model pembelajaran kooperati model STAD yang dalam pelakasanaan pembelajaran mengikuti langkah-langkah penerapan model kooperatif model STAD yang dalam prosesnya menggunkan lesson study yang merupakan pembelajaran kolaboratif dimana dalam pembelajaran melibatkan beberapa guru serumpun. Satu guru sebagai pelaksana dan pengelola pembelajaran dan beberapa guru yang lain sebagai observer atau pengamat.

  1. Model Pembelajaran Inquiri terbimbing

Model Pembelajaran Inquiri terbimbing adalah model pembelajaran yang yang dalam pelakasanaan pembelajaran mengikuti langkah-langkah penerapan model inkuiri terbimbing

  1. Motivasi belajar

Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak dalam diri siswa untuk melakukan serangkaian kegiatan belajar guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

  1. Prestasi Belajar Matematika

Prestasi Belajar matematika adalah hasil yang telah dicapai siswa berupa nilai tes setelah dilaksanakan perlakuan.

Faktor yang diselidiki untuk mampu menjawab permasalahan, ada beberapa faktor yang ingin diselidiki. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Faktor siswa : yaitu melihat aktivitas/kegiatan siswa dalam mempelajari matematika khususnya pada saat mempelajari pokok bahasan bangun datar segitiga kelas VII
  2. Faktor guru : yaitu melihat atau memperhatikan guru dalam menyajikan materi pelajaran serta teknik yang digunakan guru dalam menerapkan model pembelajaran Inkuiri terbimbing berbasis lesson study dan kooperatif kooperatif model Student Teams Achievement Division (STAD)
  3. Faktor sumber pelajaran : yaitu melihat sumber atau bahan pelajaran yang digunakan, apakah sudah dapat mendukung pelaksanaan model pembelajaran yang diterapkan.
  1. D.          Metode Pengumpulan Data
  2. Langkah-langkah Pengumpulan Data.

Dalam penelitian ini pengambilan data dilakukan dengan menggunakan dua macam instrumen yaitu :

  1. Instrumen yang berfungsi sebagai pendukung pembelajaran didalam kelas yaitu :

a)             Silabus dan Rencana program Pengajaran (RPP)

b)            Angket motivasi

Menurut W.S. Winkel  SJM. Sc (1982:65) menyatakan bahwa kuesioner /angket tertulis untuk keperluan bimbingan merupakan suatu daftar kumpulan pertanyaan tertulis yang harus dijawab secara tertulis juga. Jadi metode angket adalah cara pengumpulan data penelitian yang berupa pertanyaan tertulus yang dibuat oleh peneliti dan harus dijawab secara tertulis. Karena daftar pertanyaan telah disusun oleh peneliti yang sudah disesuaikan dengan tujuan penelitian.

Alasan penggunaan metode angkeantara lain : efisiensi waktu, tenaga dan juga biaya, penggunaan metode angket yang terpenting adalah keakuratan dan kesesuaian data yang dipeoleh dengan tujuan penelitian, hal ini karena responden tinggal  memilih alternative jawaban yang paling sesuai dengan keadaan dirinya sendiri. Jenis Angket yang digunakan Angket pilihan , karena jawaban telah tersedia dan responden hanya memilih jawaban-jawaban, yang paling cocok dengan keadaan dirinya sendiri.

Dalam menyususn kuesioner ini peneliti menggunakan skala Liker, skala likert ini disebut juga Methode of Summated Rating  karena  nilai peringkat setiap jawaban atau tanggapan dijumlahkan sehingga mendapat nilai Total (Hadi ; 1987). Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena tertentu (Sugiyono, 2001:86). Didalam skala Likert alternatif jawaban selalu berbentuk rating seperti : seringkali, sering, jarang, jarang sekali, tidak pernah. Jadi dengan skala likert ini peneliti ingin mengetahui bagaimana motivasi belajar siswa SMP Negeri 1 Galis Kabupaten Bangkalan. Angket pertanyaan ini menggunakan lima alternatif jawaban dengan bobot skor sebagai berikut:

  1. Jawaban a diberi skor 5
  2. Jawaban b diberi skor 4
  3. Jawaban c diberi skor 3
  4. Jawaban d diberi skor 2
  5. Jawaban e diberi skor 1

Rincian angket motifasi belajar berdasarkan indikatornya disajikan dalam tabel berikut :

Tabel 3………. Kisi-kisi angket Motivasi belajar

No Indikator

No butir soal

Jumlah
1 Keinginan untuk bertanya 1,4,19 3
2 Perhatian terhadap mata pelajaran 2,3,15,17,18,20 6
3 Ketenangan didalam kelas 5,13 2
4 Perhatian terhadap tugas-tugas 6,9,11,12,14 5
5 Kemauan berdiskusi 8,10 2
6 Kemampuan untuk berprestasi 7,16 2

JUMLAH

20
  1. Instrumen Penilaian Prestasi belajar matematika

Untukmengukur prestasi belajar matematika siswa digunakan tes prestasi belajar matematika pada kompetensi dasar bangun datar segitiga kelas VII. Tes ini disusun dan dikembangkan dalam bentuk tes obyektif. Kisi-kisi soal , sebaran soal, dan butir soal terlampir.

  1. Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Baik buruknya suatu tes dapat diketahui dari tingkat validitas dan reliabilitas tes. Analisis validitas dan realibilitas butir soal tes prestasi belajar siswa dengan menggunakan validitas isi (content validity).

Validitas isi atau content validity mempersoalkan apakah isi butir soal tes yang diujikan mencerminkan isi kurikulum yang seharusnya diukur atau tidak. Cara untuk menguji validitas isi (content validity) adalah dengan pendekatan rasional yaitu membandingkan kisi-kisi soal dengan butir soalnya. Dalam kisi-kisi dimuat data tentang  pokok bahasan/sub pokok bahasan  atau kompetensi dasar serta aspek yang diukur yaitu kognitif, afektif, psikomotor, sehingga dengan menggunakan satu kisi-kisi soal dapat digunakan untuk melakukan uji validitas isi (content validity).

Peneliti berasumsi bahwa instrument tes prestasi belajar atau butir soal yang digunakan sudah memenuhi sarat sebagai instrument  yang baik yaitu butir soal yang sudah dinyatakan valid dan reliable tanpa uji empiris.

Dalam menyusun instrument tes prestasi belajar atau butir soal melalui langkah-langkah berikut :

  1. Butir soal yang digunakan sebagai sebagai instrument prestasi belajar diambil dari bank soal yang terdiri dari soal-soal ujian nasional, soal-soal ujian semester yang disusun oleh  MGMP Matematika
  2. Butir soal sudah disesuaikan dengan pokok bahasan/sub pokok bahasan atau kompetensi.
  3. Seluruh butir soal yang digunakan sudah melalui telaah butir soal oleh MGMP matematika  kluster bermutu Kab. Bangkalan
  4. Instrrumen yang digunakan sudah dikonsultasikan ke nara sumber tempat peneliti bertugas yaitu kepada pengawas bidang study.

Pengumpulan data dalam penelitian ini dikembangkan melalui langkah-langkah berikut :

  1. Pembuatan Instrumen
  2. Pelaksanaan Pre-tes
  3. Pemberian Perlakuan
  4. Perolehan prestasi belajar matematika
  1. E.           Metode Analisis  Data
  1. Uji Prasyarat
    1. Uji Normalitas

Analisis data awal digunakan untuk mengetahui apakah kedua sampel yang digunakan berdistribusi normal atau tidak. (Sudjono;2002)

Pengujian ini dilakukan dengan mengamati histogram atas nilai residual dan grafik normal probability plot. Deteksi dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik. Dasar pengambilan keputusan:

1)            Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas,

2)            Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan/atau tidak mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas (Santoso, 2000: 212).

Untuk uji Normalitas varians dalam penelitian ini menggunakan  bantuan SPSS for windows versi 14.0

  1. Uji Homogenitas Varian

Uji homogenitas varian bertujuan untuk mengetahui  apakah data yang dianalisisnhomogen atau tidak. Untuk menguji homogenitas varian digunakan rumus :

Kriteria Ho diterima jika

deangan dk pembilang = (n-1)  dan dk penyebut = (n-1)  dengan taraf signifikan  0,05  (Sudjana, 2002)

Untuk uji hipotesis data harus memiliki varians homogen.

Untuk uji homogenitas varians dalam penelitian ini menggunakan  bantuan SPSS for windows versi 14.0

  1. Uji Validitas

Suatu instrumen dikatakan valid jika instrumen ini mampu mengukur apa saja yang hendak diukurnya, mampu mengungkapkan apa yang ingin diungkapkan.

Djunaidi Lababa (2008) mengungkapkan bahwa mengungkap aspek-aspek yang hendak diteliti, maka diperlukan alat ukur yang baik dan berkualitas. Alat ukur tersebut dapat berupa skala atau tes . Sebuah tes yang baik harus memilik beberapa kriteria antara lainvalid, reliable, standar,ekonomis dan praktis. Sebuah tes dikatakan valid jika ia memang mengukur apa yang seharusnya diukur. Dalam bahasa yang hampir sama bahwa validitas adalah ukuran seberapa cermat suatu tes melakukan hungsi ukurnya.

Kevalidan sebuah alat ukur tergantung pada bagaimana hasil tes tersebut diinterpretasikan dan digunakan. Validitas merupakan penilaian menyeluruh dimana bukti empiris dan logika teori mendukung pengambilan keputusan serta tindakan berdasarkan skor tes atau model-model penilaian yang lain. Jika dikaitkan dengan bidang psikologi, penggunaan validitas dapat dijumpai dalam tiga kontek yaitu validitas penelitian, validitas soal dan validitas alat ukur. Validitas penelitian merupakan derajad kesesuaian hasil penelitian dengan keadaan sebenarnya. Validitas soal berkaitan dengan kesesuaian antara suatu soal dengan soal lain. Sedangkan validitas alat ukur merujuk pada kecermatan ukurnya suatu tes.

Validitas tes dapat dibagi tiga kelompok utama yaitu : 1) validitas isi (conten validity), 2) validitas konstruk (construct validity) dan 3) validitas kriteria (criterion related validity). Meskipun idealnya validitas dapat dilakukan dengan memakai semua bentuk validitas tes tersebut, tetapi pengembang tes dapat memilih bentuk validitas dengan melihat tujuan pengembang tes.

Dalam penelitian ini validitas kriteria (criterion related validity) yaitu validitas yang disusun berdasarkan criteria yang telah ada sebelumnya. Kevalidan alat ukur dilihat dari sejauh mana hasil pengukuran tersebut sama dengan hasil pengukuran alat lain yang dijadikan criteria. Untuk memperoleh validitas criteria diperlukan pengujian dengan menggunakan korelasi.

Formula yang digunakan untuk mencari nilai validitas dalam penelitian ini adalah korelasi Product Moment (Pearson) yang dirumuskan sebagai berikut :

Keterangan :

= koefisien korelasi product moment

x      = variable pertama

y      = variable kedua

n      = jumlah data

(Arikunto, dalam Priyatno, 2008:54)

Besarnya r tiap butir pernyataan dapat dilihat dari hasil analisis SPSS pada kolom Corrected items Total correlation. Kriteria uji validitas secara singkat (rule of tumb) adalah 0.3. JIka korelasi sudah lebih besar dari 0.3, pertanyaan yang dibuat dikategorikan shahih/valid (Setiaji, 2004: 59).

Untuk uji validitas butir soal dalam penelitian ini  menggunakan  bantuan SPSS for windows versi 14.0

  1. Uji Reliabilitas

Pengujian reliabilitas ini hanya dilakukan terhadap butir-butir yang valid, yang diperoleh melalui uji validitas. Selanjutnya untuk melihat tingkat reliabilitas data, SPSS memberikan fasilitas untuk mengukur reliabilitas, jika Cronbach Alpha (G) > 0.6 maka reliabilitas pertanyaan bisa diterima (Setiaji 2004 : 59).

Untuk uji Reliabilitasbutir soal dalam penelitian ini menggunakan  bantuan SPSS for windows versi 14.0

  1. F.           Analisis Data
    1. Analisis data Motivasi belajar

Analisis data motivasi belajar siswa digunakan skala Likert. Selanjutnya untuk mengetahui motivasi belajar tinggi dan motivasi belajar rendah digunakan kriteria kontinum berskala yaitu :

1                         2                      3                      4                      5

Motivasi rendah                         Motivasi tinggi

Setelah data terkumpul kemudian masing-masing data dianalisis yang terlebih dahulu ditentukan rerata skor angket motivasi belajar matematika dibagi dengan jumlah butir soal, kemudian diinterpretasikan kedalam skala tersebut diatas dengan rumus :

  1. Uji Hipotesis

Dalam hal ini ada tiga hal yang dilakukanyaitu uji keberbedaan(uji beda rata-rata), Analisis varian satu faktor (One Way Anova) dan Analisa varian dua faktor (Two-Way Anova)

  1. Uji keberbedaan (uji beda rata-rata)

Dalam uji keberbedaan ini peneliti mengadakan

1)            Analisis keberbedaan prestasi belajar matematika kelas VII dengan pembelajaran kooperatif model STAD berbasis lesson study pada SMP Negeri 1 Galis Bangkalan.

2)            Analisis keberbedaan prestasi belajar matematika kelas VII dengan pembelajaran inkuiri terbimbing pada SMP Negeri 1 Galis Bangkalan.

3)            Analisis keberbedaan prestasi belajar matematika kelas VII dengan pembelajaran kooperatif model STAD berbasis lesson study yang bermotivasi tinggi  pada SMP Negeri 1 Galis Bangkalan.

4)            Analisis keberbedaan prestasi belajar matematika kelas VII dengan pembelajaran kooperatif model STAD berbasis lesson study yang bermotivasi rendah  pada SMP Negeri 1 Galis Bangkalan.

5)            Analisis keberbedaan prestasi belajar matematika kelas VII dengan pembelajaran inkuiri terbimbing yang bermotivasi tinggi pada SMP Negeri 1 Galis Bangkalan.

6)            Analisis keberbedaan prestasi belajar matematika kelas VII dengan pembelajaran inkuiri terbimbing yang bermotivasi  rendah pada SMP Negeri 1 Galis Bangkalan.

7)            Analisis keberbedaan prestasi belajar matematika kelas VII dengan pembelajaran kooperatif model STAD berbasis lesson study dan pembelajaran inkuiri terbimbing di SMP Negeri 1 Galis Bangkalan

8)            Analisis keberbedaan prestasi belajar matematika kelas VII dengan pembelajaran kooperatif model STAD  berbasis lesson study dan pembelajaran inkuiri terbimbing yang bermotivasi tinggi di SMP Negeri 1 Galis Bangkalan

9)            Analisis keberbedaan prestasi belajar matematika kelas VII dengan pembelajaran kooperatif model STAD  berbasis lesson study dan pembelajaran inkuiri terbimbing yang bermotivasi tinggi di SMP Negeri 1 Galis Bangkalan

Hipotesis yang diajukan adalah :

Ho  :   λ1 =   λ2  = 0

H1  :   λ1 ≠   λ2  ≠ 0

Dasar pengambilan keputusan dalam pengujian hipotesis

Jika thitung  <  ttabel maka    Hditerima

Jika thitung  >  ttabel maka    Hditolak

Dalam penelitian ini menggunakan  bantuan SPSS for windows versi 14.0

  1. Analisa varian Satu Faktor (One Way Anova)

Hipotesis yang diajukan  adalah :

Ho  :   π1  =    π2  =   π3  =  0 (rata-rata populasi identik )

H1  :   π1  ≠    π2  ≠   π3  =  0 (rata-rata populasi tidak identik )

BAB I

PENDAHULUAN

A             Latar Belakang

Kepala sekolah selaku pemimpin secara langsung merupakan contoh nyata dalam aktivitas kerja bawahannya. Kepala sekolah yang rajin, cermat, peduli terhadap bawahan akan berbeda dengan gaya kepemimpinan yang acuh tak acuh, kurang komunikatif apalagi arogan dengan komunitas sekolahnya. Beban kepala sekolah tidak ringan, untuk dapat mengkoordinasi sistem kerja yang mampu memuaskan berbagai pihak tidak gampang. Meskipun demikian kepala sekolah yang baik tentunya harus memiliki skala prioritas kerja dengan tidak mengabaikan tugas pokok selaku kepala sekolah.

Peraturan menteri pendidikan nasional (Permendiknas) nomor 13 tahun 2007 tentang standar kepala sekolah/madrasah menjelaskan bahwa kepala sekolah harus memiliki dimensi kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi dan sosial. Selama ini dimensi kompetensi supervisi belum dilaksanakan secara optimal oleh para kepala sekolah berbagai jenjang. Kepala sekolah, mayoritas baru berkutat pada seputar pemenuhan kebutuhan sarana pembelajaran dan bagaimana sekolah dapat meraih nilai ujian nasional yang maksimal. Aktivitas guru belum mendapat perhatian dan sentuhan kasih sayang secara memadai. Yang ironis lagi ada kepala sekolah yang justru mencurigai aktivitas guru.

Jalinan komunikasi antara guru dan kepala sekolah memang harus dioptimalkan, kita sering keliru persepsi atau bahkan saling mencurigai karena ketidak-tahuan masing-masing pihak. Oleh karena itu sangat bijaksana bila kepala sekolah sebagai panutan warga sekolah mau memberi contoh baik sekaligus mau membangun komunikasi dengan warga sekolah dengan penuh kekeluargaan. Selama ini kepala sekolah, mayoritas baru sekadar mengeluhkan anak buahnya, sementara mereka dengan sesuka hati dan berdalih menjalankan tugas dinas luar tanpa sepengetahuan bawahannya.

Kompetensi supervisi kepala sekolah berdasar Permendiknas nomor 13 tahun 2007 meliputi tugas merencanakan program supervisi akademik dalam rangka profesionalitas guru, melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat serta menindaklanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru

Supervisi di kelas oleh kepala sekolah merupakan jembatan komunikasi antara guru dan pimpinannya. Oleh karena itu, sudah seharusnya frekuensi pelaksanaan supervisi ini untuk selalu ditingkatkan atau bahkan dimaksimalkan. Melalui langkah ini penulis meyakini komunikasi antara guru dan kepala sekolah akan tambah harmonis. Keduabelah pihak saling memahami kebutuhan pendidikan dan tentunya akan menghasilkan pemahaman yang saling menguntungkan. Hal ini sangat penting dalam rangka peningkatan produktivitas kerja sehingga sekolah dapat mencapai hasil yang optimal pula.

Motivasi menurut Hasibuan (2000: 142) adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan seseorang agar mereka mau bekerja sama, bekerja efektif dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan. Jadi motivasi mempersoalkan bagaimana caranya mengarahkan daya dan potensi bawahannya, agar mau bekerja sama secara produktif, berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditentukan. Pentingnya motivasi karena motivasi adalah hal yang menyebabkan, menyalurkan dan mendukung perilaku manusia, supaya mau bekerja giat dan antusias mencapai hasil yang optimal.

Motivasi kerja bagi guru sebagai pendidik diperlukan untuk meningkatkan kinerjanya. Motivasi adalah kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan organisasi yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu dalam memenuhi beberapa kebutuhan individu. Motivasi akan berakibat pada kepuasan kerja, Kepuasan kerja berkenaan dengan kesesuaian antara harapan seseorang dengan imbalan yang disediakan.

Motivasi kerja guru berdampak pada prestasi kerja, disiplin, kualitas kerjanya. Pada guru yang puas terhadap pekerjaannya maka kinerjanya akan meningkat kemungkinan akan berdampak positif terhadap peningkatan mutu pendidikan.

Kinerja guru atau prestasi kerja (Hasibuan,2001:94) adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman, dan kesungguhan. Kinerja guru akan baik jika guru telah melakukan unsur-unsur yang terdiri dari kesetiaan dan komitmen yang tinggi pada tugas mengajar, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran, kedisiplinan dalam mengajar dan tugas lainnya, kreativitas dalam pelaksanaan pengajaran, kerjasama dengan semua warga sekolah, kepemimpinan yang menjadi panutan siswa, kepribadian yang baik, jujur dan objektif dalam membimbing siswa, serta tanggung jawab terhadaptugasnya.

Oleh karena itu tugas kepala sekolah selaku manager adalah melakukan penilaian terhadap kinerja guru. Penilaian ini penting untuk dilakukan mengingat fungsinya sebagai alat motivasi bagi pimpinan kepada guru maupun bagi guru itu sendiri.

Berdasarkan hasil temuan penulis (wawancara non formal) ada beberapa guru di SMP  di Kecamatan Blega Kabupaten Bangkalan bahwa masih banyak kendala atau persoalan yang berkaitan dengan pelaksanaan supervisi kepala sekolah. Secara umum persoalan tersebut meliputi: kualitas supervisi dari kepala sekolah yang masih tergolong rendah , masih takutnya para guru dengan adanya supervise kepala sekolah. Padahal tujuan supervisi untuk membantu guru-guru melihat dengan jelas tujuan pendidikan dan berusaha mencapai tujuan pendidikan itu dengan membina dan mengembangkan metode-metode dan prosedur pengajaran yang lebih baik.

Selain itu masih banyak guru kurang berhasil dalam mengajar dikarenakan mereka kurang termotivasi untuk mengajar sehingga berdampak terhadap menurunnya produktivitas/kinerja guru.Untuk itu diperlukan peran kepala sekolah untuk memotivasi para guru dalam meningkatkan kinerjanya.

Berdasarkan pengamatan penulis yang dikaitkan dengan situasi dan kondisi faktual di lingkungan SMP sekecamatan Blega kabupaten Bangkalan, yang terlihat masih ada guru yang bekerja sampingan diluar sekolah, masih ada guru yang belum mengikuti pelatihan-pelatihan yang dilakukan untuk mengembangkan kemampuan dan ketrampilan guru, masih ada guru yang mengajar tidak mempunyai persiapan mengajar atau ada persiapan mengajar namun tidak lengkap. Dengan demikian fenomena yang terjadi diatas bisa disebabkan oleh banyak faktor, namun peneliti hanya melihat dari faktor supervisi kepala sekolah dan  motivasi. Untuk itu perlu kiranya dirumuskan secara mendalam, usaha – usaha secara terpadu dan berkesinambungan melalui penerapan analisis supervisi kepala sekolah dan motivasi terhadap kinerja pegawai yang dikembangkan di lingkungan SMP di kecamatan Blega Kabupaten Bangkalan.

 

  1. B.            Identifikasi Masalah

Sesuai dengan uraian pada latar belakang di atas maka permasalahan yang timbul dapat diidentifikasikan sebagai berikut :

  1. Apakah terdapat hubungan positif antara supervisi kepala sekolah dengan kinerja guru pada SMP Kecamatan Blega Kabupaten Bangkalan?
  2. Apakah terdapat hubungan positif antara motivasi dengan kinerja guru pada SMP Kecamatan Blega Kabupaten Bangkalan?
  3. Apakah terdapat hubungan positif  secara bersama-sama antara supervisi kepala sekolah, motivasi dengan kinerja guru pada SMP Kecamatan Blega Kabupaten Bangkalan?
  1. Pembatasan Masalah

Mengingat Kinerja Guru banyak  dipengaruhi oleh banyak faktor, baik yang bersifat internal (yang datang dari dalam diri) maupun yang bersifat eksternal (yang datang dari luar diri – instrumental input dan environmental input). Namun karena keterbatasan peneliti maka dalam hal ini hanya membatasi pada faktor supervisi kepala sekolah dan motivasi saja

  1. D.           Rumusan Masalah
    1. Apakah supervisi Kepala sekolah dan motivasi mempengaruhi kinerja guru pada SMP Kecamatan Blega Kabupaten Bangkalan
    2. Seberapa besar pengaruh factor-faktor tersebut terhadap kinerja guru pada SMP Kecamatan Blega Kabupaten Bangkalan?
  1. E.            Tujuan Penelitian
    1. Untuk mengetahui pengaruh supervisi Kepala sekolah dan motivasi terhadap kinerja guru pada SMP Kecamatan Blega Kabupaten Bangkalan
    2. Untuk mengetahui fakor-faktor yang paling dominan mempengaruhi kinerja guru pada SMP Kecamatan Blega Kabupaten Bangkalan?
  1. F.            Manfaat Penelitian
    1. Untuk menyelesaian tugas akhir kuliah Program Pascasarjana Megister Teknologi Pembelajaran di Universitas PGRI Adi Buana Surabaya
    2. Untuk menambah wawasan peneliti dalam mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh selama ini.
    3. Sebagai masukan bagi Sekolah Menengah Pertama (SMP)  dalam upaya meningkatkan kinerja guru.
    4. Sebagai masukan bagi Dinas Pendidikan Kabupaten Bangkalan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan.
    5. Sebagai bahan masukan untuk referensi penelitian yang lebih lanjut


BAB III

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

 

  1. A.           Supervisi
    1. 1.             Pengertian Supervisi Kepala Sekolah

Dalam kaitannya dengan supervisi yang dilakukan oleh Kepala Sekolah, Menurut (Purwanto, 2004:32). pengertian supervisi adalah “suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif” Menurut Jones dalam Mulyasa (2003:155), supervisi merupakan “bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh proses administrasi pendidikan yang ditujukan terutama untuk mengembangkan efektivitas kinerja personalia sekolah yang berhubungan tugas-tugas utama pendidikan”. Menurut Carter dalam Suhertian (2000:17) supervisi adalah “usaha dari petugas-petugas sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas-petugas lainnya dalam memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulasi, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru serta merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan pengajaran dan metode serta evaluasi pengajaran.”

Supervisi adalah aktivitas menentukan kondisi/syarat-syarat yang essensial yang akan menjamin tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Dari definisi tersebut maka tugas kepala sekolah sebagai supervisor berarti bahwa dia hendaknya pandai meneliti, mencari, dan menentukan syarat-syarat mana sajakah yang diperlukan bagi kemajuan sekolahnya sehingga tujuan-tujuan pendidikan di sekolah itu semaksimal mungkin dapat tercapai.

Jadi supervisi kepala sekolah merupakan upaya seorang kepala sekolah dalam pembinaan guru agar guru dapat meningkatkan kualitas mengajarnya dengan melalui langkah-langkah perencanaan, penampilan mengajar yang nyata serta mengadakan perubahan dengan cara yang rasional dalam usaha meningkatkan hasil belajar siswa.

  1. Karakteristik Supervisi

Menurut Mulyasa (2004:112) Salah satu supervisi akademik yang populer adalah supervisi klinis, yang memiliki karakteristik sebagai berikut:

  1. Supervisi diberikan berupa bantuan (bukan perintah), sehingga inisiatif tetap berada di tangan tenaga kependidikan.
  2. Aspek yang disupervisi berdasarkan usul guru, yang dikaji bersama kepala sekolah sebagai supervisor untuk dijadikan kesepakatan.
  3. Instrumen dan metode observasi dikembangkan bersama oleh guru dan kepala sekolah.
  4. Mendiskusikan dan menafsirkan hasil pengamatan dengan mendahulukan interpretasi guru.
  5. Supervisi dilakukan dalam suasana terbuka secara tatap muka, dan supervisor lebih banyak mendengarkan serta menjawab pertanyaan guru daripada memberi saran dan pengarahan.
  6. Supervisi klinis sedikitnya memiliki tiga tahap, yaitu pertemuan awal, pengamatan, dan umpan balik.
  7. Adanya penguatan dan umpan balik dari kepala sekolah sebagai supervisor terhadap perubahan perilaku guru yang positif sebagai hasil pembinaan.
  8. Supervisi dilakukan secara berkelanjutan untuk meningkatkan suatu keadaan dan memecahkan suatu masalah.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa supervisi klinis lebih berorientasi kepada penemuan masalah secara obyektif. Masalah tersebut bukan untuk menekan bawahan,akan tetapi untuk dianalisis dan dilakukan pemecahan masalah (problem solving) secara bersama-sama.

  1. Faktor yang Memengaruhi Berhasil Tidaknya Supervisi

Menurut Purwanto (2004:118) ada beberapa faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya supervisi atau cepat-lambatnya hasil supervisi antara lain:

  1. Lingkungan masyarakat tempat sekolah itu berada.
  2. Besar-kecilnya sekolah yang menjadi tanggung jawab kepala sekolah.
  3. Tingkatan dan jenis sekolah..
  4. Keadaan guru-guru dan pegawai yang tersedia.
  5. Kecakapan dan keahlian kepala sekolah itu sendiri.

Di antara faktor-faktor tersebut faktor  Kecakapan dan keahlian kepala sekolah itu sendiri adalah yang terpenting. Bagaimanapun baiknya situasi dan kondisi yang tersedia, jika kepala sekolah itu sendiri tidak  mempunyai kecakapan dan keahlian yang diperlukan, semuanya itu tidak akan ada artinya. Sebaliknya, adanya kecakapan dan keahlian yang dimiliki oleh kepala sekolah, segala kekurangan yang ada akan menjadi perangsang yang mendorongnya untuk selalu berusaha memperbaiki dan menyempurnakannya.

  1. Fungsi Kepala Sekolah Sebagai Supervisor

Kegiatan atau usaha-usaha yang dapat dilakukan oleh kepala sekolah sesuai dengan fungsinya sebagai supervisor menurut Purwanto  (2004:119)  antara lain :

  1. Membangkitkan dan merangsang guru-guru dan pegawai sekolah di dalam menjalankan tugasnya masing-masing dengan sebaik-baiknya.
  2. Berusaha mengadakan dan melengkapi alat-alat perlengkapan sekolah termasuk media instruksional yang diperlukan bagi kelancaran dan keberhasilan proses belajar-mengajar.
  3. Bersama guru-guru berusaha mengembangkan, mencari, dan menggunakan metode-metode mengajar yang lebih sesuai dengan tuntutan kurikulum yang sedang berlaku.
  4. Membina kerja sama yang baik dan harmonis di antara guru-guru dan pegawai sekolah lainnya.
  5. Berusaha mempertinggi mutu dan pengetahuan guru-guru dan pegawai sekolah, antara lain dengan mengadakan diskusi-diskusi kelompok, menyediakan perpustakaan sekolah, dan atau mengirim mereka untuk mengikuti penataran-penataran, seminar, sesuai dengan bidangnya masing-masing.
  6. Membina hubungan kerja sama antara sekolah komite sekolah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan para siswa.
  1. B.            Motivasi

Motivasi  menurut Anoraga (1998:35) adalah sesuatu yang menimbulkan semangat atau dorongan dan kerja. Oleh sebab itu, motivasi kerja dalam psikologi sebagai pendorong semangat  kerja .  Guru  menjadi  seorang  pendidik  karena adanya motivasi untuk mendidik. Bila tidak punya motivasi maka ia tidak akan berhasil untuk mendidik/mengajar. Keberhasilan guru dalam mengajar karena dorongan/motivasi ini sebagai pertanda apa yang telah dilakukan oleh guru telah menyentuh kebutuhannya. Kegiatan mengajar yang dilakukan oleh guru yang diminatinya karena sesuai dengan kepentingannya sendiri. Guru yang termotivasi dalam bekerja maka akan menimbulkan kepuasan kerja, karena kebutuhan- kebutuhan guru yang terpenuhi mendorong guru meningkatkan kinerjanya.

Berikut ini adalah tiga teori spesifik yang merupakan penjelasan yang paling baik untuk motivasi karyawan yang dikutip oleh Robbins (2003:209-216) :

  1. 1.             Teori Hierarki kebutuhan dari Abraham Maslow

Terdiri dari kebutuhan fisiologis, keamanan,sosial,penghargaan dan aktualisasi diri. Kebutuhan fisiologis, keamanan, sosial merupakan kebutuhan tingkat rendah (faktor eksternal) dan kebutuhan penghargaan,aktualisasi diri merupakan kebutuhan tingkat tinggi(faktor internal). Teori ini mengasumsikan bahwa orang berupaya memenuhi kebutuhan yang lebih pokok (psikologi) sebelum memenuhi kebutuhan yang tertinggi (aktualisasi diri)

  1. 2.             Teori Dua Faktor

Dua faktor itu dinamakan faktor yang membuat orang merasa tidak puas dan faktor yang membuat orang merasa puas (Dissatisfier–Satisfier) atau faktor yang membuat orang merasa sehat dan faktor yang memotivasi orang (Hygiene–Motivators), atau faktor ekstrinsik dan intrinsik (Extrinsic –Intrinsic).

  1. Teori kebutuhan McClelland:

Mc Clelland memberikan tiga tingkatan kebutuhan tentang motivasi sebagai berikut : Kebutuhan akan prestasi (Need for Achievement ), afiliasi (Need for Affiliation). kekuasaan (Need for Power)

Ada berbagai macam motivasi dalam diri manusia yang tergantung kepada kebutuhan mana yang akan diutamakan. Apabila kebutuhan utama tersebut telah terpenuhi maka akan timbul kebutuhan lain yang sebelumnya dimiliki, sehingga akan berlanjut terus sampai kepada kebutuhan yang belum pernah dimiliki oleh orang lain. Artinya, manusia dapat saja menggunakan orang lain sebagai patokan terhadap suatu kebutuhan untuk memotivasi mencapai hal yang sama tetapi dapat juga untuk mencapai hal-hal lain karena berbeda terhadap sesuatu yang diinginkan. Manusia umumnya cenderung mendapatkan sesuatu yang sama atau berbeda dengan orang lain bila kondisi internal maupun kondisi eksternal mendukung kearah tersebut. Hal ini yang secara tidak langsung menunjukkan kuatnya motivasi berupa kemampuan diri guna meraih apa yang pernah maupun yang belum pernah diraih oleh orang lain atau dengan kata lain bahwa individu tersebut juga mempunyai kemampuan untuk melakukan sesuatu. Dengan demikian, motivasi yang diharapkan dari guru adalah bahwa fungsi dari motivasi tersebut dapat mempengaruhi kinerja guru. Motivasi mempersoalkan bagaimana caranya gairah kerja guru, agar guru mau bekerja keras dengan menyumbangkan segenap kemampuan, pikiran, keterampilan untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Para guru mempunyai cadangan energi potensial, bagaimana energi tersebut akan dilepaskan atau digunakan tergantung pada kekuatan dorongan motivasi seseorang dan situasi serta peluang yang tersedia.

Dalam Hasibuan (2003:162-163), Mc. Clelland mengemukkan teorinya yaitu Mc. Clelland’s Achievement Motivation Theory atau Teori Motivasi Prestasi Mc. Clelland. Teori ini berpendapat bahwa karyawan mempunyai cadangan energi potensial. Bagaimana energi dilepaskan dan digunakan tergantung pada kekuatan dorongan motivasi seseorang dan situasi serta peluang yang tersedia. Energi akan dimanfaatkan oleh karyawan karena dorongan oleh :

  1. kekuatan motif dan kekuatan dasar yang terlibat,
  2. harapan keberhasilannya,
  3. nilai insentif yang terletak pada tujuan.

Menurut pendapat dari Maslow yang dikenal dengan “Teori Kebutuhan Manusia” adalah bahwa seseorang mempunyai lima (5) tipe kebutuhan dan kebutuhan ini akan digunakan untuk menyusun hirarki. Artinya, kebutuhan dibangun atas dasar dari bawah keatas atau dengan kata lain bahwa kebutuhan harus dipenuhi sebelum dipicu oleh kebutuhan selanjutnya. Adapun kebutuhan tersebut adalah kebutuhan :

  1. Fisiologis
  2. KebutuhanKemanan
  3. Kebutuhan Sosial
  4. Kebutuhan Penghargaan
  5. Kebutuhan Aktualisasi diri

Apabila kebutuhan-kebutuhan tersebut terpenuhi, maka seseorang akan termotivasi dalam melakukan serta menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya termasuk profesi sebagai guru. Teori ini menyatakan bahwa seseorang berperilaku karena didorong oleh adanya keinginan untuk memperoleh pemenuhan dalam bermacam-macam kebutuhan.

Berbagai kebutuhan yang dinginkan oleh seseorang berjenjang, artinya apabila kebutuhan pada jenjang pertama telah dapat dipenuhi, maka kebutuhan jenjang kedua akan mengutamakan apabila kebutuhan pada jenjang kedua telah dapat dipenuhi, maka kebutuhan jenjang ketiga akan menonjol, demikian seterusnya sampai dengan kebutuhan jenjang kelima. Jika kebutuhan guru tersebut terpenuhi berarti guru memperoleh dorongan dan daya gerak untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Ini berarti kinerja guru dapat tercapai dengan baik. Kinerja yang tercapai dengan baik itu terlihat dari guru yang rajin hadir di sekolah dan rajin dalam mengajar, guru mengajar dengan sungguh-sungguh menggunakan rencana pelajaran, guru mengajar dengan semangat dan senang hati, menggunakan media dan metode mengajar yang sesuai dengan materi pelajaran, melakukan evaluasi pengajaran dan menindaklanjuti hasil evaluasi. Apa yang dilakukan oleh guru ini akan berdampak kepada keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar.

Menurut Semiawan dalam Tesis Sri Sugiyati (1984: 29) dinyatakan bahwa seseorang yang memiliki motivasi akan memenuhi karakteristik sebagai berikut :

  1. Tekun menghadapi tugas,
  2. ulet menghadapi kesulitan,
  3. tidak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi,
  4. ingin mendalami pekerjaan yang dipercayakan kepadanya,
  5. selalu berusaha untuk berprestasi sebaik mungkin,
  6. menunjukan minat yang positif,
  7. lebih senang bekerja mandiridan bosan terhadap tugas-tugas yang rutin,
  8. senang memecahkan persoalan yang dialami selama bekerja

 

  1. C.           Kinerja Guru

Menurut Mangkunegara dalam Vivi,Rorlen (2007:53) mengatakan bahwan istilah kinerja berasal dari kata “job performance” atau “actual performance” yaitu unjuk kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

Menurut Purwadarminta (1990) kinerja atau prestasi kerja adalah hasil yang telah dicapai, sedangkan menurut Saidi (1992) kinerja adalah kemampuan, kesanggupan dan kecakapan seseorang atau suatu bangsa. Prestasi kerja atau kinerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya. Secara teoritis penilaian atau pengukuran prestasi kerja atau kinerja memberikan informasi yang dapat digunakan pimpinan untuk membuat keputusan tentang promosi jabatan. Penilaian prestasi kerja atau kinerja memberikan kesempatan kepada pimpinan dan orang yang dinilai untuk secara bersama membahas perilaku kerja dari yang dinilai. Pada umumnya setiap orang menginginkan dan mengharapkan umpan balik mengenai prestasi kerjanya. Penilaian memungkinkan bagi penilai dan yang dinilai untuk secara bersama menemukan dan membahas kekurangan-kekurangan yang terjadi dan mengambil langkah perbaikannya.

Menurut Steers (1985) prestasi kerja seseorang merupakan gabungan dari tiga faktor penting yaitu:

  1. Kemampuan, perangai, minat;
  2. Kejelasan, dan penerimaan atas penjelasan seorang pekerja;
  3. Tingkat motivasi.

Menurut RefniDelfi,dkk ( 2007:111)  kompetensi instruksional yang diperlukan guru untuk mengajar di kelas meliputi sebelas jenis kemampuan utama sebagai berikut:

  1. penguasaan dasar-dasar ilmu kependidikan,
  2. penguasaan teoribelajar dan prinsip-prinsip pembelajaran serta penerapannya dalam proses pembelajaran,
  3. kemampuan memahami karakteristik peserta didik sebagai warga belajar,
  4. kemampuan memilih dan mengembangkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan dan materi pelajaran,
  5. kemampuan memilih dan mengembangkan alat dan bahan ajar serta memanfaatkan media dansumber belajar,
  6. kemampuan memilih dan mengembang-kan alat evaluasi hasil belajar yang sesuai dengan tujuan belajar,
  7. kemampuan menyusun rencana pembelajaran,
  8. kemampuan mengelola interaksi kelas serta menciptakan proses belajar yang optimal,
  9. kemampuan memperagakan unjuk kerja pembelajaran,
  10. kemampuan menilai proses dan hasil pembelajaran,
  11. kemampuan mengajarkan ilmu yang dimilikinya secara profesional.
  1. Kerangka Berpikir
    1. Hubungan Supervisi Kepala Sekolah dengan Kinerja Guru.

Pelaksanaan kegiatan supervisi dilaksanakan oleh kepala sekolah dalam memberikan pembinaan kepada guru. Hal tersebut karena proses belajar-mengajar yang dilaksakan guru merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Oleh karena kegiatan supervisi dipandang perlu untuk memperbaiki kinerja guru dalam proses pembelajaran

Supervsi yang dilakukan oleh Kepala Sekolah kepada guru-guru. secara rutin dan terjadwal dengan harapan agar guru mampu memperbaiki proses pembelajaran yang dilaksanakan. Dalam prosesnya, kepala sekolah memantau secara langsung ketika guru sedang mengajar. Guru mendesain kegiatan pembelajaran dalam bentuk rencana pembelajaran kemudian kepala sekolah mengamati proses pembelajaran yang dilakukan guru. Saat kegiatan supervisi berlangsung, kepala sekolah menggunakan leembar observasi yang sudah dibakukan, yakni Alat Penilaian Kemampuan Guru (APKG). APKG terdiri atas APKG 1 (untuk menilai Rencana Pembelajaran yang dibuat guru) dan APKG 2 (untuk menilai pelaksanaan proses pembelajaran) yang dilakukan guru.

Berdasarkan uraian di atas patut diduga bahwa terdapat hubungan antara

Supervise kepala sekolah dengan kinerja guru.Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hubungan Supervise kepala sekolah dengan kinerja guru adalah positif.

  1. 2.             Hubungan Motivasi dengan Kinerja Guru.

Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kinerja guru adalah motivasi. Oleh karena itu upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kinerja guru adalah dengan meningkatkan faktor motivasi yaitu kebutuhan fisologis, kebutuhan keamanan, kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan dan kebutuhan aktualisasi diri.

Disamping itu motivasi kerja guru sebagai perangsang keinginan dan daya gerak yang menyebabkan seorang guru bersemangat dalam mengajar karena terpenuhi kebutuhannya. Guru yang bersemangat dalam mengajar terlihat dalam ketekunannya ketika melaksanakan tugas, ulet, minatnya yang tinggi dalam memecahkan masalah, penuh kreatif dan sebagainya. Hal ini berdampak pada kepuasan kerja guru yang akhirnya mampu menciptakan kinerja yang baik.

  1. Hubungan Antara Supervisi Kepala Sekolah dan Motivasi Secara Bersama-sama dengan Kinerja Guru.

Berdasarkan gagasan-gagasan di atas jelaslah bahwa kinerja guru ditentukan oleh banyak faktor. Faktor-faktor tersebut secara sendiri-sendiri maupun secara bersamaan ikut berperan menentukan tercapainya kinerja guru yang maksimal.

Dari literatur tentang kinerja guru diketahui secara umum, kinerja guru ditentukan oleh faktor internal yaitu faktor yang berhubungan dengan keadaan diri sendiri dan faktor eksternal yaitu faktor yang berhubungan dengan keadaan yang berada di luar diri guru.

Dari sekian faktor eksternal yang terdapat dua faktor dominan yang menurut penulis ikut menentukan kualitas kinerja guru yaitu supervisi kepala sekolah dan motivasi.

Kinerja guru adalah tingkat keberhasilan guru di dalam melaksanakan tugas

dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, maka dapat diduga

terdapat hubungan positif secara bersama-sama antara Supervisi kepala sekolah dan motivasi dengan kinerja guru.

.Kerangka Berpikir ini dapat dilihat dalam diagram dibawah ini

Ket :             = berpengaruh

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

  1. A.        Populasi dan Sampel penelitian
    1. 1.             Populasi

Populasi terdiri dari seluruh guru SMP sekecamatan Blega kabupaten Bangkalan.. Tehnik pengambilan sampel adalah purposive sampling yaitu dengan memilih guru-guru SMP Negeri dan swasta yaitu seluruh Guru SMP Negeri 1 Blega, SMP Negeri 2 Blega dan SMP Ijadul Himam Blega karena sekolah tersebut telah terakreditasi minimal B

  1. 2.             Sampel

Sampel yang digunakan adalah seluruh guru pada SMPN 1 Blega yang jumlahnya 40 orang SMPN 2 Blega yang jumlahnya 35 orang dan SMPS Ijadul Himam Blega sebanyak 17 orang.

 

  1. B.        METODE PENGUMPULAN DATA

Penelitian ini dilakukan pada SMP Kecamatan Blega Kabupaten Bangkalan, dengan menggunakan dua data, yakni data primer yang diambil langsung dari sumbernya dengan menggunakan kuisioner dan data sekunder.

  1. 1.             Data Primer

Maksudnya adalah data yang dihasilkan dari jawaban angket yang masih data kualitatif meliputi data mengenai supervisi kepala sekolah, motivasi dan data kinerja pegawai pada SMP Kecamatan Blega Kabupaten Bangkalan

Dalam menyususn kuesioner ini peneliti menggunakan skala Likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena tertentu (Sugiyono, 2001:86). Jadi dengan skala likert ini peneliti ingin mengetahui bagaimana supervisi kepala sekolah,motivasi kerja serta kinerja guru di SMP Kecamatan Blega Kabupaten Bangkalan.

Angket pertanyaan ini menggunakan lima alternatif jawaban dengan

bobot skor sebagai berikut:

  1. Jawaban a diberi skor 5
  2. Jawaban b diberi skor 4
  3. Jawaban c diberi skor 3
  4. Jawaban d diberi skor 2
  5. Jawaban e diberi skor 1
  6. 2.             Data Sekunder

Data sekunder bersumber dari dokumentasi data pegawai, hasil wawancara  pada Guru SMP Kecamatan  Blega Kabupaten Bangkala.

  1. C.   Pengujian Instrumen Penelitian
    1. 1.             Uji Validitas

Suatu instrumen dikatakan valid jika instrumen ini mampu mengukur apa saja yang hendak diukurnya, mampu mengungkapkan apa yang ingin diungkapkan.

Besarnya r tiap butir pernyataan dapat dilihat dari hasil analisis SPSS pada kolom Corrected items Total correlation. Kriteria uji validitas secara singkat (rule of tumb) adalah 0.3. JIka korelasi sudah lebih besar dari 0.3, pertanyaan yang dibuat dikategorikan shahih/valid (Setiaji, 2004: 59).

  1. 2.             Uji Reliabilitas

Pengujian reliabilitas ini hanya dilakukan terhadap butir-butir yang valid, yang diperoleh melalui uji validitas. Selanjutnya untuk melihat tingkat reliabilitas data, SPSS memberikan fasilitas untuk mengukur reliabilitas, jika Cronbach Alpha (G) > 0.6 maka reliabilitas pertanyaan bisa diterima (Setiaji 2004 : 59).

  1. D.        Teknik Analisa Data
    1. 1.             Model Empirik

Penelitian ini disusun dalam model empirik dengan regresi berganda sebagai berikut:

Knj = a + b1Spv + b2 Mtv+ e

dimana Knj = kinerja pegawai, Spv = Supervisi, Mtv =motivasi, a = konstanta , b1, b2 = koefisien variabel dan e standar error.

  1. 2.             Uji t-statistik

Uji ini dilakukan untuk membuktikan bahwa aspek supervise Kepala Sekolah dan aspek motivasi secara parsial mempengaruhi semangat kerja digunakan uji t statistik. Adapun dasar keputusannya adalah sebagai berikut:

Ho : diterima bila t hitung < t tabel

Ha : diterima bila t hitung > t tabel

  1. 3.             Uji F statistik

Uji F statistik digunakan untuk membuktikan bahwa aspek supervise kepala sekolah dan aspek motivasi kerja bersama–sama mempengaruhi kinerja digunakan uji F statistik. Adapun dasar keputusannya adalah sebagai berikut:

Ho : diterima bila F hitung < F tabel.

H1   : diterima bila F hitung > F tabel.

  1. 4.             Uji Asumsi Klasik

Untuk memastikan bahwa model yang diestimasi memenuhi asumsi klasik, maka harus dipenuhi syarat BLUE (Best Linier Unbiased Estiamer) yaitu:

  1. Uji Normalitas.

Pengujian ini dilakukan dengan mengamati histogram atas nilai residual dan grafik normal probability plot. Deteksi dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik. Dasar pengambilan keputusan:

a)             Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas,

b)             Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan/atau tidak mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas (Santoso, 2000: 212).

  1. Uji Heteroskedastisitas

Deteksi dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik, di mana sumbu X adalah Y yang telah diprediksi, dan sumbu Y adalah residual (Y prediksi – Y sesungguhnya) yang telah di studentized.

Dasar pengambilan keputusan (Santoso, 2000: 210):

a)             Jika ada pola tertentu, seperti titik (point-point) yang ada membentuk suatu pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka telah terjadi eteroskedastisitas;

b)             Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi Heteroskedastisitas.

  1. Uji Autokorelasi.

Autokorelasi adalah korelasi antara anggota serangkaian observasi yang diurutkan menurut waktu atau ruang (Gujarati, 1999: 201). Panduan mengenai angka D-W (Durbin-Watson) untuk mendeteksi autokorelasi bisa dilihat pada Tabel D-W, dengan pengambilan keputusan berikut:

a)             Jika nilai d lebih rendah dari dl atau lebih tinggi dari 4-dl, maka signifikan terdapat autokorelasi;

b)             Jika nilai d berada lebih besar dari du atau lebih kecil dari 4-du, berarti tidak terdapat autokorelasi;

c)             Jika nilai d berada antara du dan dl atau berada diantara 4-du dan 4-dl, maka dinyatakan sebagai daerah tidak dapat diambil kesimpulan atau ragu-ragu.

  1. Uji Multikolinearitas

Menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar vaiabel independent. Jika terjado korelasi, maka dinamakan terdapat problem Multikolinieritas (Santoso, 2000: 203). Uji Multikolinearitas adalah VIF (Variances Inflation Factor) dan Tolerance. Pedoman suatu regresi yang bebas multiko adalah:

a. Mempunyai nilai VIF di sekitar 1;

b. Mempunyai angka Tolerance mendekati 1.

DAFTAR PUSTAKA

Anoraga, Pandji. 1998.Psikologi Kerja. Jakarta .Rineka Cipta

Arikunto, Suharsini.1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Edisi Revisi IV, Cetakan Ke II. Jakarta.Rineka Cipta.

Gujarati, Damodar.1999. Ekonometrika Dasar, Terjemahan Sumarno Zain, Cetakan 6 .Gelora Aksara Pratama.

Hasibuan, Malayu SP. 2000. Organisasi dan Motivasi. Jakarta . Bumi Aksara

Hasibuan, Malayu SP. 1990, Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta. PT.Gunung Agung.

Mulyasa, E. 2004. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung. Remaja Rosdakarya.

——————-2008, Metode dan Teknik Supervisi,Jakarta,Dirktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Nasional.

————————1982, Panduan Umum Alat Penilaian Kemampuan Guru, Jakarta : Proyek Pengembangan Pendidikan Guru

————————1996, Pedoman Kerja Pelaksanaan Supervisi, Jakarta: Depdikbud

————————2007.Peraturan menteri pendidikan nasional (Permendiknas) nomor 13 tahun 2007 tentang standar kepala sekolah/madrasah

Purwadarminta, W. J. S.1990. Kamus Bahasa Indonesia.Jakarta. Balai Pustaka.

Purwanto, M. Ngalim. 2004. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung. Remaja Rosdakarya

Refni Delfy,Wahyuni Kadarko;2007, Kinerja Guru dalam Melaksanakan Pembelajaran di Kelas:Studi Evaluatif Terhadap lulusan Program Akta Mengajar FKIP.Universitas Terbuka, Jurnal Pendidikan, Volume 8, Nomor 2, September 2007.

Saidi, H.M,1992, Prestasi dan Kemampuan. Jakarta. Rajawali Press.

Setiaji, Bambang,2004. Panduan Riset Dengan Pendekatan Kuantitatif, Program Pascasarjana, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Sri Sugiyati,2005,Tesis Persepsi Guru Terhadap Iklim Organisasi Sekolah, Motivasi Berprestasi dan Kreativitas terhadap Prestasi kerja Guru SD Sekecamatan Gemolong Kabupaten Sragen,Tesis tidak dipublikasikan, Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta

Steers, RM.1985 Efektivitas Organisasi Seri Manajemen, Jakarta.Erlangga.

Suhertian,Piet A, 2000, Konsep-konsep dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam rangka pengembangan Sumber Daya Manusia, Jakarta, Rineka Cipta

Sugiyono,1999. Metode Penelitian Bisnis . Bandung.Alfabeta.

Vivi, Rorlen.2007. Pengaruh Iklim Organisasi dan Kedewasaan terhadap kinerja Karyawan Pada PT.Graha Tungki Arsitektika Jakarta,Business & Menegemen Journal Bunda Mulia Vol 3 Nomor 1, maret 2007.

Wijaya,Tony.2009.Analisis Data Penelitian Menggunakan SPSS.2009. Jogjakarta. Universitas Atma Jaya Jogjakarta.

PENGANTAR

Dengan mengucap puji syukur ke hadirat Allah SWT, kegiatan Pelatihan bagi Guru Pemandu MGMP Matematika Bangkalan pada program BERMUTU (Better Education through Reformed Management and Universal Teacher  Upgrading) tahun 2010 dapat diselenggarakan oleh MGMP Matematika Bangkalan.

Proposal ini disusun sebagai pedoman bagi peserta pelatihan Guru Pemandu MGMP Matematika Bangkalan, narasumber, dan panitia penyelenggara agar dapat melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana. Selain itu, panduan ini dapat memberikan penjelasan tentang kegiatan  pelatihan bagi Guru Pemandu MGMP Matematika Bangkalan, meliputi dasar kerja, tujuan, target dan sasaran, hasil yang diharapkan, peserta, strategi pelaksanaan dan jadwal kegiatan, serta  tata tertib selama kegiatan berlangsung.

Semoga Allah SWT selalu memberikan petunjuk dan lindungan kepada kita semua. Amin.

.

Bangkalan, Juni 2010

Ketua Penyelenggara

Mohammad Sadali

 

 

 

 


DAFTAR ISI

PENGANTAR……………………………………………………………………………………………………………… i

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………………………………. 1

PENDAHULUAN……………………………………………………………………………………………………….. 2

DASAR KERJA………………………………………………………………………………………………………….. 3

TUJUAN DAN SASARAN………………………………………………………………………………………….. 3

HASIL YANG DIHARAPKAN ………………………………………………………………………………….. 4

WAKTU DAN TEMPAT……………………………………………………………………………………………… 4

STRUKTUR PROGRAM…………………………………………………………………………………………….. 5

SKENARIO KEGIATAN…………………………………………………………………………………………….. 6

METODE PELATIHAN………………………………………………………………………………………………. 7

FASILITATOR……………………………………………………………………………………………………………. 7

PANITIA……………………………………………………………………………………………………………………. 8

PESERTA…………………………………………………………………………………………………………………… 8

PEMBIAYAAN………………………………………………………………………………………………………….. 8

HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA…………………………………………………………………………… 9

TATA TERTIB……………………………………………………………………………………………………………. 9

JADWAL………………………………………………………………………………………………………………….. 11


  1. A.           PENDAHULUAN

Dalam rangka peningkatan kualifikasi dan penerapan sertifikasi guru sesuai Undang-Undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, maka MGMP Matematika Bangkalan menyelenggaraan Pelatihan Guru Pemandu program BERMUTU atau Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading. Program ini difokuskan pada upaya peningkatan mutu pendidikan melalui peningkatan kompetensi dan kinerja guru yang secara langsung dikaitkan dengan peningkatan mutu pembelajaran di kelas.

Program  ini  berfokus  pada  reformasi  guru, dengan  memperkuat  hubungan  antara  proses  sertifikasi  dan  pemberian  tunjangan  profesi untuk  peningkatan mutu pendidikan.  Program  ini  bukan  untuk  membiayai  tunjangan  baru untuk  guru, tapi  sebagai  gantinya,  berdasarkan  pengalaman  internasional  akan  memberikan nilai  tambah  dengan: (i) mengkaji ulang kebijakan dan struktur  pendidikan  pra-jabatan  (preservice education) untuk memastikan bahwa program pendidikan tersebut mampu membentuk kompetensi  yang  ditetapkan;  (ii)  mendukung  rancangan  dan  penyediaan  program-program bagi guru yang belum memenuhi syarat untuk disertifikasi karena kurang kualifikasi dan atau kompetensi;  (iii)  menemukan  dampak  perubahan  kebijakan  untuk  membantu  peningkatan kompetensi  dan  kinerja  guru  secara  berkelanjutan; dan  (iv)  melaksanakan  pemantauan  selama pelaksanaan  program  dan  evaluasi  untuk  mengukur  dampak,  dan  memandu  implementasi undang-undang tersebut.

Sedangkan modul-modul dalam kegiatan ini diambil dari imbasan pelatihan DCT yang dilaksanakan PPPPTK Matematika dalam kegiatan diklat BERMUTU.

Pelatihan ini bertujuan untuk :

a.     membahas (menguasai) dan mengembangkan modul dan bahan  pelatihan yang ditujukan kepada Guru pemandu MGMP Matematika,

b.     melatih, membimbing Guru pemandu MGMP Matematika,

c.     melakukan kegiatan supervisi, memantau, dan mengevaluasi kinerja Guru pemandu MGMP Matematika.

  1. DASAR KERJA

Dasar Kerja penyelenggaraan Pelatihan Guru Pemandu MGMP Matematika program BERMUTU atau Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading ini mengacu pada landasan hukum sebagai berikut.

  1. Undang-Undang No. 20 tahun 2003 Tentang Sistim Pendidikan Nasional (Sisdiknas).
  2. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 19 Tahun 2006 tentang standar Nasional Pendidikan
  3. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 22 Tahun 2006 tentang standar Isi
  4. Peraturan Pemerintah Nomor 77 tahun 2008 tentang Guru
  5. Program Kerja Dinas Pendidikan Kabupaten Bangkalan tahun 2010-1011
  6. Rapat MKKS SMP Negeri Kabupaten Bangkalan tanggal 15 Juni 2010
  7. 7.            Program kerja MGMP Matematika Bangkalan
  8. C.          TUJUAN DAN SASARAN

Tujuan

Secara umum diklat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi Guru terkait dengan program BERMUTU dalam hal berikut ini.

  1. Strategi  penggunaan BBM (Bahan Belajar Mandiri) pendamping dan modul suplemen mata pelajaran matematika.
  2. Best practice dan kapita selekta pelaksanaan pelatihan.
  3. Pengelolaan kegiatan TNA (Training Need Assessment).
  4. Program Rancangan Kegiatan.

Sasaran

Sasaran diklat ini adalah 25 orang Guru Pemandu MGMP matematika yang berasal dari 18 Kecamatan.

  1. HASIL YANG DIHARAPKAN

Hasil yang diharapkan dari pelatihan bagi Guru Pemandu MGMP Matematika ini sebagai berikut.

  1. Meningkatnya pengetahuan dan pemahaman terhadap program BERMUTU.
  2. Meningkatnya pengetahuan dan pemahaman terhadap bahan belajar mandiri program BERMUTU.
  3. Tercapainya persamaan persepsi tentang bahan belajar mandiri program BERMUTU,  langkah pengimplementasian dan strategi penggunaannya.
  4. Tersusunnya rancangan kegiatan pembelajaran di MGMP Matematika Kecamatan/Sekolah.
  5. Tersusunnya Instrumen TNA (Training Need Assessment).
  6. Tersusunnya Program Rancangan Kegiatan Pendampingan MGMP Matematika Kecamatan/Sekolah.
  1. E.        WAKTU DAN TEMPAT

Kegiatan Pelatihan bagi Guru Pemandu MGMP Matematika program BERMUTU  ini dilaksanakan mulai tanggal  2 s.d. 7 Agustus 2010 di SMP Negeri 2 Blega Bangkalan

  1. STRUKTUR PROGRAM

Struktur kegiatan Pelatihan Bagi Guru Pemandu MGMP Matematika program BERMUTU adalah sebagai berikut.

No

Program

Materi Pelatihan

Alokasi Waktu

A.

Umum
  1. Program BERMUTU Tahun 2010

2

B.

Pokok
  1. Peran dan Fungsi Modul BBM dan Suplemen dalam Proses Kegiatan Program BERMUTU.

2

  1. Pembahasan Penggunaan Bahan Belajar Mandiri (BBM), Pendamping (Learning Journal, Study Visit, Pengembangan Bank Soal, Kajian Kritis,  Model-model Pembelajaran, Manajemen Pengelolaan  Kelas dll)

3

  1. Pembahasan dan Penyusunan Skenario Pemanfaatan Modul Suplemen Mata Pelajaran  Matematika di MGMP Kecamatan/Sekolah

5

  1. Best Practice dan Kapita Selekta Pelaksanaan Kegiatan Guru Pemandu MGMP program BERMUTU.

6

  1. Pemodelan Pelaksanaan Kegiatan Pendampingan Guru Pemandu MGMP program BERMUTU

8

  1. Pengelolaan Kegiatan Training Need Assessment (TNA)

5

C.

Penunjang Penyusunan Rencana Pendampingan dan Tindak Lanjut (PTL) Guru Pemandu MGMP program BERMUTU.

2

Jumlah

32

  1. SKENARIO KEGIATAN

Skenario kegiatan Pelatihan Bagi Guru Pemandu MGMP Matematika program BERMUTU ini digambarkan dalam diagram berikut.


  1. METODE PELATIHAN

Metode yang digunakan antara lain: brainstorming, diskusi, penugasan, kerja mandiri, kerja kelompok, dan presentasi. Selain itu juga menyesuaikan dengan karakteristik peserta, waktu, serta sarana yang tersedia.

  1. I.             FASILITATOR
  1. Pengarah (Pusat, Daerah, PPPPTK Matematika, LPTK )

NO

NAMA

INSTANSI

Kepala dinas Pendidikan Kabupaten Dinas Pendidikan Kab
Ka Bag Kurikulum Dinas Pendidikan Kab
  1. Nara Sumber  (Pakar, Penyaji/Fasilitator)

NO

NAMA

INSTANSI

1.

Mohammad Sadali SMPN 2 Blega

2.

Dra. Sukmawati SMPN 1 Bangkalan

3.

Ahmad dahlan,M.Pd. SMPN 3 Bangkalan

4.

Drs. Suparlan SMPN 1 Tanah Merah

5.

Drs. Setiadi SMPN 1 Tragah

6.

Sri Wardhani, S.Pd SMPN 1 Kamal


  1. Panitia

Daftar penanggung jawab dan kepanitiaan Pelatihan bagi Guru Pemandu MGMP Matematika Bangkalan Program BERMUTU

No.

Nama

Jabatan dalam Kepanitiaan

1.

Mohammad sadali Ketua

2.

Arman Maulana Sekretaris

3.

Hatijah Bendahara

4.

Eko Thomas Anggota

5.

Samsu Mahmud Anggota
  1. Peserta

Sasaran diklat ini adalah 25 orang Guru Pemandu MGMP matematika yang berasal dari 18 Kecamatan

  1. L.          PEMBIAYAAN

Seluruh kegiatan ini dibiayai dari Dinas Pendidikan Kabupaten Bangkalan tahun anggaran 2010


 

LAMPIRAN – LAMPIRAN

 

HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA

Hak Peserta

  1. Mendapatkan materi yang berkualitas dan nara sumber yang kompeten dan bertanggung jawab.
  2. Mendapatkan akomodasi dan konsumsi yang layak selama mengikuti kegiatan sesuai anggaran yang disediakan.
  3. Mendapatkan bantuan informasi yang lengkap dari panitia penyelenggara.

Kewajiban Peserta

  1. Memenuhi persyaratan untuk mengikuti kegiatan.
  2. Menjaga kelancaran dan kenyamanan selama mengikuti kegiatan.
  3. Saling menghormati dalam hal agama, kepercayaan, dan adat kebiasaan terhadap sesama peserta, nara sumber, dan penyelenggara.
  4. Mengikuti seluruh kegiatan dan mengisi daftar hadir yang telah disediakan.
  5. Berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan.
  6. Mematuhi tata tertib yang ada.

TATA TERTIB

Administrasi

Kelengkapan administrasi yang harus dipenuhi peserta sebagai berikut.

1. Menyerahkan Surat Tugas dan berkas lainnya yang diperlukan.

2. Mengisi biodata peserta dan daftar hadir.

 

Kegiatan

Semua peserta:

  1. wajib hadir dalam pembukaan dan berpakaian rapi serta sopan selama kegiatan berlangsung.
  2. diwajibkan mengikuti seluruh kegiatan yang telah ditetapkan sebagaimana tercantum dalam jadwal.
  3. diwajibkan mengisi daftar hadir sebelum acara dimulai.
  4. sudah hadir di dalam ruang sidang 5 menit sebelum acara dimulai.
  5. tidak diperkenankan merokok selama acara/kegiatan  berlangsung.
  6. menonaktifkan handphone selama acara/kegiatan  berlangsung.
  7. menjaga ketertiban, ketenangan, dan kebersihan selama kegiatan berlangsung.
  8. wajib meminta ijin kepada panitia apabila hendak meninggalkan tempat/ruang kegiatan.

 



Jadwal

No.

Waktu

Kegiatan

Ket

1

Senin, 2 agustus  2010

08.00 – 10.00 Program BERMUTU Tahun 2010

10.00 – 12.00 Peran dan Fungsi Modul BBM dan Suplemen dalam Proses Kegiatan Program BERMUTU.

12.00 – 12.30 Istirahat

12.30 – 14.30 Pembahasan Penggunaan Bahan Belajar Mandiri (BBM), Pendamping

2

Selasa, 3 agustus  2010

08.00 – 10.00 Pembahasan Penggunaan Bahan Belajar Mandiri (BBM), Pendamping

10.00 – 12.00 Pembahasan dan Penyusunan Skenario Pemanfaatan Modul Suplemen Mata Pelajaran  Matematika di MGMP Kecamatan/Sekolah

12.00 – 12.30 istirahat

12.30 – 13.30 Pembahasan dan Penyusunan Skenario Pemanfaatan Modul Suplemen Mata Pelajaran  Matematika di MGMP Kecamatan/Sekolah

13.30 – 14.30 Best Practice dan Kapita Selekta Pelaksanaan Kegiatan Guru Pemandu MGMP program BERMUTU.

3

Rabu, 4 agustus  2010

08.00 – 12.00 Best Practice dan Kapita Selekta Pelaksanaan Kegiatan Guru Pemandu MGMP program BERMUTU.

12.00 – 12.30 Istirahat

12.30 – 14.30 Pemodelan Pelaksanaan Kegiatan Pendampingan Guru Pemandu MGMP program BERMUTU

4

Kamis, 4 agustus  2010

08.00 – 12.00 Pemodelan Pelaksanaan Kegiatan Pendampingan Guru Pemandu MGMP program BERMUTU

12.00 – 12.30 Istirahat

12.30 – 14.30 Pemodelan Pelaksanaan Kegiatan Pendampingan Guru Pemandu MGMP program BERMUTU

5

Jumat, 4 agustus  2010

08.00 – 11.00 Pengelolaan Kegiatan Training Need Assessment (TNA)

6

Sabtu, 4 agustus  2010

08.00 – 10.00 Pengelolaan Kegiatan Training Need Assessment (TNA)

10.00 – 12.00 Pengelolaan Kegiatan Training Need Assessment (TNA)

12.00 – 12.30 Penyusunan Rencana Pendampingan dan Tindak Lanjut (PTL) Guru Pemandu MGMP program BERMUTU.

12.30 – 14.30 PENUTUPAN

 


STRATEGI KOGNITIF

Posted: 25 April 2011 in Tak Berkategori

PENGGUNAAN STRATEGI KOGNITIF  UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR

A.           PENDAHULUAN

Tujuan pengajaran yang dilaksanakan di dalam kelas  adalah menitikberatkan pada perilaku siswa atau perbuatan (performance) sebagai suatu jenis out put yang terdapat pada siswa, dan teramati, serta menunjukkan bahwa siswa tersebut telah melaksanakan kegiatan belajar.

Pengajaran mengemban tugas utama untuk mendidik dan membimbing siswa-siswa dalam belajar serta mengembangkan dirinya.

Mengajar menurut kaum konstruktivisme bukan kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru kepada siswa, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. Mengajar berarti partisipasi dengan siswa dalam bentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi. Dengan demikian mengajar adalah suatu bentu belajar sendiri.

Guru dilihat dari sebuah profesi memiliki peranan yang sangat besar dalam pendidikan, ia harus mampu memberikan kepuasan, dan pelayanan dalam proses belajar mengajar dalam kelas. Guru harus menyadari konsekuensi yang disandangnya, guru dihadapkan pada tantangan, dimana guru diminta harus ramah, sabar, penuh percaya diri, bertanggung jawab, dan menciptakan rasa aman, dilain pihak guru harus mampu memberi tugas, dorongan kepada siswa dalam mencapai tujuan, mengadakan koreksi, pemaksaan, arahan belajar serta teguran agar memperoleh hasil belajar yang optimal.

Berfikir yang baik lebih penting dari pada mempunyai jawaban yang benar atas suatu persoalan yang sedang dipelajari. Seseorang yang mempunyai cara berfikir yang baik, dalam arti bahwa cara berfikirnya dapat digunakan untuk menghadapi suatu fenomena baru, akan dapat menemukan pemecahan dalam menghadapi persoalan yang baik. Mengajar dalam kontek ini adalah membantu seseorang berfikir secara benar dengan membiarkan berfikir sendiri.

B.            STRATEGI KOGNITIF

Strategi kognitif adalah kemampuan internal seseorang untuk berfikir, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan..

Strategi kognitif merupakan kapabilitas yang mengatur cara bagaimana siswa mengelola belajarnya, ketika mengingat-ingat dan berfikir, ia juga merupakan proses pengendali atau pengatur pelaksana tindakan.

Strategi kognitif lahir berdasarkan paradigma konstruktivisme, teori meta cognition. Konstruktivisme dikembangkan luas oleh Jean Piaget, ia dikenal seorang psikolog, pada akhirnya lebih tertarik pada filsafat konstruktivisme dalam proses belajar. Titik sentral teori Jean Piaget adalah perkembangan fikiran secara alami dari lahir sampai dewasa, menurut Piaget untuk memahami teori ini kita harus paham tentang asumsi-asumsi biologi maupun implikasi asumsi-asumsi tersebut dalam mengartikan pengetahuan.

Paradigma konstruktivisme oleh Jeans Piaget melandasi timbulnya strategi kognitif , disebut teori meta cognition. Meta cognition merupakan ketrampilan yang dimiliki oleh siswa-siswa dalam mengatur dan mengontrol proses berfikirnya, Menurut Preisseien (Pusdiklatdepdiknas, 2008) meta cognition meliputi empat jenis ketrampilan, yaitu:

  1. Ketrampilan Pemecahan masalah (Problem Solving) yaitu: Ketrampilan individu dalam menggunakan proses berfikirnya untuk memecahkan masalah melalui pengumpulan fakta-fakta, analisis informasi, menyusun berbagai alternative pemecahan, dan memilih pemecahan masalah yang paling efektif.
  2. Ketrampilan Pengambilan Keputusan (Decision making), yaitu: Ketrampilan individu dalam menggunakan proes berfikirnya untuk memilih suatu keputusan yang terbaik dari beberapa pilihan yang ada melalui pengumpulan informasi, perbandingan kebaikan dan kekurangan dari setiap alternative, analisis informasi, dan pengambilan keputusan yang terbaik berdasarkan alas an-alasan yang rasional.
  3. Ketrampilan Berfikir Kritis (Critical thinking) yaitu: Ketrampilan individu dalam menggunakan proses berfikirnya yaitu menganalisa argument dan memberikan interprestasi berdasarkan persepsi yang benar dan rasional, analisis asumsi dan bias dari argument, dan interprestasi logis.
  4. Ketrampilan berfikir Kreatif (creative thinking) yaitu:Ketrampilan individu dalam menggunakan proses berfikirnya untuk menghasilkan gagasan yang baru, konstruktif berdasarkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang rasional maupun persepsi, dan intuisi individu.

Ketrampilan-ketrampilan diatas ini saling terkait antara satu dengan yang lainnya, dan sukar untuk membedakannya, karena ketrampilan-ketrampilan tersebut terintegrasi.

C.           STRATEGI KOGNITIF DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR

Strategi kognitif merupakan salah satu kecakapan aspek kognitif yang penting dikuasai oleh seorang peserta didik dalam belajar atau memecahkan masalah. Strategi kognitif merupakan kemampuan tertinggi dari domain kognitif, setelah analisis, sintesis, dan evaluasi. Strategi kognitif ini dapat dipelajari oleh peserta didik. Proses pembelajaran bukan semata-mata proses penyampaian materi bidang ilmu tertentu saja, sebaliknya yang lebih penting adalah proses pengembangan kemampuan strategi kognitif peserta didik. kunci pendidikan adalah membantu siswa mempelajari serangkaian strategi yang dapat menghasilkan solusi problem. Pemikir yang baik menggunakan strategi secara rutin untuk memecahkan masalah dan tahu kapan dan di mana mesti menggunakan strategi (pengetahuan metakognitif tentang strategi).

Istilah strategi kognitif telah digunakan dalam berbagai bidang, seperti konseling dan terapi, dengan maksud sebagai strategi untuk membantu klien keluar dari permasalahan yang dihadapinya. Dalam bidang pembelajaran, strategi kognitif sering juga disebut sebagai strategi belajar dan memecahkan masalah

Strategi belajar  adalah metode-metode atau teknik-teknik tertentu yang digunakan untuk dapat membantu siswa mempelajari informasi baru dan memecahkan berbagai masalah belajar secara lebih efektif.Pengajaran yang baik adalah pengajaran yang meliputi mengajar siswa tentang bagaimana belajar, bagaimana mengingat, bagaimana berfikir dan bagaimana memotivasi diri mereka sendiri. Pembelajaran strategi lebih menekankan pada kognitif, sehingga pembelajaran ini dapat disebut dengan strategi kognitif

Untuk meningkatkan hasil belajar, siswa perlu dibekali dengan berbagai kemampuan strategi belajar. Guru dapat mengubah strategi kognitif dan pemrosesan informasi menjadi strategi-strategi belajar. Beberapa strategi belajar yang dimaksud adalah strategi mengulang, strategi elaborasi, strategi organisasi, strategi metakognitif

1.             Strategi Mengulang (Rehearsal)

Strategi mengulang yang paling sederhana, yaitu sekedar mengulang dengan keras atau dengan pelan informasi yang ingin kita hafal disebut strategi mengulang sederhana, misalnya digunakan untuk menghafal nomor telepon dan arah ke satu tempat tertentu dalam jangka waktu pendek. Seorang pebelajar tidak dapat mengingat seluruh kata atau ide dalam sebuah buku hanya dengan mambaca buku itu keras-keras.

Penyerapan bahan lebih kompleks memerlukan strategi mengulang kompleks, yaitu perlu melakukan upaya lebih jauh sekedar mengulang informasi. Menggarisbawahi ide-ide kunci dan membuat catatan pinggir adalah dua strategi mengulang kompleks yang dapat diajarkan kepada siswa untuk membantu mereka mengingat bahan ajar yang lebih kompleks.

a. Menggarisbawahi

Menggarisbawahi ide-ide kunci dari suatu teks adalah suatu teknik yang kebanyakan siswa telah pelajari pada saat mereka masuk perguruan tinggi. Menggarisbawahi membantu siswa belajar lebih banyak dari teks karena beberapa alasan. Pertama, menggarisbawahi secara fisik menemukan ide-ide kunci, oleh karena itu pengulangan dan penghafalan lebih cepat dan lebih efisien. Kedua, proses pemilihan apa yang digarisbawahi membantu dalam menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang telah ada. Sayangnya siswa tidak selalu menggunakan prosedur menggarisbawahi secara sangat efektif. Kadang kadang siswa juga menggarisbawahi informasi yang tidak relevan. Hal ini biasanya terjadi pada siswa-siswa sekolah dasar atau SLTP yang mengalami kesulitan menentukan informasi mana yang paling dan kurang penting.

b.      Membuat Catatan-catatan Pinggir

Membuat catatan pinggir dan catatan lain membantu melengkapi garis bawah. Perlu diperhatikan bahwa siswa telah dapat melingkari kata-kata yang tidak dimengerti, menggarisbawahi ide-ide penting, memberi nomor dan membuat daftar kejadian, mengidentifikasi kalimat yang membingungkan, dan menulis catatan-catatan dan komentar-komentar untuk diingat. Strategi mengulang khusunya strategi mengulang kompleks, membantu siswa memperhatikan informasi baru spesifik dan membantu pengkodean. Tetapi strategi ini tidak membantu siswa menjadikan informasi baru lebih bermakna.

2.             Strategi Elaborasi

Elaborasi adalah proses penambahan rincian sehingga informasi baru akan menjadi lebih bermakna

Strategi elaborasi membantu pemindahan informasi baru dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang dengan menciptakan gabungan dan hubungan antara informasi baru dengan apa yang telah diketahui

a. Pembuatan Catatan

Sejumlah besar informasi diberikan kepada siswa melalui presentasi dan demonstrasi guru. Pembuatan catatan membantu siswa dalam mempelajari informasi ini secara singkat dan padat menyimpan informasi untuk ulangan dan dihafal kelak. Bila dilakukan dengan benar, pembuatan catatan juga membantu mengorganisasikan informasi sehingga informasi itu dapat diproses dan dikaitkan dengan pengetahuan yang telah ada secara lebih efektif.

b. Analogi

Analogi adalah pembandingan yang dibuat untuk menunjukan kesamaan antara ciri-ciri pokok suatu benda atau ide-ide, selain itu seluruh cirinya berbeda, seperti jantung dengan pompa.

c. PQ4R

Metode PQ4R digunakan untuk membantu siswa mengingat apa yang mereka baca. P singkatan dari preview (membaca selintas dengan cepat), Q adalah question (bertanya), dan 4R singkatan dari read (membaca), reflect (refleksi), recite (tanya-jawab sendiri), review (mengulang secara menyeluruh). Melakukan preview dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebelum membaca mengaktifkan pengetahuan awal dan mengawali proses pembuatan hubungan antara informasi baru dengan apa yang telah diketahui. Mempelajari judul-judul atau topik-topik utama membantu pembaca sadar akan organisasi bahan-bahan baru tersebut, sehingga memudahkan perpindahannya dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Resitasi informasi dasar, khususnya bila disertai dengan beberapa bentuk elaborasi, kemungkinan sekali akan memperkaya pengkodean

3.             Strategi Organisasi

Strategi Organisasi bertujuan membantu siswa meningkatkan kebermaknaan materi baru, terutama dilakukan dengan mengenakan struktur-struktur peng-organisasian baru pada materi-materi tersebut. Strategi organisasi mengidentifikasi ide-ide atau fakta-fakta kunci dari sekumpulan informasi yang lebih besar.

Seperti halnya strategi elaborasi, strategi organisasi bertujuan membantu pebelajar meningkatkan kebermaknaan bahan-bahan baru, terutama dilakukan dengan mengenakan struktur-struktur pengorganisasian baru pada bahan-bahan tersebut. Strategi-strategi organisasi dapat terdiri dari pengelompokan ulang ide-ide atau istilah-istilah atau membagi ide-ide atau istilah-istilah itu menjadi sub set yang lebih kecil. Strategi- strategi ini juga terdiri dari pengidentifikasian ide-ide atau fakta-fakta kunci dari sekumpulan informasi yang lebih besar. Outlining, mapping, dan mnemonics merupakan strategi organisasi yang umu.

a. Outlining

Dalam outlining atau membuat kerangka garis besar, siswa belajar menghubungkan berbagai macam topik atau ide dengan beberapa ide utama. Dalam pembuatan kerangka garis besar tradisional satu-satunya jenis hubungan adalah satu topik kedudukannya lebih rendah terhadap topik lain. Sama dengan strategi lain, siswa jarang sebagai pembuat kerangka yang baik pada awalnya, namun mereka dapat belajar menjadi penulis kerangka yang baik apabila diberikan pengajaran tepat dan latihan yang cukup.

b. Pemetaan Konsep

Salah satu pernyataan dalam teori Ausubel adalah bahwa faktor yang paling penting yang mempengaruhi pembelajaran adalah apa yang telah diketahui siswa (pengetahuan awal). Jadi supaya belajar jadi bermakna, maka konsep baru harus dikaitkan dengan konsep-konsep yang ada dalam struktur kognitif siswa.

c. Mnemonics

Mnemonics merupakan metode untuk membantu menata informasi yang menjangkau ingatan dalam pola-pola yang dikenal, sehingga lebih mudah dicocokan dengan pola skemata dalam memori jangka panjang.

d. Chunking (potongan)

Misalnya seseorang dapat mengingat nomor telepon 10 angka karena ia telah membaginya dalam tiga kelompok, yaitu kode wilayah, kode tempat, dan tiga nomor orang yang dituju.

e. Akronim (singkatan)

Terdiri singkatan misalnya ABRI merupakan singkatan dari Angkatan
Bersenjata Republik Indonesia


REFERENSI

Atkinson, R , Richard, A, Hilgard, E .2000. Pengantar Psikologi. Jilid 1, Edisi 8. Penerjemah : Agus, D, Michael, A. Jakarta : Penerbit Erlangga.

Chaplin, J. P. 2005. Kamus Lengkap Psikologi, Edisi 1, Cetakan 10. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Hartono. 2008. Modul Strategi Kognitif. Surabaya : UNIPA Surabaya.

Strategi belajar

Nur, M. 2000. Strategi-Strategi Belajar. Surabaya : Universitas Negeri Surabaya,

Pusdiklat Depdiknas. 2006. ”Startegi Kognitif”. Tersedia pada: http://www. Pusdiklatdepdiknas.net. (diakses : 25 Oktober 2010.)

Windiyani, Sri Bono. 2008. ”Belajar Bersama Alam” Tersedia pada : http://www.bocahkecil.info (diakses : 25 Oktober 2010).

Winkel, W.S. 2003. Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT Grasindo


“ETIKA PROFESI GURU ”

Posted: 25 April 2011 in Tak Berkategori


  1. A.           PROFESI GURU

Suatu pekerjaan dikategorikan sebagai panggilan hidup apabila pekerjaan itu mengembangkan orang lain ke arah kesempurnaan dan kepenuhan. Pekerjaan itu membantu mengembangkan orang lain. Artinya dengan aktivitas pekerjaan, tersirat nilai pelayanan bagi orang lain,  dan ada unsur sosial dalam pekerjaan itu. Di sini jelas bahwa guru terlibat dalam suatu pekerjaan yang mempunyai nilai tinggi dan strategis. Dengan demikian, guru senantiasa dari waktu ke waktu berusaha untuk mengembangkan kecerdasan intelektual, kepribadian, dan kecerdasan sosial dalam rangka mendukung tugas-tugasnya sebagai pengajar dan pendidik.

Jauh sebelum pengakuan terhadap pekerjaan guru sebagai profesi, karakteristik pekerjaan sebagai guru telah memenuhi unsur-unsur profesi. Guru adalah salah satu profesi yang dituntut memiliki pendidikan dan keahlian khusus yang berkaitan dengan bidangnya, dan  memberikan layanan pendidikan tanpa bermaksud mencari keuntungan pribadi, kecuali hak-haknya. Sudarminta mengatakan bahwa karena pelayanan profesional menuntut keahlian khusus dari si pemegang profesi, dan keahlian tersebut tidak ada pada klien serta masyarakat pada umumnya, maka dalam pelayanan profesional dapat tercipta suatu hubungan ketergantungan yang tidak seimbang. Yang dimaksudkan adalah si klien atau subyek layanan berada dalam kedudukan yang lemah atau mudah terlukai . Hal ini jelas bertentangan dengan sifat pelayanan profesional. Secara manusiawi terbuka kemungkinan bagi kaum profesional, termasuk guru untuk mengeksploitir ‘memeras’ klien atau subyek layanannya. Dengan kata lain, profesi mengandung  kemungkinan bahaya penyalahgunaan.

Berdasarkan gambaran pikiran ini dan melihat kenyataan bahwa profesi mengandung kemungkinan penyalahgunaan, maka menjadi jelas bahwa profesi tidak dapat dilepaskan dari etika. Setiap profesi, termasuk profesi guru, harus menunjukkan bahwa setiap tindakannya dapat dipertanggungjawabkan secara hukum, sosial, dan moral. Mutu layanan kepada peserta didik menjadi yang terpenting di dalam pelaksanaan tugas-tugas sebagai guru.  Dalam kerangka pikir ini, Hari Guru Tahun 2010 patut menjadi ajang refleksi bagi guru mengenai standar etika yang menjadikan guru lebih profesional dan bermartabat.

  1. B.            Etika profesi guru

Pentingnya membicarakan etika profesi dewasa ini karena semakin berkembang dan pentingnya peran profesi dalam kehidupan masyarakat modern. Seperti pernah dinyatakan oleh sosiolog Talcott Parsons, “Perkembangan dan semakin pentingnya secara strategis profesi-profesi merupakan perubahan yang paling penting yang telah terjadi dalam sistem pekerjaan dalam masyarakat modern. Dalam masyarakat modern tidak mungkin lagi orang memenuhi semua kebutuhan hidupnya secara sendiri. Pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, papan, kesehatan, keamanan, pendidikan, dan sebagainya semakin tergantung dari layanan pihak lain. Dengan kata lain, dalam masyarakat modern terjadi diferensiasi fungsi-fungsi. Diferensiasi fungsi ini semakin lama semakin mengkhusus, sehingga hanya orang-orang dengan pendidikan dan keahlian tertentu dapat dan mempunyai kewenangan untuk melaksanakan fungsi-fungsi tersebut”. Sistem kerja profesional semakin menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern. Dalam situasi semacam ini pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat dan kesejahteraan umum semakin tergantung dari layanan profesional. Supaya fungsi pelayanan demi kesejahteraan hidup masyarakat dari profesi-profesi yang ada tetap terjamin, maka diperlukanlah etika profesi.

Jika guru sebagai profesi juga mempunyai kemungkinan terjadinya penyalahgunaan wewenang profesional karena adanya situasi ketergantungan klien atau subyek layanan terhadap kaum profesional, maka sangat diperlukan kesadaran akan etika profesi. Penyalahgunaan wewenang profesional, selain merugikan kepentingan klien dan masyarakat umum, sebenarnya juga merugikan kepentingan profesi guru sendiri. Penyalahgunaan, yang saya sebut sebagai “penyimpangan” profesi dapat merusak citra profesi yang berimbas pada menurunnya kredibilitas profesi. Jika demikian, maka himpunan profesi, sebagaimana PGRI sebenarnya juga berkepentingan menetapkan dan memberlakukan standar etika bagi para anggotanya, dalam hal ini guru.

  1. C.           Dimensi etis profesi guru

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen telah melegalisasi guru sebagai jabatan profesi. Jika demikian substansi undang-undang tersebut, maka sudah tentu etika profesi juga berlaku bagi para guru. Manakah dimensi etis yang terkandung dalam profesi guru? Sebagaimana etika profesi pada umumnya, etika profesi bagi guru tentu berkaitan dengan standar integritas profesional yang berhubungan dengan nilai-nilai dan asas-asas moral yang perlu diperhatikan sebagai pedoman perilaku bagi para guru dalam menjalani profesinya. Etika dimaksud memuat butir-butir norma yang mengatur dan menjamin integritas profesional dalam hubungan antara guru dan peserta didik.

Untuk dapat menjamin integritas profesionalnya, seorang guru sebagai tenaga edukatif secara profesional terikat oleh beberapa kewajiban moral, antara lain: memegang asas kebenaran, keadilan, kejujuran, dan berpikir ilmiah. Dalam hal memegang asas kebenaran, misalnya,  seorang guru harus menjamin kebenaran informasi ilmu pengetahuan yang disampaikan kepada subjek didik. Untuk itu, guru perlu memperkaya khazanah pengetahuan, baik  fakta empirik maupun teoretis, termasuk kemampuan memadukan/menghubungkan fakta dan konsep sehingga subjek didik dapat memiliki pengetahuan komprehensif.

Kewajiban guru memegang asas keadilan berarti seorang guru perlu memperlakukan setiap siswa selaras dengan hak-haknya. Untuk itu, setiap guru perlu menjaga agar tetap memiliki apa yang oleh Talcott Parsons disebut sebagai ‘kenetralan afektif’ (affective neutrality). Kenetralan afektif mengacu pada sikap seimbang, lugas, dan apa adanya di dalam menilai dan membuat putusan mengenai siswanya. Seorang guru memiliki kenetralan afektif kalau pengamatan dan penilaiannya terhadap siswa tidak dikaburkan atau bahkan dibutakan oleh keterlibatan emosional-subyektif. Kenetralan afektif tidak identik dengan sikap dingin dan tanpa keterlibatan afektif, atau bahkan acuh tak acuh. Guru harus lebih berupaya untuk sungguh-sungguh bertindak obyektif  dengan tetap memandang perbedaan siswa sebagai individu yang  unik.

Asas keadilan perlu didukung oleh asas kejujuran. Seorang guru harus memiliki kerendahan hati dan terbuka untuk mengatakan bahwa dalam hal-hal tertentu ia memiliki keterbatasan.  Disadari atau tidak, keterbukaan itu dapat menumbuhkan gejala kepatuhan yang disebut sebagai kewibawaan. Hal ini terkait dengan kemajuan teknologi yang memungkinkan subyek didik mampu belajar sesuatu mendahului gurunya, bahkan lebih menguasai sesuatu, baik yang berhubungan dengan pengetahuan teoretis maupun keterampilan-keterampilan praktis. Paradigma belajar telah berubah dari “guru yang serbatahu” menjadi “guru yang kaya strategi”. Belajar tidak lagi merujuk pada pengoveran pengetahuan oleh guru. Berdasarkan paradigma baru dimaksud, belajar merujuk pada penyediaan fasilitas oleh guru agar siswa dapat belajar mengembangkan kompetensinya. Implikasinya adalah konsep belajar-mengajar diubah menjadi konsep pembelajaran.

Keadilan dan kejujuran merupakan cermin kebijaksanaan. Sikap bijaksana ditandai oleh, antara lain, kesadaran guru akan keterbatasan-keterbatasannya, sebagaimana kata Sokrates, bahwa orang yang bijaksana adalah orang yang tahu bahwa dirinya tidak tahu. Guru harus berada pada kutub yang jelas; benar-benar tahu, atau sebaliknya tidak tahu dan secara jujur mengatakan tidak tahu. Betapa naifnya jika seorang guru berada pada area abu-abu, yakni “merasa tahu” (padahal tidak tahu), dan lebih naif lagi kalau guru berlagak tahu/sok tahu. Sehubungan dengan itu, diperlukan keterbukaan guru, termasuk tidak merahasiakan sumber-sumber belajar yang dimilikinya.

  1. D.           Sikap yang dituntut

Dimensi etis terkait dengan sikap-sikap profesional yang melekat pada seorang guru. Sikap-sikap profesional dimaksud, antara lain: memiliki rasa tanggung jawab dan mencintai pekerjaan.

Tanggung jawab meliputi tanggung jawab profesional dan tanggung jawab sosial. Jika setiap profesi mempunyai fungsi pelayanan bagi pemenuhan kebutuhan masyarakat, maka tanggung jawab  profesional berorientasi pula pada tanggung jawab sosial. Guru yang profesional adalah guru yang memiliki kecerdasan sosial yang mencirikan integritasnya di tengah masyarakat sebagai perwujudan tanggung jawab sosial.

Sikap mencintai pekerjaan merupakan hulu dari sikap profesional lainnya. Jika demikian, maka sikap mencintai pekerjaan dapat disebut sebagai suatu keutamaan yang memandu setiap guru untuk menjalani profesinya secara sungguh-sungguh. Sebagai hulu dari keseluruhan sikap profesional, mencintai pekerjaan sangat dibutuhkan sebagai daya-dorong bagi terbentuknya semangat pengabdian dalam melaksanakan tugas-tugas profesional sebagai guru. Mencintai profesinya sebagai guru, berarti menemukan kebahagiaan hidupnya dari tugas mengajar dan mendidik. Jika demikian, maka bagi mereka yang “terpaksa” menjadi guru karena tidak ada pilihan pekerjaan lain, secara terpaksa pula menekuni pekerjaan sebagai guru hanya untuk mencari nafkah, dan bukan suatu cara hidup (a way of making money, and not a way of life).

Profesi yang mulia dan bermakna strategis bagi kemanusiaan dan kebangsaan menuntut wawasan kependidikan. Oleh karena itu wawasan kependidikan guru  menjadi titik sorot. Cara pikir, cara pandang, dan cara tindak guru hendaknya mengacu dan berorientasi pada penguatan profesi, yang pada gilirannya menjadikan guru sebagai sosok yang dipercaya, dihargai, dan diteladani.

TUGAS MATA KULIAH

TAXONOMI & ANALISIS OBYEKTIF PEMBELAJARAN

DOSEN PENGAMPU  : PROF. DR. I NYOMAN S. DEGENG, M.Pd.

SEBUAH REFLEKSI : MENGAJAR DENGAN HATI NURANI BALUTAN MEDIA CINTA

 

 

 

OLEH :

MOHAMMAD  SADALI

NIM : 090020179

KELAS  D

 

 

 

ROGRAM PASCASARJANA

MAGISTER TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA SURABAYA

Jl. Ngagel Dadi III-B/37 Surabaya Telp. (031) 5041190

TAHUN 2011

 


MENGAJAR DENGAN HATI NURANI BALUTAN MEDIA CINTA

Jika ini Cinta     

                                                                                               

Aku panggangkan diriku dalam lautan cinta

aku arungi jiwa ini dalam pengabdian cinta

aku singsingkan rongga-rongga dadaku untuk cinta

jika ini cinta

kuukirkan kalimat-kalimat ilmu di pusara otakmu

jika ini cinta

kutuntunkan langkahmu pada jalan ilahi ya robbi

jika ini cinta

kutanamkan kedermawanan hati tanpa batas

namun jika ini bukan cinta

sudinya kau bakar diriku dalam penyesalan tanpa ujung

 

            Dalam beberapa detik  mari kita bayangkan jauh saat kita duduk di bangku sekolah dasar. Kita cenderung mencitrakan seorang guru sebagai sosok yang lebih ditakuti daripada dihormati. Ada satu hal yang salah dalam pemikiran siswa kala itu, pikiran mereka akan berargumentasi “aku menghormatimu karena aku takut padamu”. Namun, siapakah yang yang secara sengaja atau tidak mendoktrin mereka seperti itu?.

Profesi guru seharusnya bukan hanya sebagai bentuk profesi dari tuntutan ekonomi semata, karena jika kita mendalaminya maka amanah dan tanggung jawab besar menanti depan mata. Jika guru menjadi panggilan jiwa maka tiada salahnya mengajar dengan cinta. Teori-teori mengajar dengan cinta mengalami perkembangan yang harus kita sadari telah berubah. 20-30 tahun yang lalu seorang siswa dihukum dengan pukulan cinta seorang guru, hal itu sah-sah saja. Para orang tuapun sudah sangat pasrah kepada sang guru. Namun, apakah sama jika kita lakukan saat ini ?.

Pengeksperisian cinta terhadap anaK didik menjadi tugas besar seorang guru. Saat ini, seorang guru bukan hanya menjadi seorang pengajar tetapi sekaligus sebagai teman, sahabat dan kakak bagi anak didik. Sehingga mindset yang harus ditanamkan dalam diri seorang guru adalah kesadaran bahwa tugasnya tidak hanya sebatas pendidik namun mampu mengayomi siswanya dengan baik.

Dalam pengkajian strategi pembelajaran modern, kita mengenal istilah Quantum Teaching. Dengan istilah bawalah dunia kita ke dunia mereka dan tariklah dunia mereka ke dunia kita. Quantum teaching sudah sangat jelas menyatakan bahwa budaya demokrasi juga harus dinikmati siswa. Mereka berhak memilih apa yang menurut mereka baik untuk dirinya. Untuk itu, peran guru sebagai pendekonstruksi pemikiran siswa harus dibangun sebagai salah satu mental yang urgent dimiliki oleh keprofesian guru.  Dalam teori komunikasi karya Little John bahwa komunikasi seseorang ditentukan berdasarkan main of frame dan Field of experience seseorang. Main of frame merupakan proses pengolahan informasi yang distimuluskan ke otak kita sedangkan field of experience didefinisikan sebagai pengalaman-pengalaman yang dimiliki seseorang dilingkungannya. Kesimpulannya,  banyak hal yang dikaji terhadap siswa kita Masalah yang selalu urgent dalam proses mengajar adalah proses komunikasi yang sesuai dengan kemauan siswa.

 

 

 

Untuk mendekonstruksi pandangan tersebut digambarkan dalam dua kasus berikut

Aktivitas Guru Guru A Guru B Respon siswa
Saat masuk kelas Cuek, langsung menanyakan PR, penghukuman Senyuman, sapaan, menanyakan kabar siswanya. Siswa menganggap guru A ditakuti dan Guru B sebagai sosok Sahabat.
Proses Mengajar Model ceramah, pemberian tugas, hukuman bagi siswa yang tidak mampu Strategi mengajar unik melalui media peraga, melalui cerita-cerita yang menyenangkan Guru A dianggap membosankan dan B dianggap mnyenangkan dengan inovasinya
Pemberian Motivasi Melalui hukuman Melalui pembicaraan interpersonal yang mendalam Guru A dianggap menakutkan, guru B dianggap sebagai sahabat untuk berbagi cerita.

Cinta guru merupakan delta dari sungai – sungai ketulusan dan keikhlasan. Cinta guru adalah zam-zam ditanah gersang. Namun perjalanan  seorang guru ibaratkan musafir padang sahara. Sesekali badai gurun akan menyapunya. namun saat dia masih berdiri dialah guru sejati, seorang guru yang mampu bekerja dengan hati nuraninya. Bekerja dengan media cinta.

Ekspresi cinta terhadap siswa tidaklah sulit. Sebuah film karya anak negeri dengan judul “sang pemimpi”, “laskar pelangi” dan sejenisnya telah membuka mata kita lebar-lebar bahwa peran guru dalam cerita itu adalah peran guru yang memperlakukan muridnya dengan penuh cinta, penuh kepedulian dan pengabdian yang tulus. Kondisi sekolah yang tidak memungkinkanpun tidak pernah melemahkan semangat sang guru dalam usaha melaksanakan amanahnya.

Sosok guru Indonesia haruslah seperti itu, ekspresi cinta itu sekali lagi tidaklah sulit. jadikan mereka sebagai seorang teman, sahabat dan anak yang baik untuk kita. Cukup tebarkan senyum yang mendamaikan. Sosok guru bukan lagi dihormati karena ditakuti, tetapi dihormati karena dicintai.