DIMENSI BELAJAR

Posted: 26 April 2011 in Tak Berkategori

INOVASI PEMBELAJARAN MELALUI OPTIMALISASI POTENSI DIRI DAN DIMENSI BELAJAR

Oleh

MOHAMMAD SADALI

ABSTRAK

Pembelajaran berpikir agar anak menjadi cerdas, kritis, dan kreatif, serta mampu memecahkan masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari adalah amat penting, karena itu kita membutuhkan pengetahuan tentang proses belajar utamanya adalah inovasi pembelajaran.Inovasi pembelajaran melalui optimalisasi potensi diri dan dimensi belajar adalah salah satu solusinya, karena potensi yang ada pada diri kita akan memberikan manfaat yang besar jika dikembangkan secara optimal. Optimalisasi potensi diri akan menjadikan kita kreatif, bersemangat dalam berinovasi, memiliki ketajaman analisis, selalu berusaha untuk menemukan peluang, terbuka terhadap hal-hal baru, bersemangat belajar, serta bercita-cita untuk mencapai tujuan pribadi yang mulia, demikian juga dengan Dimensi Belajar karena pembelajaran yang menggunakan dimensi-dimensi belajar itu sebagai premis pembelajaran. Pembelajaran yang berpusat pada lima dimensi itu, niscaya akan memberikan hasil yang lebih baik”

Kata kunci : potensi Diri, Dimensi Belajar

  1. A.    PENDIDIKAN KITA

Dunia Pendidikan kita saat ini banyak menghadapi tantangan diberbagai bidang kehidupan . Perkembangan ilmu Pengetahuan dan teknologi, khususnya dibidang informasi, komunikasi dan transportasi sangat pesat, penggunaan perkembangan teknologi tersebut masih banyak yang disalah gunakan oleh para siswa, dan masih banyak lagi masalah lain yang perlu membutuhkan penyelesaian diantaranya masalah demokrasi yang makin morat marit, masalah hak asasi manusia yang masih banyak KDRT dan penjualan anak dibawah umur, masalah keadilan dan keterbukaan dari para penyelenggara kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara

Rendahnya kecakapan berpikir para siswa masih menjadi keprihatinan masyarakat, terutama kalangan pendidik, masih kontrofersialnya ujian nasional yang nota bene pelaksanaan yang dimana-mana kebocoran soal dan lainnya masih marak. Para ahli Pendidikan mengatakan bahwa proses kegiatan belajar mengajar tradisional yang sampai sekarang masih dominan, belum mampu menumbuhkan kebiasaan berpikir produktif,yakni satu dimensi yang sangat penting dari dimensi belajar itu sendiri, sebagian besar pendidik belum menyusun secara serius pembelajaran yang didasarkan pada proses belajar, karena sebagian besar guru masih kurangnya pengetahuan tentang proses belajar, dan inovasi pembelaqjaran. Hasil belajar anakpun masih sebatas pada tingkat penyerapan informasi , belum mencapai pada tingkat pemahaman, apalagi padfa tingkat penerapan.

Masalah diatas tidak dapat dibiarkan , tetapi perlu dicari solusinya, salah satu solusi tersebut antara lain membuat “inovasipembelajaran melalui optimalisasi potensi diri dan dimensi belajar”.

  1. B.        PENGEMBANGAN POTENSI DIRI

Potensi diri adalah merupakan kemampuan , kekuatan,baik yang belum terwujud maupun yang sudah terwujud yang dimilki seseorang, tetapi belum sepenuhnya terlihat atau dipergunakan secara maksimal

Setiap orang yang dilahirkan ke dunia pastilah memiliki potensi diri merka masing masing. Namun sayangnya, jarang yang menyadari hal tersebut dan bahkan sering banyak yang merasa rendah diri karena menganggap dirinya tak mempunyai kemampuan lebih dibandingkan yang lainnya. Hal tersebut sungguhlah sangat disayangkan. Jarang kita sadari bahwa sebenarnya kendala terbesar manusia justru terletak pada pikiran kita masing masing. Orang yang dapat berpikir besar dan positif  biasanya dapat melakukan hal besar yang menjadi cita cita dan orang yang berpikir kecil dan cenderung negative akan mendapatkan hasil yang sebaliknya.

Potensi diri yang sangat besar dapat dimanfaatkan untuk mencapai kesuksesan, Menurut Prof. Dr. Imam Suyitno,M.Pd (dalam makalah Inovasi melalui optimalisasi diri,2009) potensi yang perlu dikembangkan  adalah :

  1. Potensi berpikir

Pikiran manusia memiliki potensi yang sangat dahsyat, semua produk didunia ini dijadikan, digerakkan, dan dimulai dari alam pikiran manusia. Potensi pikiran dan jiwa akan membantu mencari sasaran sesuai dengan takaran pikiran manusia itu sendiri. Manusia dapat mencapai sukses bukan karena raut mukanya, tetapi karana mental dan pikirannya, karena itu hindari karekteristik pemikir negative, tidak percaya diri, selalu bimbang dan ragu, lunak pada diri sendiri, takut tantangan, dan pasrah pada keadaan.

  1. Potensi menentukan pilihan

Salah satu rahasia kesuksesan adalah kemampuan menentukan pilihan. Hidup sesungguhnya adalah serangkaian pilihan yang dapat kita ambil setiap hari, setiap saat karena kita mempunyai hak dan tanggung jawab atas pilihan kita, satu-satunya hal yang tidak dapat kita hindari adalah membuat pilihan

  1. Potensi berhasrat

Potensi memenuhi keinginan merupakan potensi hasrat yang penuh keyakinan dan keberanian dalam memperjuangkan apa yang menjadi keinginan

  1. Potensi bertindak

Potensi melakukan tindakan merupakan potensi untuk melangkah dalam mencapai suatu target yang diinginkan.

Jika target sudah ditentukan, dan keyakinan untuk memperjuangkan sudah bergemuruh, mulailah melangkah. Jika target sudah ditentukan, tetapi kita tidak bertindak nyata karena takut gagal dan takut menanggung resiko, jangan katakana nasib anda jelek . Beranikan diri untuk mulai melangkah, jangan takut jatuh.

  1. Potensi berjuang

Potensi untuk berjuang yang dimaksud disini adalah kegigihan.

Kesuksesan hari ini tidak berarti  besok kita akan meraih sukses lagi. Tanpa kesiapan diri dan berjuang lebih keras, sukses akan sulit kita pertahankan. Begitu pula kegagalan hari ini, belum tentu besok kita gagal. Selama masih ada semangat untuk berbenah diri dan target besar untuk diraih, sukses besar selalu menanti kita. Kehidupan akan terus berubah. Hanya manusia yang mempunyai kegigihan dan sikap mental untuk belajar dan memperbaiki diri secara konsisten yang bias tetap eksis dan sukses dalam menghadapi setiap perubahan yang terjadi. Kegagalan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Kegagalan adalah sarana intropeksi diri untuk berusaha lebih keras karena kegagalan adalah bagian kecil dari sebuah kegagalan. Sukses sejati adalah akumulasi dari kegagalan-kegagalan yang mampu diatasi, yang terpenting bukan seberapa sering kita terjatuh dan gagal, tetpi seberapa gigih kita berjuang untuk mampu bangkit kembali, jangan takut menderita karena hanya penderitaan hidup yang dapat mengajarkan kepada manusia akan arti keindahan dan nilai kehidupan

  1. Potensi berkribadian

Potensi kepribadian bberpengaruh besar terhadap kesuksesan.

Kita harus kaya mental yakni tantangan, berkompetensi, penuh tanggung jawab, disiplin., cinta pada pekerjaann, penuh loyalitas dan dedikasi, mau bekerja keras, mudah bekerja sama, antusias , ulet, dan pantang menyerah.

  1. Potensi berkomitmen

Potensi komitmen berarti potensi untuk berani memperjuangkan target besar yang dibuat sampai sukses, komitemn untuk melangkah dan menjalankannya.

Sejumlah potensi yang ada pada diri kita akan memberikan manfaat yang besar jika dikembangkan secara optimal. Optimalisasi potensi diri akan menjadikan kita kreatif, bersemangat dalam berinovasi, memiliki ketajaman analisis, selalu berusaha untuk menemukan peluang, terbuka terhadap hal-hal baru, bersemangat belajar, serta bercita-cita untuk mencapai tujuan pribadi yang mulia, namun yang sering terjadi kita didominasi oleh kebiasaan diri yang lemah. Kita sering membiarkan diri kita untuk kurang disiplin, tidak focus, kurang konsisten, tidak berani mencoba atau tidak berani ambil resiko. Pada kasus ini potensi-potensi diri yang istimewa sulit berkembang karena kelemahan-kelemahan yang tidak bias dikendalikan atau dikelola dengan baik.

Menurut Adi W. Gunawan dalam (www.adiwgunawan.com).Ada lima kekuatan yang bisa digunakan untuk mengembangkan potensi diri.

  1. Kekuatan Keyakinan atau The Power of Belief. Keyakinan adalah fondasi untuk melakukan apa saja. Kita baru akan bertindak bila kita merasa yakin mampu melakukan sesuatu. Jika tidak yakin maka upaya yang kita lakukan akan dikerjakan dengan setengah hati. Dan kita tahu, apapun yang dilakukan dengan setengah hati, tanpa kesungguhan, maka hasilnya pasti tidak akan pernah maksimal. Seringkali upaya kita, jika diawali dengan perasaan tidak yakin, akan berakhir dengan kegagalan. Yakin yang dimaksudkan di sini adalah yakin yang berlandaskan kebijaksanaan dan akal sehat.
  2. Kekuatan Semangat atau The Power of Enthusiasm. Yang menjadi komponen atau bagian dari Kekuatan Semangat adalah konsistensi, persistensi, kegigihan, atau whatever it takes.Tindakan yang dilandasi dengan suatu keyakinan yang teguh, bahwa kita pasti bisa berhasil, pasti akan dilakukan dengan penuh semangat. Semangat ini sebenarnya adalah motivasi intrinsik atau dorongan bertindak yang berasal dari dalam diri kita. Kekuatan Semangat ini yang membuat seseorang akan terus mencoba walaupun telah gagal berkali-kali. Kekuatan Semangat ini yang mendasari peribahasa “Tidak ada yang namanya kegagalan. Yang ada hanyalah hasil yang tidak seperti yang kita inginkan”, “Winners never quit. Quitters never win”, “Tidak penting berapa kali anda jatuh, yang penting adalah berapa kali anda bangkit setelah anda jatuh.”
  3. Kekuatan Fokus atau The Power of Focus. Fokus berarti kita hanya melakukan hal-hal yang memang berhubungan dengan target yang ingin kita capai. Pikiran kita menjadi sangat tajam, terpusat, seperti sinar laser yang siap untuk menembus berbagai penghalang. Kita tidak akan membiarkan berbagai cobaan atau distraksi membuat pikiran atau kegiatan kita menyimpang dari tujuan semula.
  4. Kekuatan Kedamaian Pikiran atau The Power of Peace of Mind. Kekuatan keempat ini sangat penting diperhatikan karena ini merupakan barometer untuk menentukan apakah keyakinan kita terhadap sesuatu itu ekologis atau tidak.
  5. Kekuatan Kebijaksanaan atau The Power of Wisdom. Kekuatan ini sangat penting karena digunakan untuk melakukan evaluasi terhadap apa yang telah kita lakukan.Dengan menggunakan kebijaksanaan kita dapat melakukan evaluasi dengan baik, benar,akurat, dan tanpa melibatkan emosi. Jika hasil yang dicapai belum seperti yang kita inginkan maka dengan menggunakan kebijaksanaan kita dapat mengetahui permasalahannya dan dapat meningkatkan diri kita.
  1. C.    DIMENSI BELAJAR

Dimensi Belajar merupakan metafora tentang bagaimana otak bekerja selama orang belajar. Dimensi belajar ini terdiri atas lima tipe berpikir yang bersifat interaktif, yaitu sikap dan persepsi positif terhadap belajar, pemerolehan dan pengitegrasian pengetahuan, perluasan dan penghalusan pengetahuan, penggunaan pengetahuan secara bermakna, dan kebiasaan berpikir produktif. Pembelajaran yang menggunakan pendekatan model Dimensi Belajar adalah pembelajaran yang menggunakan dimensi-dimensi belajar itu sebagai premis pembelajaran. Pembelajaran yang berpusat pada lima dimensi itu, niscaya akan memberikan hasil yang lebih baik.

Dimensi belajar dalam Adi Rahmat pertama kali diperkenalkan oleh Robert J Marzano tahun 1992 dalam bukunya yang berjudul A different kind of  classroom. Ada 5 dimensi belajar  yaitu :

  1. Mengembangkan Sikap dan Persepsi Positif

Mudah untuk dipahami bahwa sikap dan persepsi si belajar sangat mempengaruhi proses belajar. Sikap dapat mempengaruhi belajar secara positif, sehingga belajar menjadi mudah, sebaliknya sikap juga dapat membuat belajar menjadi sangat sulit.

Ada dua kategori sikap dan persepsi yang mempengaruhi belajar:

  1.  sikap dan persepsi tentang iklim (suasana) belajar,
  2. sikap dan persepsi terhadap tugas-tugas kelas.

Guru yang efektif memberikan penguatan terhadap kedua kategori itu dengan teknik yang jelas dan sesuai.Guru seyogyanya membantu menumbuhkan sikap dan persepsi siswa yang positif terhadap iklim belajar dengan menekankan aspek-aspek internal siswa (suasana mental yang kondusif) daripada aspek-aspek eksternal. Guru dapat membantu menumbuhkan sikap dan persepsi yang positif terhadap tugas-tugas kelas dengan cara memberikan pemahaman akan nilai tugas, kejelasan tugas, dan kejelasan sumber.

  1. Belajar untuk Pemerolehan dan Pengintegrasian Pengetahuan Ahli psikologi kognitif memandang belajar sebagai proses interaksi yang tinggi dalam membangun makna secara personal dari informasi yang diperoleh dengan pengetahuan yang sudah ada menjadi pengetahuan baru. Menerima pengetahuan melibatkan proses interaksi antara apa yang sudah diketahui dengan apa yang ingin dipelajari, dan setelah itu mengintegrasikan informasi tersebut menjadi langkah-langkah sederhana yang mudah digunakan.
    Menurut E.D. Gagne (1985), pengetahuan dapat dikategorikan menjadi dua, yakni pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Banyak ahli yakin bahwa pemerolehan tipe pengetahuan yang berbeda memerlukan proses yang berbeda pula.
  2. Perluasan dan Penghalusan Pengetahuan Pada dimensi ini aspek-aspek belajar melibatkan pengujian apa yang diketahui agar mencapai tingkat yang lebih dalam dan analitis.

Kegiatan memperluas dan memperhalus pengetahuan ini dilakukan dengan:

  1.  comparing (identifikasi dan artikulasi hal-hal atau benda-benda yang mirip dan berbeda),
  2. classifying (pengelompokan jenis-jenis benda ke dalam kategori berdasarkan atribut dasarnya),
  3. inducing (pendugaan prinsip-prinsip atau generalisasi yang belum diketahui dari observasi atau analisis),
  4. deducing (pendugaan kondisi yang belum ternyatakan dari prinsip-prinsip atau generalisasi tertentu),
  5.  analyzing error (identifikasi dan artikulasi kesalahan di dalam pikiran sendiri maupun orang lain),
  6. constructing support (pengkostruksian sistem dukungan kebenaran atau bukti untuk suatu pernyataan yang tegas),
  7. abstracting (identifikasi dan artikulasi tema penting atau pola umum suatu informasi), dan
  8. analyzing perspetive (identifikasi dan artikulasi perspektif personal tentang berbagai macam isu).

4    Belajar Menggunakan Pengetahuan secara Bermakna. Pada umumnya kita belajar dengan baik jika pengetahuan yang kita pelajari itu diperlukan untuk mencapai suatu tujuan. Keberadaan tujuan umum akan dicapai dengan cara-cara umum di mana kita menggunakan pengetahuan itu secara bermakna.

Cara guru membantu siswa agar dapat menggunakan pengetahuan secara bermakna dilakukan dengan:

  1. Decision making, yaitu suatu proses menjawab pertanyaan .
  2. Investigation; ada tiga tipe dasar investigasi, yakni definitional investigation yang meliputi pemerolehan jawaban atas pertanyaan, historical investigation meliputi pemerolehan jawaban atas pertanyaan, dan projective investigation yang meliputi pemerolehan jawaban atas pertanyaan.
  3. Experimental inquiry, yaitu proses memperoleh jawaban atas pertanyaan
  4. Problem solving, yaitu menjawab pertanyaan
  5. Invention, yaitu proses penciptaan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan;

5        Mengembangkan Kebiasaan Berpikir Produktif. Dimensi ini menumbuhkan kebiasaan mental untuk dapat berpikir secara produktif yang ditandai dengan:

  1.  self-regulated thinking and learning, yakni kebiasaan mengetahui apa yang sedang dipikirkannya, tindakan yang terencana, mengetahui sumber-sumber yang penting, sensitif terhadap umpan balik, dan evaluatif terhadap keefektifan tindakan;
  2. critical thinking and learning, yang dicirikan oleh tindakan yang cermat, jelas, terbuka, bisa mengendalikan diri, sensitif terhadap tingkat pengetahuan; dan
  3. creative thinking and learning, yang ditandai oleh semangat tinggi, berusaha sebatas kemampuan, percaya diri, teguh, dan menciptakan hal-hal atau cara-cara baru.

Cara membantu siswa mengembangkan dan memelihara kebiasaan berpikir produktif adalah dilakukan dengan: menumbuhkan sikap kebiasaan berpikir produktif, kebiasaan berpikir yang diantarkan dengan mengintegrasikan ke dalam tugas-tugas di kelas.

Kepustakaan

Gagne, E.D. 1985. The Cognitve Psychology of School Learning. Boston: Little, Brown, and Company.

Gunawan Adi W ,”lima kekuatan untuk optimalisasi potensi diri” Tersedia pada: (www.adiwgunawan.com) , diakses pada  tanggal 2 Agustus 2010

Rahmat Adi,2007, lerning dimension Based teaching,Balitbang-Depdiknas

Suyitno Imam, Prof,Dr,M.Pd,2009, Inovasi Pembelajaran, makalah lokakarya Nasional

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s